ruminews.id, Saya dulu mendaftar masuk menjadi Anggota HMI itu, sekitar tahun 1959. Sebelumnya saya sudah aktif di organisasi intra dan ekstra kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) di Persatuan Mahasiswa Makassar (PMM). Di intra, saya adalah Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum, kemudian terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Mahasiswa Indonesia.
Awal tahun 1960-an, diadakan Konferensi Cabang di Soppeng, terpilih sebagai Ketua HMI Cabang Makassar, M. Ridwan Ahmad, saya didaulat jadi Wakil Ketua dan Bapak M. Jusuf Kalla (JK) sebagai Sekretaris. Tahun 1964, kami mengadakan Konferensi Cabang di Makassar, saya terpilih sebagai Ketua dan Pak JK tetap sebagai Sekretaris Cabang, istri saya, Andi Pada sebagai Bendahara.
Jodoh saya berawal di HMI. Selain istri saya, aktif juga Ibu Mufidah Miad, istri Pak JK. Ibu Mufidah itu memiliki bakat, pintar menari.
Ketika saya sebagai Ketua Cabang, kami aktif mengadakan beberapa kali basic training, hampir tiap dua pekan diadakan pengkaderan di Jalan Laiya, Gedung Haji Lama. Otomatis jumlah anggota HMI terus bertambah, kami bentuk pengurus komisariat di seluruh fakultas perguruan tinggi se kota Makassar. Para anggota dan pengurus HMI se-Makassar, terutama dari Unhas rajin berkumpul, setelah magrib hingga larut malam, di Jalan Andalas, rumah Pak JK. Suatu malam, saya dkk sedang duduk-duduk di emperan rumah Pak JK, tiba-tiba ada informasi bahwa ada rumah di Jalan Botolempangan 51 kosong, tidak berpenghuni. Saya langsung menugaskan Tajang Badawi mengecek kebenaran info itu di lokasi. Benar, kata Tajang, kami pun segera bergegas ke lokasi dan langsung menempati (menduduki) gedung itu, sejam kemudian ada Organisasi
Islam lain datang mau mengambil gedung itu, kami menyatakan, “tidak boleh,” ini kami sudah tempati, silakan cari gedung yang lain. Mereka pun pergi.
Setelah kami duduki rumah itu, kami jaga dan saya suruh anak-anak kumpul menabur gendang (tambur) tiap malam hingga larut malam, akhirnya, tetangga yang di blok sebelah kanan merasa terganggu dan memilih pindah. Jadilah dua blok milik HMI Cabang Makassar hingga hari ini.
Beberapa hari kemudian, kami menemui dan meminta Surat Penunjukan atas kepemilikan kedua rumah itu untuk dijadikan Sekretariat HMI Cabang Makassar kepada Bapak Walikota Makassar, Daeng Patompo. Dalam Surat itu tertulisa nama saya dan Pak JK. Tapi beberapa hari kemudian, Pak JK merobek “surat keterangan dan serah terima” itu. Alasannya, agar kelak, tidak ada anak-anak kami yang menuntut. Kami agak susah melupakan jasa baik dan pengorbanan Pak JK, satu mobil dan satu motor vespanya sering dipakai oleh para aktivis HMI Makassar mengurus HMI. Kami juga dulu membuat Radio dan sekolah SMA HMI. Pak Sadli, ditunjuk sebagai direkturnya. Sementara Bapak M. Alwi Hamu hampir tiap malam siaran di Radio HMI. Di era kami juga telah terbentuk Pengurus Korps-HMI-Wati (Kohati), terpilih sebagai Ketua Pertama, Andi Datja Patoppoi. Acara pembentukan dan pemilihan itu diadakan di Pulau Kayangan, fasilitas diberikan oleh Walikota, Daeng Patompo. Setahun setelah meletus G30SPKI, tahun 1960, di kampus lama Unhas, Baraya, Makassar dibentuk Pengurus Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Saya dipercaya menjadi Ketua Presidium KAMI Sulawesi Selatan dan Pak JK, Sekretaris Jenderal. Sebagai aktivis, kami sering diundang menghadiri acara-acara yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Kotamadya Makassar. Suatu malam, kalau tidak salah, di malam Renungan Hari Pahlawan, saya dibisik oleh Almarhum Yasin Limpo, ayah Bapak Syahrul Yasin Limpo dan Mayor Syamsuddin Daeng Lawu dari SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia) tentang rencana pembentukan Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar di Sulawesi Selatan. Pak Yasin dipilih sebagai Ketua dan saya sebagai Sekretaris.
Setelah keluar dan berlaku Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah, HMI diminta mewakili pemuda untuk menjadi Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dan DPRD Kota Makassar. Kami merekomendasikan beberapa teman-teman di HMI seperti Pak JK, Tajang Badawi, Razak Tahibe,
Faizah Hasyim, Aisyah Rajeng, dkk. Mereka pun dilantik mendadak sebagai Anggota Dewan, sebagian mereka tidak siap dan belum punya jas, disuruh pinjam jam dulu, hehehe…
*Manfaat dan Harapan*
Saya yang pernah dipilih dan diberi amanah menjabat beberapa jabatan, seperti Badan Pemerintah Harian (BPH), Kepala Bulog Daerah (Bulda) Sulawesi Selatan, anggota DPR RI, Direktur Jenderal di Kementerian Dalam Negeri, misalnya, selalu merasa siap karena ada pengalaman ber-HMI. Saya dapat membedakan orang-orang yang berbicara dan memimpin rapat komisi di DPR misalnya, dari caranya berbicara. Penampilan orang-orang yang pernah aktif dan tidak pernah aktif di oragnisasi, seperti HMI, tentu berbeda. Saya berharap pada junior saya yang kini menjadi aktivis HMI, di Makassar dan PB HMI, sebaiknya kalian fokus pada “konsolidasi besar” secara regional dan nasional. Jangan lagi saling menggugat apalagi dualisme, tidak ada manfaatnya, mereka yang digugat dan menggugat kan satu sahadat, seperjuangan, satu tujuan. Bersatulah kalian. Itu akan menjadi
rahmat bagi diri kalian dan orang lain atau masyarakat kelak, Insya Allah. Dalam berjuang sebagai aktivis dan mahasiswa, camkan motto kita, “Yakin Usaha Sampai”.
Sekian.
_Jakarta, 11 April 2020_