Opini

Opini

Belanja Pemda Tak Boleh Tertahan: Jika Lambat, Ekonomi Bisa Macet

ruminews.id- Pemangkasan anggaran oleh pemerintah pusat pada awal 2025 menambah tantangan bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi. Dengan keterbatasan daya fiskal, daerah harus tetap memastikan peredaran uang di masyarakat berjalan lancar agar konsumsi rumah tangga tidak melemah. Jika belanja pemerintah daerah tertahan, bukan hanya sektor barang dan jasa yang terdampak, tetapi juga lapangan kerja dan daya beli masyarakat. Di sisi lain, kewajiban mengalokasikan anggaran untuk program makan bergizi gratis semakin mempersempit ruang gerak fiskal daerah. Situasi ini menuntut kepala daerah untuk lebih adaptif dalam mengelola kas dan mempercepat distribusi belanja di triwulan pertama tahun ini. Pemerintah pusat telah mengumumkan kebijakan pemangkasan anggaran belanja negara sebagai bagian dari langkah pengendalian defisit fiskal pada awal tahun 2025. Kebijakan ini berimbas langsung pada pemerintah daerah, termasuk di Provinsi Sulsel. Dengan berkurangnya transfer dana pusat, pemerintah daerah dituntut untuk menemukan strategi agar perputaran ekonomi di wilayahnya tetap berjalan dan tidak memicu stagnasi di sektor barang dan jasa. Meskipun mengalami pemotongan anggaran, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk menjaga stabilitas ekonomi di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Hal ini penting untuk memastikan konsumsi rumah tangga tetap terjaga, menghindari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), serta mempertahankan daya beli masyarakat. Tulisan ini dihadirkan sebagai tanggapan atas keluhan masyarakat, khususnya para penyedia barang dan jasa yang selama ini sangat bergantung pada serapan belanja pemerintah. Mereka khawatir, kebijakan pemangkasan anggaran ini akan mengurangi kemampuan perusahaan untuk membayar gaji karyawan, yang berpotensi memicu gelombang PHK massal. Kami sangat khawatir jika belanja pemerintah tertahan, kami terancam tidak bisa mempertahankan tenaga kerja. Dampaknya akan sangat besar pada daya beli masyarakat,” ungkap salah satu penyedia jasa akomodasi di Makassar. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah arus kas pemerintah daerah di awal tahun 2025. Setelah kewajiban pembayaran gaji pegawai negeri sipil (PNS) direalisasikan, arus kas harus tetap terdistribusi ke masyarakat melalui berbagai program belanja daerah. Belanja pemerintah tidak boleh ditahan menunggu momentum di bulan tertentu, sebab triwulan awal tahun ini menjadi fase krusial bagi peredaran uang di masyarakat. Selain itu, pemerintah daerah juga dihadapkan pada tantangan baru dalam pengelolaan anggaran, yakni kewajiban untuk mengalokasikan anggaran program makan bergizi gratis. Program ini sebelumnya tidak termuat dalam APBN 2025 dan Peraturan Daerah (Perda) APBD 2025, sehingga seluruh pemerintah daerah harus melakukan perubahan Peraturan Kepala Daerah (Perkada) Penjabaran APBD agar program tersebut dapat diimplementasikan. Pemangkasan anggaran dan tambahan beban pengeluaran ini mempersempit ruang fiskal daerah. Di tengah pemotongan anggaran dari pusat, pemerintah daerah masih harus mengalokasikan anggaran untuk makan bergizi gratis. Ini menjadi tantangan besar, terutama bagi daerah dengan pendapatan asli daerah (PAD) yang terbatas. Karena itu, strategi pengelolaan kas daerah harus lebih adaptif agar belanja tetap efektif dan ekonomi tetap bergerak Sebagai contoh Pemerintah Sulawesi Selatan segera mengkaji langkah-langkah strategis untuk menghadapi kondisi ini. Beberapa upaya yang dipertimbangkan di antaranya adalah optimalisasi sektor pariwisata, percepatan realisasi proyek infrastruktur berbasis kemitraan dengan swasta, serta pemberian insentif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar tetap berproduksi dan menjaga daya serap tenaga kerja. Pemangkasan anggaran tidak akan menghambat pembangunan daerah. Pemda harus memastikan agar distribusi belanja tetap tepat sasaran dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal ini merupakan salah satu opsi mempertahankan daya beli masyarakat serta mendukung UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Karena itu, arus kas pemerintah harus segera beredar ke masyarakat sejak awal tahun. Di sisi lain, pemda juga harus melakukan penyesuaian anggaran agar program makan bergizi gratis bisa terlaksana sesuai arahan pemerintah pusat. Sejumlah Pj kepala daerah di kabupaten/kota didorong mulai mencari solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi di wilayahnya. Salah satu langkah yang diusulkan adalah penguatan program padat karya untuk memastikan perputaran uang di masyarakat tetap berjalan. Mengoptimalkan potensi unggulan semisal di provinsi Sulawesi Selatan terhadap sektor pertanian dan perikanan melalui bantuan teknologi dan akses pasar yang lebih luas. Kebijakan pemangkasan anggaran ini menjadi tantangan bagi daerah, namun bukan berarti pembangunan dan pertumbuhan ekonomi harus terhenti. Dengan strategi yang tepat, pemerintah daerah masih bisa menjaga keseimbangan fiskal tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat. Arus kas yang sehat dan tepat sasaran sejak awal tahun menjadi kunci agar ekonomi tetap bergerak dan tidak terjebak dalam perlambatan, sementara alokasi anggaran untuk program baru seperti makan bergizi gratis harus dikelola dengan cermat agar tidak mengorbankan sektor lain yang juga penting bagi perekonomian daerah.

Opini

Resonansi Positif : Rahasia Meningkatkan Hubungan Emosional dengan Pasangan dan Keluarga.

ruminews.id- Positivity Resonance atau Resonansi Positivitas atau Kesesuaian Positif adalah istilah yang diperkenalkan oleh Barbara Fredrickson dalam penelitian tentang emosi positif dan koneksi sosial. Konsep ini mengacu pada pengalaman emosi positif yang muncul dan saling berbagi antara dua atau lebih individu, menciptakan hubungan yang harmonis, saling menghargai, dan mendalam. Dalam konteks ini, resonansi positif tidak hanya memperkuat hubungan emosional tetapi juga memengaruhi kesejahteraan fisik dan psikologis. Kesesuaian positif menggambarkan interaksi singkat namun bermakna yang bisa memperkuat hubungan sosial dan membawa manfaat besar bagi kesehatan fisik, emosional, dan psikologis. Kesesuaian positif terjadi ketika dua orang merasakan kebahagiaan atau perasaan baik yang sama pada saat yang bersamaan. Misalnya, saat tertawa bersama karena lelucon lucu, merasakan kehangatan saat berbagi pelukan, atau sama-sama merasa bahagia melihat sesuatu yang indah. Ini adalah momen ketika perasaan positif saling terhubung dan mempererat hubungan. Saat sesuai secara positif, maka tubuh dan respons kita selaras dengan orang lain dan kita merasa terhubung. Misalnya, ketika berbicara dengan seseorang dan tanpa sadar saling meniru gerakan atau ekspresi wajah, tertawa bersama pada waktu yang sama, atau bahkan bernapas dengan ritme yang mirip. Ini adalah tanda bahwa kita dan orang tersebut benar-benar “nyambung” secara fisik dan emosional, dimana tubuh juga ikut berkomunikasi satu sama lain. Yang terjadi kemudian adalah hubungan timbal balik. Ada rasa saling peduli antara dua orang. Keduanya merasa dihargai dan penting satu sama lain. Misalnya, saat kita mendengarkan cerita pasangan dengan penuh perhatian, dan dia juga mendengarkan kita dengan tulus ketika giliran kita berbicara. Hubungan ini terasa hangat karena kita dan pasangan sama-sama terhubung dan saling memberi perhatian yang tulus. Momen ketika kita berbagi emosi positif dengan orang lain ternyata berdampak langsung pada tubuh kita. Ketika kita merasa senang atau terhubung dengan seseorang, maka tubuh menjadi lebih rileks, dan tekanan darah kita cenderung menurun. Ini baik untuk kesehatan jantung kita. Sistem imun kita menjadi lebih kuat karena merasakan emosi positif, membuat tubuh kita secara alami menjadi lebih tangguh dalam melawan penyakit. Hal ini terjadi karena emosi seperti kebahagiaan, cinta, atau rasa terhubung memicu pelepasan hormon-hormon “baik” seperti oksitosin dan endorfin. Hormon-hormon ini membantu mengurangi stres dan meningkatkan aktivitas sel-sel imun yang bertugas melindungi tubuh dari virus, bakteri, atau ancaman lainnya. Momen-momen interaksi positif dengan orang lain, seperti berbicara, berbagi cerita, atau tertawa bersama, membantu tubuh untuk lebih rileks dan mengelola stres. Ketika kita merasa bahagia atau tenang, maka tubuh memproduksi lebih sedikit hormon stres, sehingga risiko penyakit seperti diabetes atau gangguan jantung bisa menurun. Fredrickson menekankan pentingnya hadir dalam momen interaksi untuk menciptakan koneksi yang otentik. Ini sesuai dengan penelitian yang menunjukkan bahwa ketika kita sepenuhnya hadir dalam percakapan, kita lebih mungkin merasakan momen positivity resonance. Saat berbicara dengan seseorang, fokuslah sepenuhnya pada mereka. Jangan terganggu oleh ponsel atau pikiran lain. Tunjukkan bahwa kita mendengarkan dengan kontak mata, anggukan kepala, atau senyuman. Dalam penelitiannya, Fredrickson menyatakan bahwa mendengarkan dengan penuh perhatian dan empati meningkatkan kualitas hubungan sosial, yang penting dalam menciptakan resonansi positif. Saat seseorang sedang menghadapi masalah, dengarkan dengan empati tanpa langsung memberikan saran kecuali diminta. Jadilah pendengar aktif – dengarkan tanpa menghakimi dan tunjukkan bahwa kita peduli. Menerapkan prinsip positivity resonance dalam hubungan dengan pasangan dan anak dapat mempererat ikatan emosional dan memperdalam koneksi. Pasangan maupun anak akan merasa lebih dihargai dan terhubung. Ini tidak hanya meningkatkan kebahagiaan keluarga, tetapi juga dapat menurunkan tingkat stres, menciptakan rumah yang lebih harmonis, dan memberikan manfaat kesehatan mental serta fisik bagi semua anggota keluarga. Secara keseluruhan, dengan lebih sering mengalami positivity resonance dalam interaksi sehari-hari, hubungan dengan pasangan dan anak akan semakin erat, penuh kasih sayang, dan harmonis. @pakarpemberdayaandiri

Opini

Miladul Khaer ke 78, Himpunanku

ruminews.id- Dahulu di Baghdad ada seorang Ibu yang membawa anaknya untuk belajar pada Imam Junaid al-Baghdadi, beliau adalah sufi besar pada masanya. Ia memohon pada Junaid untuk mengajari zuhud dan ilmu keagamaan lainnya, kepada anaknya. Di tinggalkan Putranya di situ dan disediakan segala yang dibutuhkan. 2 tahun berselang, kembali ibu ini menjenguk putranya. Ia terkejut ketika menemukan putranya tengah membasuh baju, mengelap lantai dan membersihkan toilet. Ia marah besar. Kepada Junaid dan ia berkata, “saya tidak mengirimkan anak saya untuk dijadikan pembantu”. Junaid hanya menjawab singkat “selama ia belum bisa mengikis kesabaran dan keangkuhan dirinya, ia tidak bisa melangkah lebih lanjut mengikuti pelajaranku”. Cerita ini sedikit banyak ada korelasinya dengan proses kita di HMI dan tentu sistem perkaderan lainnya juga. Sebagai anggota baru di HMI kadang kita mengerjakan sesuatu diluar dari keinginan dan kapasitas kita, tapi sadar atau tidak itu adalah awal dari rangkaian proses yang harus di lalui. Banyak orang yang tidak tahan dengan proses ini, lalu pergi meninggalkan segala ceritanya. Tapi tak sedikit yang bersungguh-sungguh mengikuti proses dan menang melawan seleksi alam. Pilihan berproses di HMI haruslah menjadi tangga yang wajib dilalui hingga menjadi sukses, pilihan agar orang terbentuk pribadinya, menjadi cerdas spiritualitasnya. Pilihan yang menempatkan keyakinan sebagai senjata dalam melewati segala badai. Meyakinkan dirinya bahwa Allah tidak akan membiarkan insan yang berkualitas terlantar dan sia-sia. Karena Dia Maha Tahu siapa yang sudah pantas mendapatkan anugrah-Nya. Salah satu inspirasi terbesar yang harus dipelajari semua yang tengah dan telah berproses di HMI adalah kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW yang selalu relevan dengan semua orang yang tengah berproses menjadi lebih baik. Terutama bagi kader-kader HMI yang tengah berproses melewati anak tangga perkaderan. Rasulullah SAW menjadi manusia besar yang dipilih menjadi utusan Allah tentu bukan dengan persiapan yang hadir secara tiba-tiba. Nabi muda telah bekerja mandiri sejak usia beliau 15 tahun, menggembala domba : yang ternyata hikmahnya pun luar biasa. Setidaknya, kata Ibnu Hajar Al Asqolani, Rasulullah muda dididik Allah sebagai penggembala domba dengan hikmah istimewa : agar terbiasa dengan kesepian, supaya memiliki sifat yang rendah hati, dan punya gambaran bagaimana cara memenej perasaan. Rasulullah menjadi manusia hebat karena bersungguh-sungguh dan menikmati segala proses yang dilalui. Kita disuguhkan kisah perjuangan Nabi yang 23 tahun ; panjang dan penuh tantangan. Hal ini agar kita sebagai ummatnya tahu bahwa berproses adalah cara kita mengimani sunnatullah. Allah adalah Rabb yang Maha bijaksana, Al Hakim. Dia menetapkan sebuah sistem dimana siapapun yang ingin berjaya; janganlah ia nafikan proses. kata Syaikh Hasan Diddou, “Salah satu tiang yang menyangga kesuksesan Rasulullah adalah berlevel dan berproses”. Mentalitas dan kualitas diri hanya bisa didapatkan dari kesungguhan melalui proses panjang. HMI adalah salah satu wadah yang disediakan, 78 tahun yang lalu oleh Ayahanda Lafran Pane, Dkk agar siapapun yang masuk di dalamnya harus berproses secara baik, di tempat ini kita dididik menjadi kader yang siap mengemban amanah ke-umatan dan ke-bangsaan. Warisan terbaik dalam hidup adalah berbuat kebaikan, dan HMI adalah satu dari sekian sarana untuk berbuat baik pada banyak orang. Melayani orang yang pantas dilayani. Dalam berproses jangan pernah merasa ada yang memaksa untuk menyerahkan kebaikan. Bersihkan tangan kita dari mendapatkan segala sesuatu dari hasil yang tidak baik saat berproses. Sebab apapun kehebatan yang didapatkan dari hasil dan proses yang tidak baik, akan mengantarkan siapapun pada akhir yang tidak bahagia. Jangan sia-siakan kesempatan saat sedang menempa diri di HMI, berproseslah dengan baik dan kaffah, pada akhirnya nanti kita akan tahu betapa nikmatnya ber-HMI. Dalam sofisme moderen, ada yang disebut ecstasy, bisa jadi kita pernah berada dalam keasyikan-keasyikan seperti itu di HMI. Sampai-sampai nyaris lupa selesai Kuliah, Untunglah tiap hari kena semprot dari orang tua. Sekarang menurut saya, HMI harus menarik ghiroh masa lalunya untuk menemukan bentuk pergolakannya hari ini. HMI saat ini seperti kehilangan Common Enemy. Dari tahun 1947 hingga era 80-an dan awal reformasi, HMI selalu menemukan momentum dan dinamika. Selalu ada gerakan dan diskursus yang mengandaikan HMI bergerak dari satu titk ke titik lain. Menjadi dinamik ! Kalau awal mula berdiri HMI punya basic demand, maka sekarang HMI mesti bertanya pada dirinya, apa basic demand HMI hari ini?. Dulu, ada terminologi yang paling agresif di HMI, “bergerak atau kafir?”. Saya di tuturkan oleh senior saat berada di kupang. Sekarang, HMI seakan bergerak, tapi dalam paroki yang amat sempit. HMI tampak sibuk dengan dirinya. Sibuk menyatukan patahan-patahan kecil, hanya karena goncangan ringan di sekitar dengan amplifikasi politik kekuasaan yang remeh temeh. Ingat, HMI pernah melewati goncangan ideologis. Efek goncangan ideologis itu, membelah HMI dalam dua lempengan besar. Efek residunya masih ada hingga hari ini. Itu ujian kekuasaan. HMI mestinya lebih matang dengan situasi demikian. Hari-hari ini, fragmen-fragmen sosial itu menganga lebar, Di depan mata kader HMI. Dikotomi-dikotomi sosial seakan difasilitasi politik kekuasaan. Pilar-pilar demokrasi menjadi lumpuh total. Sumber daya politik dan ekonomi serta sirkulasinya, hanya bergerak di sekitar sekelompok kecil elit yang menguasai 80% sumber daya ekonomi. Demokrasi mengalami konglomerasi. Ruh dari pada aktivisme politik menjadi pudar dan transaksional. HMI mesti secara cepat mereformulasi apa basic demand-nya hari ini !. Dari Narasi diatas, perjalanan saya terasa begitu panjang dan makin menemukan titik-titik rumitnya. Entah pemikiran saya yang makin menemukan relevansi kekinian yang kompleks, atau jangan-jangan pikiran ini tak lazim, tidak berguna hingga sepi dalam keramaian. Oleh RAIS SYUKUR TIMUNG – NALAR PINGGIRAN

Opini

Milad HMI 78 Tahun : Kritik adalah Senjata

ruminews.id-, Sulsel, Indonesia adalah sebuah negara kepulauan, yang berdiri atas dasar persatuan dan kesatuan, memiliki banyak perbedaan baik ras, suku dan agama. Indonesia adalah sebuah bangsa yang merdeka. Sejarah nusantara mencatat bahwa dalam setiap nadi para revolusioner mengalir darah perjuangan untuk menghadapi dan berperang melawan penjajah sangat luar biasa. Jenderal-jenderal yang gagah berani berguguran, tidak hanya itu saja, rakyat biasa pun ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tidak takut akan kebengisan para penjajah, karena bagi mereka perjuangan membela NKRI adalah harga mati. Namun, melihat kondisi saat ini, cita-cita para leluhur sedikitnya telah memudar, masuknya faham-faham barat tersebut yang mulai mempengaruhi tatanan budaya kehidupan sehari-hari. Terlebih bagi para pemeluk agama Islam. Islam dalam ajarannya adalah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Artinya meniadakan tuhan-tuhan melainkan Tuhan yaitu Allah. Meyakini ada tuhan lain saja tidak boleh (Kafir) apalagi meyakini tidak adanya tuhan dalam kehidupan (atheis). Secara individu, seseorang bertanggungjawab atas dirinya, memiliki keyakinan bahwa adanya Tuhan adalah mutlak. Melakukan ibadah adalah caranya berikhtiar terhadap segala ketentuan dari Tuhannya. Sebagai seorang Khalifah (wali pengganti) Tuhan, maka ia harus menjaga hubungannya dengan Tuhan (hablumminallah), berusaha menjadi pribadi yang baik sebagai hamba didunia, dan segala sikap dan perbuatan atasnya itu ganjaran. Karenanya, tugas sebagai individu adalah menjadikan diri berguna sebagai anggota masyarakat. Sebagai seorang individu adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, memiliki hubungan dan memberikan pengaruh yang baik terhadap sesama manusia (hablumminannas). Selain itu juga seorang manusia harus memiliki hubungan dan memberikan pengaruh yang baik terhadap lingkungan sesama makhluk ciptaan (hablumminal alam). Sebagai warga negara, sudah tentu semua masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dari negara dan memiliki kewajiban untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi negaranya. John Fenneral Kennedy (1961) mengatakan don’t ask what your country can do for you, but ask what you can do for your country, (jangan tanya apa yang bisa negara berikan untukmu, tapi tanyakanlah pada dirimu apa yang dapat kau lakukan untuk negaramu). Selanjutnya, sebagai atensi untuk negaranya,seorang warga negara dapat menyumbangkan ide-ide atau gagasan guna menjadi solusi bagi permasalahan negara yang terjadi, atau mengambil peran dengan bergabung bersama perkumpulan atau kelompok yang memiliki tujuan tertentu yang disebut organisasi. Organisasi yang dipilih atau dibentuk harus menjadi wadah transfer ilmu atau eksistensi diri menjadi lebih baik lagi. Seperti halnya organisasi Himpunan Mahasiswa Islam(HMI). HMI yang memiliki landasan yang jelas, target dan tujuan HMI adalah untuk mencetak dan meregenerasi kadernya menjadi kader intelektual, memiliki leadership skills yang berlandaskan pada ketuhanan dengan Alqur’an dan Alhadits sebagai pedoman. Dengan segala kontroversi yang pernah terjadi karena dianggap tidak berazaskan tunggal yaitu Pancasila, maka azas Islam sebelumnya juga pernah membuat perpecahan pada tubuh organisasi ini sendiri, terpecahnya HMI menjadi HMI DIPO (HMI bersekretariat di Jalan Diponegoro) yang mengganti azas landasan tersebut menjadi pancasila dan HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi)tetap dengan azas islam. Meskipun HMI DIPO mengubah azasnya, namun tidak pernah mengubah substansi dari arah perjuangannya. Azas Islam itu sendiri yang sampai saat ini masih digunakan sebagai pedoman itu dituangkan dalam kertas kerja bernama Nilai Dasar Perjuangan (NDP) karya intelektual dari Nurcholis Madjid (Cak Nur). NDP mengatur dan memberikan pedoman bagaimana memahami konsep ketuhanan dalam HMI. Dengan NDP pula, kader-kader diberikan arah untuk berpikir secara intelektual, objektif, kreatif, inovatif dan juga kritis karena ia adalah kader akademik. Bersikap dan bertindak sesuai dengan norma dan syariat yang berlaku karena ia adalah seorang muslim yang bernafaskan islam. Bertanggungjawab atas dirinya, orang lain dan juga organisasinya karena ia adalah  insan yang bertanggung jawab, semuanya atas landasan menjadi Insan kamil yang diridhai Allah SWT. Dinamika Internal Himpunan Mahasiswa Islam telah tumbuh dan berkembang layaknya seorang anak dari pangkuan ibu pertiwi, Rezim demi rezim telah dilalui hingga tak terhitung lagi sumbangsihnya kepada negeri, selain daripada yang telah dijelaskan pada muqaddimah tulisan ini secara garis besar HMI telah “berubah” bak organisasi yang sangat elegan, kaum elitis dan dikelilingi “Privilege” tak jarang mendekat dengan kader-kader hijau hitam, bukan sekadar dekat melainkan “sharing” dan bertukar pikiran terkait konsepsi kenegaraan , kemahasiswaan dan keislaman untuk memberikan gagasan yang pantas untuk memajukan Negara Indonesia tercinta ini. Namun kita ketahui bahwa Organisasi ini adalah tempat belajar dan berkiprah yang sangat jelas, pembentukan karakter serta ritme komunikasi dikedepankan, bukan tidak mungkin pertentangan ideologi bahkan kepentingan acapkali menjadi objek sengketa organisasi, gagasan demi gagasan yang berlandaskan Konstitusi menjadi hal yang tiap saat diperdebatkan dikalangan struktural Himpunan Mahasiswa Islam, sudah betul bahwa organisasi ini telah menua. Berangkat dari hal itu, bahwa kader hmi tak pernah larut dalam pertentangan tersebut karena bahi kader HMI ini adalah proses yang sangat penting sebagai wadah pembentukan mental dan karakter, seperti yang sering dikatakan oleh para penggiat perkaderan “jika proses adalah luka, maka bertahan adalah cinta”. Mungkin itu kenapa kader HMI selalu eksis disetiap kontestasi. HMI adalah Senjata. Senjata bukan sekadar senjata yang kita maksud sebagai pembunuh atau alat menyakiti ke orang lain, namun “senjata” ini dimaksudkan sebagai kritikan besar bagi pemerintah jika kebijakan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan kemaslahatan masyarakat, sebagaimana dalam Kualitas insan cita HMI yang ke lima yaitu Insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT. Senada dengan hal tersebut bahwa John Stuart Mill (1987) menyatakan bahwa “kejahatan dapat terjadi kepada orang lain tidak hanya karena tindakan kita, namun juga karena sikap diam kita, manusia harus bertanggung jawab atas 2 jenis sikap tersebut” Kader HMI kurang lebih, memiliki pengetahuan yang menjelaskan dan mengkritik sistem dan kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat, Kritik penjelasan terhadap sistem dan kebijakan tidaklah cukup. Yang kurang kita miliki adalah pengetahuan tentang hambatan-hambatan terhadap perubahan sistem agar dapat sejalan dengan cita-cita bangsa sejak sedia kala. Di antara hal-hal lainnya, kita perlu mengetahui apa yang menghentikan setiap nadi perjuangan kader Himpunan Mahasiswa Islam. Setidaknya dalam perjalanan proses HMI , setiap kader dibekali dengan peluru intelektual, serta senjata kritik demi kemaslahatan Bangsa dan Negara, tidak diam pada ruang-ruang tertentu karena kewajiban andil sebagai perjuangan kader telah mendarah daging sejak keterlibatan mereka sebagai Kader HMI, Pada dasarnya insan cita HMI merupakan “Man of future” insan pelopor yaitu insan yang berfikiran luas dan berpandangan jauh, bersifat terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa

Opini

“Guru Dan Transformasi Murid : Kisah Rabi Bin Sulaiman Dan Kemerdekaan Berpikir”

ruminews.id – Imam Baihaqi dalam Kitab Manaqibnya menulis, bagaimana Imam Syafi’i mengajari Salah satu muridnya yang sangat lambat memahami pelajaran. Muridnya bernama Ar Rabi bin Sulaiman. Setelah menerangkan pelajaran, Imam Syafi’i bertanya, “apakah Ar Rabi sudah paham?”. Belum paham, jawab Rabi. Dengan kesabarannya, sang guru mengulang pelajarannya. Lalu di tanyakan kembali, “apakah sudah paham”. Belum, jawab Rabi. Imam Syafi’i menjelaskan berulang – ulang sampai 39 kali. Tetapi, muridnya tak juga paham. Merasa mengecewakan gurunya dan malu, Rabi pelan-pelan keluar dari majelis ilmu. Begitu Selesai memberi pelajaran Imam Syafi’i mencari Rabi. Melihat muridnya, imam Syafi’i mengatakan, “Rabi kemarilah, datanglah ke rumah saya”. Sebagai guru Imam Syafi’i sangat memahami perasaan muridnya, sehingga ia mengajarnya secara Privat dan di tanya kembali, “apakah sudah paham”. Ternyata Rabi bin sulaiman tak juga paham. Apakah Imam Syafi’i berputus asa?. Menghakimi sebagai murid yang bodoh?. Tidak. Justru Imam Syafi’ mengatakan, “wahai muridku, sampai di sinilah kemampuanku. Jika engkau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah, agar berkenan mengucurkan ilmuNya kepadamu, saya hanya menyampaikkannya. Allah-Lah yang memberikan ilmu. Andaikkan ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya padamu”. Mengikuti nasihat gurunya, Rabi bermunajat kepada Allah dalam Kekhusyuannya. Ia juga membuktikan doa-doanya dengan terus belajar. Keikhlasaan, Kesholehan dan kesungguhan inilah amalan Rabi Bin Sulaiaman. Setelah itu Rabi bin sulaiman berkembang menjadi salah satu ulama besar dalam Mazhab syafi’i dan termasuk perawi hadist paling kredibel, terperceya salam periwatan Hadist. Berkenaan dengan itu saya teringat sengan A.S. Neil. Seorang pendidik yabg di kenal dengan pendekatannya yang berbeda dalam pendidikan. Ia adalah seorang pendiri Summerhil school di inggris, sebuah sekolah yang memberikan kebebasan terhadap murid – muridnya dalam menentukan kegiatan belajar mereka. “Ungkapan terkenalnya adalah “saya lebih senang melihat sekolah yang menghasilkan tukang sapu jalanan yang bahagia, ketimbang sarjana yang sakit jiwa”. Diantara pendekatannya ; Pertama, pendidikan bukan hanya akademik yang melulu mengejar gelar dan Prestasi. Lebih penting dari itu, bagaimana peserta didik dapat mengembangkan kebahagian, mental yang sehat dan rasa percaya diri. Kedua, setiap peserta didik memiliki minat dan bakat yang berbeda – beda. Sistem pendidikan seharusnya mendukung eksplorasi setiap peserta didik. Bukan memaksakan mereka dalam satu cetakan yang sama. Sektor Pendidikan kita, Menyerap 20% APBN itu tujuannya apa?. Kalau kita perhatikan di negara-negara Asia atau negara-negara yang maju. Mereka itu punya sistem seleksi yang sangat ketat siapa yang bisa Menjadi Guru. Di korea, misalnya, Yang menjadi Guru adalah mereka yang masuk kedalam rangking 5 Terbaik. Di singapura, mereka yang Masuk Rangking 3 terbaik. Di indonesia kita tidak pernah mendengar hal itu, bahkan Variabel kualitas tenaga Pendidik itu urusan kesekian. padahal Korelasi antara Kualitas Guru dan Murid itu equivalen. Selain itu, Mestinya Guru itu di berikan insentif habis-habisan. Sebab, kompetisi di mulai juga dengan insentif yang bermutu. Sedangkan, Kompetisi Hanya terjadi di dalam Parpol, bukan di insitusi keguruan. Ajaib memang. Maka, menjadi Wajar Jika Paradigma Pendidikan kita tidak punya arah. Musuh pertama dari gagalnya pendidikan kita adalah Feodalisme. Mental dan watak Feodal ini terhubung dengan sistem politik kita. Di dalam prinsip Feodalisme orang di larang menggeleng, kita hanya boleh manggut-manggut. Kirikulum pendidikan kita, pada dasarnya, membosankan. Tetapi, peserta didik tetap di paksakan untuk menerima kurikulum tersebut kedalam pikiran mereka. Padahal, peserta didiknya tidak suka. Seperti Robot, yang hanya ikut perintah. Jika demikian, pendidikan kita, diarahkan untuk anti dialektika. Padahal, dengan Jalan Pendidikanlah kita bisa saling menegur pikiran. Itulah sebabnya, guru tidak boleh menjadi Feodal, karena guru adalah teman berpikirnya murid. Sehingga tidak ada jarak Feodalisme antara Dosen atau Guru dan Mahasiswa atau Murid. “Harus di akui, Kita masih gugup, menerjemahkan apa vocal Point dari paradigma pendidikan kita. Karena jejak Feodalisme kita tidak pernah selesai, bahkan Tetap menjadi memory, Sampai sekarang.” Sebagai Bangsa Yang Mayoritas Muslim terbesar di dunia, kita di perkenalkan dengan Gagasan Pedagogi dan Andragogi ; Apakah kedua istilah itu merupakan Hadhorah barat?. “Syamsul Huda” menyebut kisah hikmah dalam QS. 31:12-19, dimana Luqman mendidik Anaknya dengan metode Pedagogi. Dilain sisi “Rosidi” memaparkan bahwa Nabi Muhammad SAW meng-edukasi sahabat-sahabat Beliau dengan tekhnik metafor, diskusi, reward dan Punishment, dimana yang demikian mengindikasikan gagasan yang diterapkan adalah Andragogi. Gagasan Pedagogi sebagaimana didalam Surah Luqman merupakan metode Khusus untuk membentuk syakhsiyyah Islamiyah – kepribadian islam yang diberikan kepada anak didik tingkat dasar sebagai materi pengenalan. Lebih jauh lagi, bisa kita Cek pada percakapan Nabi Ibrahim, yang di perintahkan Allah untuk menyembelih anaknya – Nabi Ismail, ” inni araofil manami ani adzh bahuka – saya bermimpi bahwa saya di suruh menyembilh kamu (Nabi Ismail)”. Lalu, kata Nabi Ibrahim, ” Fangdzur ma hadza Taro – menurut pendapat kamu apa, wahai Ismail?”. Artinya, tradisi dua arah – pedagogi. Sudah pernah di lakoni oleh para Nabi, bahwa murid – Harus Mustaqil bil fiqr – murid bisa berpikir sendiri dan hal itu terjadi jauh sebelum kampus, Forum Ilmiah dan pengajian yang menyuguhkan gagasan dua arah itu ada. Sedangkan gagasan Andragogi termaktub dalam QS. 18 : 60-82 yang merupakan tekhnik belajar orang dewasa, sebagaimana “Lailatul Fitriyah” dalam Rangkuman Tesis Andragogi Surah Al Kahfi menjelaskan bahwa point penting dalam Andragogi adalah belajar dari pengalaman, berfikir kritis (Metode Rasional), mandiri (Kepemimpinan), serta belajar, karena kebutuhan (Tholabul Ilmi). Di titik itulah, Subtansi pendidikan menurut Islam menjadikan manusia merdeka berpikir. Hal ini penting saya utarakan, karena status permanen Semua Nabi adlh Mengajar – “Robbana wa baats fihim rosulan min inna su alaihim ayathik – membacakan ayat-ayat Allah”. Bahkan Allah sendiri men-sifati diriNya dgn, “Ar-Rohmanu allamal qur’an – Allah Maha Penyanyang yang mengajarkan Al Qur’an”. Terakhir, Kalau Universitas – universitas tidak melaksanakan fungsinya sebagai medan pertempuran, distributor Sentimen, dan ide – ide revolusioner. Maka, alternative dengan sendirinya terbentuk. Pada awal abad modern di prancis misalnya. Akibat terbuangnya kaum marjinal dan non aristokrat di dunia pendidikan tinggi. Penny University : Universitas – Universitas dadakan mulai bermunculan di kedai – kedai Kopi di eropa barat. Sebuah reaksi anti bodi terhadap racun pembodohan. Akibatnya universitas – universitas dadakan tersebut menjadi cikal bakal dengan apa yang kita sebut “Salon” : Sebuah even – even pertemuan yang menghubungkan antara seniman, ilmuan dan intelektual publik, yang melahirkan bibit – bibit intelektual revolusi prancis lahir. Kritikal thingking

Opini

Manusia Diciptakan Untuk Sehat Secara Mental

ruminews.id – Manusia memang luar biasa karena otaknya dirancang untuk membantu kita bertahan hidup, merasa nyaman dalam hubungan sosial, dan menghadapi berbagai tantangan. Kita diciptakan dengan otak yang mampu beradaptasi, belajar, dan berinteraksi dengan orang lain. Otak kita sebenarnya dirancang untuk mendukung kita agar tetap sehat secara mental dan mampu menghadapi tantangan hidup. Tapi, ada satu hal penting yang membuat perbedaan besar: kehendak bebas, yaitu kebebasan kita untuk memilih apa yang akan kita lakukan, karena merupakan kunci untuk mengaktualkan potensi ini. Otak manusia adalah alat adaptasi yang sangat luar biasa. Otak tidak hanya dirancang untuk membantu kita bertahan hidup secara fisik, tetapi juga untuk menavigasi dunia sosial. Ia bekerja secara terus-menerus untuk memprediksi, menyesuaikan diri, dan merespons tantangan yang kita hadapi, termasuk stres, kecemasan, depresi, dan hubungan sosial. Namun, melalui kehendak bebas, manusia seringkali memilih jalan yang tidak mendukung kesehatan mentalnya, sehingga mereka menjadi tidak adaptif. Otak kita tidak bekerja secara pasif, tetapi berperan aktif dalam menciptakan pengalaman kita dan menyesuaikan tubuh agar dapat bertahan hidup secara efektif. Otak memanfaatkan allostasis untuk menjaga keseimbangan tubuh. Misalnya, ketika seseorang menghadapi stres seperti tenggat waktu kerja, otak memprediksi kebutuhan tubuh (seperti energi tambahan), lalu menghasilkan hormon seperti kortisol untuk membantu kita fokus dan menyelesaikan tugas. Namun, kebanyakan orang memilih cara yang tidak sehat untuk menghadapi stres, seperti menghindari tanggung jawab, berlebihan dalam konsumsi makanan cepat saji, atau menggunakan media sosial untuk “melarikan diri”. Pilihan ini bisa memperburuk kondisi karena otak tidak belajar menghadapi stres secara adaptif. Seorang mahasiswa yang stres menghadapi ujian memilih untuk mengisolasi diri dan merasa bahwa dirinya tidak cukup pintar. Akhirnya, ia semakin tertekan dan tidak belajar dengan efektif. Padahal, mahasiswa yang sama bisa menyadari bahwa stres adalah bagian dari prediksi otak yang bisa dikelola. Ketika ini yang menjadi pilihannya, maka ia bisa memilih untuk meminta bantuan teman belajar atau mencari dukungan emosional, sehingga rasa stresnya berkurang dan ia lebih siap menghadapi ujian. Ketika merasa cemas, otak sebenarnya sedang mencoba melindungi kita dari bahaya yang mungkin terjadi. Kita cenderung merasa takut mencoba hal baru, seperti memulai bisnis kecil atau belajar keterampilan baru, karena otak memprediksi kita akan gagal dan merasa malu. Alih-alih tetap di zona nyaman dengan tidak memulai bisnis yang kita impikan atau menolak kursus karena takut gagal, sehingga membuat otak semakin yakin bahwa mencoba sesuatu yang baru adalah risiko yang berbahaya; bukankah kita bisa memulai dengan risiko kecil. Misalnya, mencoba menjual satu produk kepada teman atau bergabung dalam kelas gratis untuk keterampilan yang ingin kita pelajari. Saat kita mendapat pengalaman positif, seperti umpan balik baik dari pelanggan atau memahami keterampilan baru, otak akan menyadari bahwa mencoba hal baru bukan ancaman besar. Otak kita selalu ingin melindungi kita dengan memprediksi potensi bahaya berdasarkan pengalaman sebelumnya. Namun, kita bisa melatih otak untuk membuat prediksi yang lebih realistis dan positif dengan memberikan pengalaman baru secara perlahan. Dengan cara ini, kita menjadi lebih adaptif dalam menghadapi stres, kecemasan, dan tantangan sehari-hari. Otak kita sebenarnya dirancang untuk mencari kebahagiaan dengan bergerak, terhubung dengan orang lain, dan melakukan sesuatu yang bermakna. Hal-hal ini membantu otak memproduksi bahan kimia seperti serotonin, yang membuat kita merasa lebih baik. Alih-alih menarik diri dari teman, tidur sepanjang hari, atau tidak melakukan apa-apa, yang membuat otak sulit memproduksi serotonin, sehingga depresi semakin dalam; bukankah kita bisa memutuskan untuk bangun dan berjalan-jalan di taman, menelepon teman, atau mencoba aktivitas baru. Dengan begitu, otak kita mulai mendapatkan dorongan positif dan menciptakan pola baru yang lebih sehat. Meskipun otak kita dirancang untuk beradaptasi dan mendukung kesehatan mental, seringkali manusia membuat pilihan yang tidak membantu. Kebanyakan orang cenderung memilih untuk tidak menghadapi masalah pekerjaan dan malah menunda-nunda. Akibatnya, otak tidak belajar cara mengelola stres dengan baik. Banyak orang sering memilih hal yang memberikan kenyamanan instan daripada berolahraga atau menghadapi tantangan baru. Pilihan ini mungkin terasa baik sesaat, tapi buruk untuk jangka panjang. Selain itu, banyak orang tidak tahu bahwa otak mereka bisa berubah (neuroplastisitas). Akibatnya, mereka merasa “terjebak” dengan pola pikir atau kebiasaan lama. Setiap hari, kita selalu dihadapkan pada pilihan. Apakah kita mau menghadapi tantangan dengan cara yang positif, atau malah menghindar karena takut gagal? Apakah kita ingin membuka diri dan menjalin hubungan dengan orang lain, atau memilih untuk tetap menyendiri dan menjaga jarak? Apakah kita siap mencoba hal baru dan belajar dari pengalaman, atau tetap nyaman dengan kebiasaan lama meskipun itu tidak membantu kita berkembang? Pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari sangat berpengaruh, termasuk bagaimana kita mengelola stres, kecemasan, dan depresi. Pilihan-pilihan ini mungkin terlihat sederhana, tapi jika dilakukan terus-menerus, mereka bisa membentuk kebiasaan yang membantu kita lebih tangguh dalam menghadapi hidup. Otak kita adalah alat yang luar biasa yang dirancang untuk membuat kita bertahan hidup dan berkembang. Ia bisa memprediksi, belajar, dan berubah berdasarkan pengalaman kita. Namun, pilihan kita menentukan apakah kita menggunakan kemampuan otak ini untuk mendukung kesehatan mental kita atau tidak. Kehendak bebas adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Ketika digunakan dengan baik – dengan kesadaran diri, pola pikir yang positif, dan keberanian untuk berubah – kita dapat mencapai kesejahteraan mental dan emosional yang luar biasa. Sebaliknya, jika kehendak bebas diarahkan ke pilihan yang salah, potensi ini bisa tersia-sia, dan dampaknya adalah ketidakbahagiaan atau bahkan gangguan mental. Ketika kita memilih untuk tidak memanfaatkan kemampuan adaptif otak, kita berisiko jatuh dalam pola pikir dan perilaku yang tidak sehat. Dengan memilih untuk belajar, beradaptasi, dan merespons secara lebih sehat, kita bisa menggunakan potensi otak kita untuk meningkatkan kesehatan mental dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Pada akhirnya, otak memberi kita potensi, tetapi pilihan ada di tangan kita. @pakarpemberdayaandiri #thesecretofattractorfactor #changelimitingbeliefs #pakarpemberdayaandiri #SelfAwarenessTransformation

Opini

DeepSeek Mengguncang Big-Tech As !

ruminews.id – Analysis of trends, strengths and barrier the Ai industry Kemunculan DeepSeek, model kecerdasan buatan (AI) asal China, telah menyebabkan penurunan signifikan pada nilai saham beberapa perusahaan teknologi besar Amerika Serikat AS pada 27 Januari 2025, Nvidia mengalami penurunan nilai pasar terbesar dalam sejarah Wall Street, kehilangan sekitar $589 miliar dalam satu hari. Selain itu, sektor teknologi AS secara keseluruhan mengalami kerugian lebih dari $1 triliun pada hari yang sama. Perusahaan-perusahaan lain seperti Apple, Microsoft, Alphabet (Google), Amazon, dan Meta juga mengalami penurunan nilai saham, meskipun tidak sebesar Nvidia. Penurunan ini dipicu oleh peluncuran asisten AI gratis dari DeepSeek, yang diklaim memiliki biaya jauh lebih rendah dibandingkan teknologi AI yang ada saat ini. Apakah ini bagian dari kelanjutan perang brutal di sektor industry teknologi AS -China? Apakah dominasi As akan runtuh oleh kecepatan china dalam merespon persaingan teknolgi global? Berdasarkan tren eksponensial perkembangan AI di AS dan China, kemungkinan China melampaui AS dalam pengembangan AI bukanlah hal yang mustahil. Namun, ada beberapa faktor utama yang menentukan apakah China bisa benar-benar mengungguli AS: Kekuatan dan hambatan AS dan China dalam Industri Ai Kekuatan As dalam industri ini misalnya, Ekosistem Riset Kuat: Universitas seperti MIT, Stanford, dan Harvard menjadi pusat inovasi AI.kemudian Perusahaan Teknologi Unggulan: OpenAI, Google DeepMind, Microsoft, dan Tesla terus memimpin dalam pengembangan model AI canggih.serat dominasi dalam Hardware: AS menguasai teknologi chip AI (NVIDIA, AMD) dan infrastruktur komputasi cloud yang lebih maju. Namun hambatan juga mengahantui industry ini misalnya Regulasi Ketat, AS semakin ketat dalam regulasi AI, yang bisa memperlambat inovasi dan ketergantungan pada Private Sector dimana banyak inovasi AI dikembangkan oleh perusahaan swasta, bukan pemerintah, sehingga fokusnya lebih ke profit daripada strategi nasional jangka panjang. Kekuatan china dalam industri ini misalnya dukungan Pemerintah yang Kuat Dimana China memiliki strategi nasional yang agresif untuk AI, dengan target menjadi pemimpin dunia pada 2030. Ditambah dengan Data dalam Jumlah Besar, Dengan populasi 1,4 miliar dan sistem pemantauan digital yang luas, China memiliki akses data yang jauh lebih besar untuk melatih model AI, serta peningkatan Cepat dalam Hardware Meski AS membatasi ekspor chip AI (NVIDIA), China semakin maju dalam mengembangkan alternatif seperti chip AI buatan Huawei dan SMIC. Namiun china juga memiliki hambatan misalnya kurangnya Kreativitas dalam R&D AI di China lebih banyak fokus pada aplikasi praktis daripada inovasi fundamental yang benar-benar baru serta sanksi dan Hambatan Teknologi, AS terus berupaya menghambat akses China terhadap teknologi semikonduktor canggih. Tren Eksponensial: Siapa yang Lebih Cepat? Investasi AI China tumbuh lebih cepat: Dalam beberapa tahun terakhir, investasi China dalam AI meningkat lebih dari 50% per tahun, sementara AS tumbuh sekitar 30% per tahun. Kualitas vs. Kuantitas: AS masih unggul dalam inovasi fundamental (seperti GPT-4 dan Sora), sementara China lebih fokus pada penerapan AI di sektor industri, militer, dan pengawasan. Regulasi AS bisa memperlambat inovasi: Jika regulasi AI di AS terlalu ketat, China bisa mengejar dan melewati AS dalam beberapa dekade ke depan. Kesimpulan: Apakah China Bisa Mengalahkan AS? ✔ Dalam jangka pendek (5-10 tahun), AS kemungkinan besar masih akan memimpin karena keunggulan dalam hardware dan model AI tercanggih. ✔ Dalam jangka menengah hingga panjang (10-20 tahun), jika China berhasil mengatasi hambatan teknologi dan meningkatkan inovasi fundamental, mereka berpotensi mengejar atau bahkan melewati AS dalam beberapa aspek AI. ✔ Jika tren eksponensial China terus berlanjut, mereka bisa mengungguli AS dalam penerapan AI di sektor militer, industri, dan ekonomi digital, tetapi inovasi murni (fundamental research) mungkin tetap didominasi AS. Faktor penentu terbesar adalah apakah China bisa mandiri dalam teknologi chip AI dan apakah AS tetap mempertahankan keunggulan dalam riset fundamental. Jika China bisa mengejar di kedua aspek ini, maka dominasi AS dalam AI bisa terancam. Di sisi lain India telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), termasuk pengembangan chatbot yang sebanding dengan ChatGPT misalnya Haptik, Perusahaan yang berbasis di Mumbai ini telah mengembangkan berbagai chatbot AI untuk layanan pelanggan, penjualan, dan dukungan teknis, kemudian ada Yellow.ai didirikan di Bangalore menawarkan platform chatbot AI yang digunakan oleh berbagai perusahaan untuk otomatisasi layanan pelanggan dan interaksi dengan pengguna , lalu ada Niki.ai Berbasis di Bengaluru, mengembangkan chatbot AI yang membantu pengguna dalam berbagai tugas, seperti pembelian online dan pembayaran tagihan, melalui antarmuka percakapan yang sederhana. Selain itu, pemerintah India telah meluncurkan inisiatif IndiaAI Mission dengan investasi sebesar $1,25 miliar untuk mendorong pengembangan startup AI dan infrastruktur AI domestik. Inisiatif ini bertujuan untuk memfasilitasi pengembangan model bahasa besar (LLM) dan aplikasi AI lainnya yang dapat bersaing dengan platform seperti ChatGPT. Lalu di Indonesia bagaimana dengan perkembangan Ai? Eitss…tunggu dulu, energi anak bangsa kita sibuk dengan pagar laut yang tak kunjung selesai.

Opini

Tips Dunia Kerja Bagi Gen Z.

ruminews.id – Corey Seemiller, Ph.D dikenal sebagai “The Gen Z Speaker” karena reputasinya yang luas sebagai pembicara dan ahli dalam memahami karakteristik dan perilaku Generasi Z. Dr. Corey Seemiller melakukan penelitian berbasis data survei dan analisis tren, bekerjasama dengan mahasiswa dan akademisi untuk memahami bagaimana Generasi Z berpikir, belajar, dan berinteraksi dengan dunia. Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh dalam dunia yang sangat terdigitalisasi, dengan internet dan media sosial sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka, sehingga sering disebut iGen atau Zoomers. Meskipun ada sedikit perbedaan dalam rentang tahunnya, sebagian besar penelitian sepakat bahwa Gen Z adalah generasi yang lahir setelah Millennial (1981 – 1996) dan sebelum Generasi Alpha (2010 ke atas). Dan yang paling sering disebut adalah mereka lahir pada rentang tahun 1997 – 2012. Menurut Dr. Seemiller, berbeda dengan generasi sebelumnya, yang mengalami transisi antara dunia analog dan digital, Generasi Z adalah “digital natives” sejati yang sejak lahir sudah terbiasa dengan internet, media sosial, dan perangkat teknologi lainnya. Mereka memiliki akses yang sangat cepat dan mudah terhadap informasi, serta mengandalkan teknologi untuk mencari solusi dari berbagai masalah yang mereka hadapi. Salah satu karakteristik utama Generasi Z adalah kemandirian mereka dalam mencari informasi dan solusi. Mereka lebih suka mengandalkan perangkat teknologi untuk memecahkan masalah, baik itu melalui pencarian di Google, mengikuti tutorial di YouTube, atau bergabung dalam forum-forum diskusi online. Selain itu, Generasi Z juga dikenal lebih realistis dan praktis dalam hal keuangan. Mereka sangat berhati-hati dalam mengelola uang, mengingat pengaruh dari krisis ekonomi yang mereka saksikan sejak kecil. Banyak dari mereka yang lebih memilih untuk berwirausaha atau mencari cara alternatif untuk menghasilkan uang tanpa mengandalkan utang. Selain itu, Generasi Z memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan diri. Mereka lebih terbuka untuk membicarakan masalah kesehatan mental dan cenderung menganggap terapi atau konseling sebagai hal yang positif dan dibutuhkan. Isu seperti stres, kecemasan, dan depresi yang dipicu oleh tekanan sosial atau media sosial menjadi perhatian besar bagi mereka. Generasi Z dikenal sebagai purpose-driven generation, yang berarti mereka mencari pekerjaan atau kegiatan yang tidak hanya memberikan penghasilan tetapi juga memiliki makna dan dampak sosial. Mereka lebih tertarik untuk bekerja di tempat yang mendukung nilai-nilai yang mereka percayai, seperti keberlanjutan lingkungan atau keadilan sosial. Mereka juga menginginkan fleksibilitas dalam bekerja, seperti pekerjaan jarak jauh atau jam kerja yang fleksibel, yang memungkinkan mereka untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan dengan lebih baik. Generasi Milenial, yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996, memiliki pandangan yang unik terhadap pekerjaan. Mereka cenderung melihat pekerjaan sebagai bagian dari identitas diri mereka. Bagi mereka, pekerjaan bukan sekadar untuk mencari penghasilan, tetapi juga untuk menemukan makna dan tujuan. Milenial termotivasi oleh peluang untuk mencapai tujuan yang lebih besar, mendapatkan pengakuan atas pencapaian mereka, serta bekerja dalam tim dan berkolaborasi. Mereka juga sangat menghargai teknologi dan inovasi, dan cenderung ingin mendapatkan umpan balik secara teratur untuk mengetahui apakah mereka berada di jalur yang benar dalam pekerjaan mereka. Sementara itu, Generasi Z memiliki pandangan yang sedikit berbeda terhadap pekerjaan. Bagi mereka, pekerjaan adalah tempat untuk mengekspresikan diri dan membuat dampak sosial. Mereka sangat menghargai kesempatan untuk berkembang secara profesional, tetapi juga sangat memperhatikan stabilitas finansial dan keamanan dalam pekerjaan mereka. Sebagai generasi yang tumbuh dengan teknologi, mereka sangat terbiasa dengan dunia digital dan memanfaatkannya dalam segala hal, termasuk dalam pekerjaan mereka. Generasi Z juga sangat menghargai keragaman dan inklusi, serta cenderung lebih pragmatis dan realistis dalam pendekatan mereka terhadap dunia kerja. Oleh sebab itu, berikut tips bagi gen Z yang baru memasuki dunia kerja, agar dapat lebih efektif mengelola tekanan kerja dan menjaga kesejahteraan mental sekaligus memberdayakan diri: 1. Kembangkan Keterampilan Kepemimpinan Meskipun mungkin Anda baru memulai, penting untuk mulai mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Ini tidak hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga memimpin diri sendiri dalam pekerjaan. Mulailah dengan belajar bagaimana berkomunikasi dengan jelas, bekerja dalam tim, dan mengambil inisiatif. 2. Pahami Karakteristik Generasi Z Anda sudah memiliki kelebihan, yaitu memahami karakteristik diri sendiri sebagai Generasi Z. Ini termasuk kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap teknologi, mencari pekerjaan yang bermakna, dan mengutamakan keseimbangan hidup. Memahami ini akan membantu Anda bekerja dengan lebih efektif. 3. Terus Belajar dan Beradaptasi Dunia kerja selalu berubah, jadi sangat penting untuk terus belajar dan menyesuaikan diri. Ambil kesempatan untuk mengembangkan keterampilan baru, baik itu melalui pelatihan di tempat kerja, kursus online, atau pengalaman sehari-hari. Dengan begitu, Anda bisa tetap relevan dan berkembang dalam karir Anda. 4. Tetapkan Harapan yang Realistis Penting untuk menetapkan harapan yang realistis mengenai apa yang dapat Anda capai dalam waktu tertentu. Hindari menetapkan standar yang terlalu tinggi yang dapat menyebabkan stres berlebihan. 5. Manfaatkan Teknologi untuk Manajemen Tugas Gunakan alat digital seperti aplikasi manajemen tugas atau asisten AI untuk membantu mengatur dan memprioritaskan pekerjaan Anda. Ini dapat membantu Anda tetap terorganisir dan mengurangi perasaan kewalahan. 6. Ambil Istirahat Secara Teratur Luangkan waktu untuk istirahat singkat selama jam kerja. Berjalan-jalan sejenak atau melakukan peregangan dapat membantu meredakan ketegangan dan meningkatkan konsentrasi. 7. Berkomunikasi dengan Rekan Kerja dan Atasan Jika Anda merasa kewalahan, bicarakan dengan rekan kerja atau atasan Anda. Mereka mungkin dapat memberikan dukungan atau membantu menyesuaikan beban kerja Anda. 8. Praktikkan Teknik Relaksasi Luangkan waktu untuk teknik relaksasi seperti pernapasan dalam. Anda juga bisa rutin mendirikan shalat dengan khusyuk. Ini dapat membantu menenangkan pikiran dan mengurangi stres. 9. Tetap Terhubung dengan Teman dan Keluarga Dukungan sosial sangat penting. Luangkan waktu untuk berinteraksi dengan teman dan keluarga untuk mendapatkan dukungan emosional yang Anda butuhkan. @pakarpemberdayaandiri Ayo Gabung Komunitas Pakar Pemberdayaan Diri Untuk Pemograman Pikiran dan Tubuh dengan klik: https://tribelio.page/syahril-syam #thesecretofattractorfactor #changelimitingbeliefs #pakarpemberdayaandiri #SelfAwarenessTransformation

Opini

Memahami Niat dan Perbuatan Melalui Kacamata Neurosains

ruminews.id- Dalam penelitian mutakhir, otak kita bekerja sebagai sebuah sistem yang saling terhubung, bukan sebagai bagian-bagian terpisah dengan fungsi tertentu. Semua bagian otak saling berkomunikasi dan bekerjasama untuk membantu kita memahami dunia, membuat keputusan, dan bertindak. Banyak orang menganggap otak seperti komputer, dimana ada “bagian khusus” untuk berpikir (logika), merasa (emosi), dan bertindak. Namun, otak lebih seperti “orkestra”, dimana setiap instrumen (bagian otak) memainkan perannya secara harmonis untuk menciptakan satu musik yang utuh. Ketika kita memutuskan untuk membantu seseorang, itu bukan hanya karena emosi, tetapi juga karena otak kita memproses informasi, membuat prediksi, dan menggerakkan tubuh kita secara terkoordinasi. Otak tidak hanya merespons dunia luar seperti kamera yang merekam apa yang terjadi. Sebaliknya, otak adalah “mesin prediksi”. Ia terus memprediksi apa yang mungkin terjadi berdasarkan pengalaman sebelumnya dan menggunakan prediksi itu untuk menentukan tindakan terbaik. Jika kita melihat seseorang menjatuhkan barang, otak kita mungkin memprediksi bahwa mereka butuh bantuan, sehingga kita langsung bertindak. Tidak ada “pusat logika” atau “pusat emosi” yang bekerja secara terpisah. Semua perasaan, pikiran, dan tindakan melibatkan kerjasama seluruh otak. Ketika kita merasa kasihan kepada seseorang (emosi), itu melibatkan bagian otak yang memproses hubungan sosial. Saat kita memutuskan cara membantu (logika), bagian lain dari otak membantu kita mengevaluasi opsi. Ketika kita benar-benar membantu (gerakan), bagian yang mengontrol tubuh kita ikut bekerja. Ketika seseorang menolong orang lain demi kepentingan tertentu, otak tidak lagi berfokus pada perasaan empati, melainkan pada hasil atau manfaat yang diharapkan dari tindakan tersebut. Dalam situasi ini, otak limbik memproses motivasi berbasis kepentingan. Alih-alih empati, mungkin yang muncul adalah keinginan untuk mendapatkan penghargaan, status sosial, atau keuntungan material. Neokorteks berperan dalam memproses informasi sosial dan mengevaluasi tindakan berdasarkan norma atau keuntungan pragmatis. Ini termasuk membuat prediksi tentang bagaimana tindakan tersebut akan diterima oleh orang lain atau manfaat apa yang bisa diperoleh (Saya akan dipuji jika saya membantu dia di depan umum). Setelah motivasi dan rencana ditetapkan, otak reptil menggerakkan tubuh untuk melaksanakan tindakan. Tindakan membantu ini mungkin dilakukan secara otomatis, tetapi didasari oleh motivasi rasional yang sudah diproses di neokorteks. Dalam kasus ini, realitas yang dirasakan individu sebagian besar dibentuk oleh prediksi tentang respons sosial dan hasil yang diinginkan. Orang tersebut tidak sepenuhnya merasakan empati, tetapi dia masih membangun realitas berdasarkan asumsi tentang bagaimana tindakan akan menguntungkan dirinya. Orang tersebut memprediksi bahwa tindakannya akan meningkatkan citra dirinya, mendapatkan rasa hormat, atau memengaruhi orang lain untuk membalas budi. Ini adalah bentuk model internal yang dibuat otak untuk memandu perilaku. Realitas yang terbentuk adalah bahwa menolong seseorang bukan semata-mata untuk kebaikan orang tersebut, tetapi untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Bagi individu ini, tindakan baik tetap terlihat sebagai “realitas sosial yang benar”, meskipun niatnya berbeda. Jadi, saat kita menolong karena empati, otak limbik memainkan peran utama dengan memicu perasaan kasih atau kepedulian. Tindakan tersebut dilakukan untuk kepentingan orang lain, tanpa ekspektasi langsung akan imbalan. Sedangkan dalam kasus di atas, motivasi berasal dari prediksi yang lebih logis atau strategis, dengan neokorteks mengambil peran dominan (berpikir pragmatis). Otak limbik cenderung hanya memainkan peran kecil, seperti menekan rasa bersalah atau menciptakan dorongan untuk memenuhi kebutuhan sosial. Menolong karena empati didorong oleh emosi murni tanpa perhitungan besar, tetapi berorientasi pada hubungan antarmanusia. Sedangkan menolong karena adanya kepentingan tertentu, didorong oleh logika strategis untuk mendapatkan manfaat pribadi, dengan ketulusan yang terbatas. Ada lagi niat yang lebih tinggi dari demi kepentingan tertentu dan empati, yaitu mengharapkan ridha Sang Maha Sempurna. Ketika kita menolong orang lain murni karena mengharapkan ridha Sang Maha Sempurna, maka tindakan tersebut mencerminkan motivasi spiritual yang mendalam. Dalam konteks kerja otak yang terintegrasi, tindakan ini melibatkan proses kompleks yang tidak hanya mencakup aspek emosional dan rasional, tetapi juga keyakinan yang melibatkan dimensi makna dan tujuan hidup. Dalam konteks spiritual, otak mengkonstruksi realitas berdasarkan keyakinan terhadap nilai-nilai agama, moralitas, dan tujuan hidup. Keyakinan kepada Sang Maha Sempurna memengaruhi cara kita memandang dunia dan menentukan makna dari setiap tindakan. Otak menggunakan keyakinan ini untuk membuat prediksi tentang konsekuensi spiritual dari tindakan. Kita percaya bahwa menolong orang lain akan membawa keridhaan-Nya. Otak limbik berperan dalam memunculkan perasaan cinta kepada Sang Maha Sempurna dan rasa empati kepada sesama manusia. Namun, dalam konteks ini, emosi tersebut tidak berhenti pada hubungan antarmanusia, tetapi ditransformasikan menjadi bentuk ibadah kepada Sang Maha Sempurna. Ketika kita menolong demi ridha Sang Maha Sempurna, otak limbik memproses perasaan damai, syukur, dan kebahagiaan yang timbul dari keyakinan bahwa Sang Maha Sempurna memerintahkan kita melakukan amal tersebut. Ini adalah bentuk kepuasan spiritual yang berbeda dari kepuasan material atau sosial. Neokorteks, yang bertanggung jawab atas logika dan perencanaan, memainkan peran dalam menghubungkan tindakan menolong dengan konsekuensi akhirat (Saya membantu orang ini karena Sang Maha Sempurna memerintahkan untuk berbuat baik. Pahala saya ada di sisi-Nya, bukan pada penilaian manusia). Otak memprediksi bahwa menolong akan membawa manfaat spiritual, meskipun mungkin tidak ada keuntungan langsung secara duniawi. Prediksi ini didasarkan pada keyakinan agama yang mendalam, seperti firman-Nya: “Barangsiapa yang melakukan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya” (QS 99:7). Setelah motivasi spiritual ditentukan dan rencana tindakan dibuat, otak reptil bertanggung jawab untuk menggerakkan tubuh. Dalam situasi ini, tindakan membantu dilakukan dengan lancar dan ikhlas karena didasari niat yang sudah terinternalisasi. Ketika kita bertindak karena niat semata-mata karena-Nya, otak reptil menjalankan perintah tanpa terpengaruh oleh hambatan emosional seperti rasa gengsi atau keinginan akan pengakuan. Menolong demi ridha Sang Maha Sempurna menunjukkan bagaimana otak manusia mampu bekerja secara terintegrasi dalam konteks spiritual. Motivasi spiritual ini melibatkan otak limbik (emosi), neokorteks (logika berbasis agama), dan otak reptil (tindakan otomatis). Realitas yang terbentuk adalah keyakinan bahwa setiap perbuatan baik bernilai ibadah, dan prediksi otak diarahkan pada balasan di akhirat karena kita yakin bahwa Sang Maha Sempurna mencintai perbuatan baik, bukan pada hasil duniawi. Hal ini menciptakan tindakan yang tulus, ikhlas, dan bermakna mendalam. Menolong karena ridha Sang Maha Sempurna menghubungkan dunia nyata dengan tujuan spiritual. Ini bukan hanya soal membantu, tetapi juga soal menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai agama, yang memberikan makna mendalam bagi setiap tindakan. @pakarpemberdayaandiri

Opini

Sejarah Penggunaan Istilah Andi di Luwu, Bugis, Makassar dan Mandar

Saudara-saudariku yang saya cintai dan saya sayangi se-Sulawesi serta seluruh Nusantara. Sebelumnya, pada era PuangTa’ Datu I La Galigo Opunna Addatuang Cina’ (Sebuah Kedatuan yang se-era dengan Kedatuan Luwu dan menjadi asal usul istilah To Ugi yang merujuk pada nama Rajanya yaitu PuangTa’ Datu “La SattumpUgi” Datu Cina’ sehingga To Ugi berarti “Pengikut atau Orang-Orang atau Warga dari PuangTa’ La SattumpUgi Datu Cina’” yang diprakarsai oleh OpunTa’ Sawerigading Opunna WarE’ karena sangat menghormati mertuanya sebagaimana beliau menghormati kedua orangtuanya di Kedatuan Luwu sehingga penduduknya tidak lagi disebut To Cina’ tapi To Ugi’, yang juga Kedatuan tersebut dikemudian hari mengubah namanya menjadi Kedatuan Pammana-Wajo), OpunTa’ We Tenri’ Dio’ Opunna Putabangun Datu Ri SilajaRa’ dan PuangTa’ Opu We Tenri’ Balobo Opunna Takalala Addatuang Cina’ (Takalala merupakan salah satu wilayah di bagian timur Kedatuan Cina’ sebelum Kedatuan Soppeng muncul) telah dikenal gelar “Batara” untuk Seorang Datu (Raja) karena kakeknya dari garis Ayahanda OpunTa’ Sawerigading Opunna WarE’ yang merupakan seorang To-Manurung dengan gelar Batara Guru pendiri Kedatuan Luwu, “Puang” ketika seorang Pemimpin tersebut juga berdarah Pemimpin dari wilayah To Latimojong Manai’ (Wilayah To Duri [Enrekang] dan khusus To Luwu dari Pegunungan Latimojong Bagian Timur) karena kakeknya juga dari garis Ibunda PuangTa’ Datu We Cudai Daeng Risompa Datu Cina’ yang bernama PuangTa’ Datu “La Tenri’ Angke’” pendiri Kedatuan Cina’ yang berasal dari daerah Pegunungan Latimojong), “Opu” untuk seorang Pangeran atau Pemimpin Lokal yang juga merupakan representasi Datu dan “Daeng” yang berarti Tuan dan dipertuan karena seorang Putera-Puteri Mahkota dari turunan To-Manurung Sang Pembawa Peradaban Luwu – Bugis Kuno – Makassar Kuno. Adapun istilah “Petta (WarE’/Bugis)” dan “Patta (Selayar dan Makassar)” berasal dari kata PuwatTa’ dan kata PuwatTa’ berasal dari kata PuangTa’ yang berarti “Tuan Pemimpin kita” yang merupakan sapaan bagi orang-orang yang mempunyai kedudukan pada sebuah kerajaan serta sebagai gelar tambahan bagi seseorang yang merupakan seorang Arung (Kepala Wilayah) dari kerajaan-kerajaan tersebut yang berdiri pada sekitaran akhir abad 13 dan sekitaran awal abad 14 pasca fase PuangTa’ I La Galigo. Penggunaan istilah Petta (WarE’/To Ugi) atau Patta (Makassar) juga ditujukan bagi orang-orang yang mempunyai “Pa’-Daeng-Ang” Ana’ Opu (Keopuan Selayar), Ana’ Datu Ri Wanua Ugi – Arung (Kedatuan Pammana, Kedatuan Suppa, Kedatuan Sidenreng-Rappang, Kedatuan Soppeng Ri Aja – Ri Lau, Kesultanan Mangkau Bone, Kedatuan Sawitto, Kearungan Wajo dan Kerajaan To Ugi lainnya) dan Pa’daengang Ana’ Karaeng (Kesultanan Somba Gowa-Tallo’) yang telah menikah sehingga bagi orang-orang yang mempunyai Pa’daengang Ana’ Opu, Datu Ri Wanua Ugi – Arung dan Ana’ Karaeng tersebut tidak lagi disapa dengan nama Pa’daengangnya melainkan dengan sapaan nama Pettanya jika ia dari Adat Bugis dan nama Pattanya jika ia dari Adat Makassar. Oleh sebab itu pula penggunaan Pa’daengang juga pada Adat Bugis dan Makassar (kecuali Adat Luwu, Siang [Kedatuan Siang adalah Kekaisaran Makassar Kuno yang menaungi kerajaan-kerajaan besar termasuk Kerajaan Gowa awal, Suppa awal dan lainya namun runtuh karena persekutuan Kerajaan Luwu, Gowa, Wajo dan Mandar pada awal abad 16] Selayar dan Adat Mandar karena Pa’daengang ditujukan bagi Anak Raja, Keluarga Raja atau Bangsawan Tinggi) itu kemudian terbagi menjadi dua penggunaan Pa’daengang sesuai dengan Pangadereng/Pangadakkang Wari’ Bugis dan Makassar, “yang pertama” Pa’daengang Ana’ Arung (Anak Raja dari Kerajaan Bugis) atau Ana’ Karaeng (Anak Raja dari Kerajaan Makassar) dan “yang kedua” Pa’daengang untuk kalangan Ana’ To Deceng (Seorang anak dari peranakan Bugis yang masih keturunan Raja tapi sudah bukan kategori Bangsawan karena telah keluar dari kategori Ana’ Cera’) atau Ana’ To Baji’ (Seorang anak dari peranakan Makassar yang masih keturunan Raja tapi sudah bukan lagi bangsawan karena telah keluar dari katergori Ana’ Cera’). “Perbedaan” dari seseorang yang mempunyai Pa’daengang Ana’ Arung atau Ana’ Karaeng tersebut dengan seseorang yang juga menggunakan Pa’daengang dari kalangan Ana’ To Deceng atau Ana’ To Baji’ adalah bilamana Ana’ dengan Pa’daengang Ana’ Arung atau Ana’ Karaeng ketika telah menikah tidak disapa lagi dengan Pa’daengangnya melainkan dengan sapaan Petta atau Patta (Contoh; Daeng Lawa [Bugis] dan Daeng Baso’ [Makassar] ketika telah menikah, kedua orang tersebut tidak disapa lagi dengan Daeng Lawa dan Daeng Baso’ namun disapa dengan sebutan Petta Lawa [Bugis] dan Patta Baso’ [Makassar]) sementara dari kalangan dengan Pa’daengang Ana’ To Deceng (Bugis) atau Ana’ To Baji (Makassar) ketika telah menikah biasanya disapa dengan Ambo dan Tetta (Contoh; Daeng Deceng [Bugis] dengan Daeng Baji [Makassar] ketika telah menikah maka kedua orang tersebut disapa dengan Ambo Deceng [Bugis] dengan Tetta Baji [Makassar]). Sementara orang-orang yang biasa disapa dengan Opu (Luwu dan Selayar), Puang yang kadang kala disapa dengan sebutan Petta (Bugis) atau Karaeng (Makassar) tanpa sapaan Pa’daengangnya dan belum menjadi Opu/Arung/Karaeng (Kepala Wilayah) itu karena mereka-mereka seorang Pangeran Adat dan tentu pula itu karena mereka orang-orang yang masih berdarah dengan derajat Mattola Angngileng/Samaraja/Ti’no Manrapi’, Sangaji, Rajeng/Manrapi dan Cera’ tapi dalam konteks Cera’ Sengngeng Ri MallinrungE atau Cera’ Pati Matarang. Perlu diketahui juga bahwa di daerah Selayar Kuno masyarakat awalnya merupakan sebuah “komunitas tersendiri” yang berbeda dengan para penduduk dari wilayah “To Bawakaraeng Manai’” yang meliputi Pujananting (Barru), Pangkep, Maros, Kota Makassar, Gowa, Takalar, Je’ne’ponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai dan sebagian dari bagian selatan Bone “di zaman itu” sebelum ada istilah Bugis-Makassar karena dulu sebelum ada istilah tersebut pada “bagian selatan Sulawesi Selatan” penduduknya disebut dengan To Bawakarang Manai’ kecuali Selayar Kuno karena mempunyai komunitas tersendiri. Sementara di “bagian utara Sulawesi Selatan” penduduknya disebut dengan “To Latimojong Manai’”. Masyarakat Federasi Keopuan Selayar pada saat itu dipimpin oleh Opu atau Kepala Wilayah dengan orang-orang yang bergelar “Lalaki” di masing-masing wilayah Keopuan Selayar, ketika I We Tenri Dio ke Selayar dan diangkat menjadi Opu Putabangun, ia juga dinikahkan dengan saudara sepupunya yang bernama Lalaki Sigaya. Jadi masyarakat Selayar tidak menyebut Karaeng kepada Kepala Wilayah atau Pemimpin dan Pangerannya atau Bangsawannya melainkan Opu yang dipertuan (di-Pa’Daeng-kan) sebagai Pemimpin. Seiring berjalannya waktu karena banyaknya laki-laki dari kalangan keluarga Raja yang menikahi perempuan dari kalangan masyarakat umum sehingga sejak 1880an-1930an dijadikanlah Istilah Andi sebagai penanda pada kaum bangsawan yang digunakan pada awalan nama pada anak bangsawan yang masih berdarah Mattola (100%-95% Putera Mahkota; anak dari Raja dengan Permaisuri), Sangaji (95%-90% Putera Mahkota *jika Ana’ Mattola tidak ada; seorang anak dari pernikahan turunan Raja Bugis dengan turunan Raja Makassar

Scroll to Top