Ruminews.id, Yogyakarta — Komunitas Gusdurian menggelar kegiatan pemutaran dan diskusi film dokumenter Mengincar Karst di Pracimantoro pada Kamis (22/10/2026) di Griya Gusdurian, Sorowajan, Yogyakarta. Kegiatan yang dimulai pada pukul 18.30 WIB ini dihadiri oleh aktivis lingkungan, jurnalis, serta perwakilan Paguyuban Tali Jiwo Pracimantoro.
Sebelum pemutaran film, peserta menyanyikan lagu “Darah Juang” sebagai bentuk penyemangat dan solidaritas terhadap masyarakat Pracimantoro, Wonogiri, yang tengah menghadapi ancaman pembangunan pabrik semen. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Watchdoc, Griya Gusdurian, Paguyuban Tali Jiwo, Lingkar Keadilan Ruang, dan Celios. Acara dibuka oleh Syifa dari Gusdurian, yang kemudian memandu jalannya kegiatan hingga pemutaran film dimulai.
Film dokumenter produksi Watchdoc tersebut mengangkat rencana pembangunan pabrik semen di kawasan karst Pracimantoro, Wonogiri. Wilayah pegunungan karst ini menjadi ruang hidup bagi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian, khususnya tanaman palawija. Dalam film tersebut, Parwanto, salah seorang petani setempat, menjelaskan bahwa jagung menjadi salah satu komoditas yang mengalami peningkatan hasil panen dibandingkan tanaman palawija lainnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup melalui pertanian, meskipun tinggal di kawasan karst yang dikenal memiliki kondisi tanah relatif kering. Film ini juga merekam perjuangan Paguyuban Tali Jiwo dalam melakukan audiensi dengan berbagai instansi untuk menolak rencana pembangunan pabrik semen. Salah satu proses yang disorot adalah audiensi dengan akademisi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), yang disebut memberikan rekomendasi kepada pemerintah dan investor terkait rencana pembangunan pabrik serta pertambangan semen di wilayah tersebut.
Bagi warga, keberadaan sumber mata air menjadi salah satu alasan utama penolakan terhadap rencana pembangunan pabrik semen. Aktivitas pertambangan dikhawatirkan mengancam keberlangsungan sumber air yang menopang kehidupan masyarakat dan ekosistem di sekitarnya. Karena itu, warga tetap berpegang pada sikap menolak pembangunan pabrik semen di Pracimantoro.
Setelah pemutaran film, Syifa selaku moderator mengundang tiga pemantik diskusi, yakni Suryanto dari Paguyuban Tali Jiwo, Pitra Hutomo dari Lingkar Keadilan Ruang, dan Saleh dari Celios.
Suryanto mengawali diskusi dengan menyampaikan kegelisahan masyarakat terhadap rencana pendirian pabrik semen. Menurutnya, kawasan karst atau batuan gamping telah menjadi incaran penguasa dan pengusaha sejak puluhan tahun lalu. Narasi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan kerap digunakan untuk membenarkan eksploitasi kawasan tersebut. Masyarakat yang tinggal di wilayah karst bahkan sering kali digambarkan sebagai kelompok miskin yang membutuhkan intervensi pembangunan berskala besar.
Padahal, menurut Suryanto, masyarakat Pracimantoro telah mampu memenuhi kebutuhan hidup melalui pertanian palawija. Ia menilai penghidupan masyarakat tidak semestinya diukur semata-mata berdasarkan potensi ekonomi yang dapat dieksploitasi oleh investor.
Ia juga menyoroti bahwa kebutuhan semen nasional semestinya menjadi pertimbangan dalam menentukan kebijakan pembangunan industri semen. Menurutnya, pembangunan pabrik baru dan pembukaan pertambangan di Wonogiri perlu dikaji kembali apabila kebutuhan semen masyarakat Indonesia telah tercukupi.
Suryanto menjelaskan bahwa Pracimantoro bukan satu-satunya wilayah yang menjadi sasaran rencana investasi industri semen. Pada 2012–2013, kawasan Giriwoyo juga pernah menghadapi rencana pembangunan pabrik semen, meskipun rencana tersebut tidak berlanjut.
Warga Pracimantoro, lanjutnya, telah melakukan berbagai upaya penolakan, termasuk menyampaikan protes kepada Dinas Lingkungan Hidup dan instansi pemerintah terkait. Dalam perkembangannya, perusahaan Anugerah Andalan Asia (AAA) disebut membentuk tim riset yang melibatkan akademisi UGM untuk menyusun dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) bagi rencana pendirian pabrik semen. Situasi tersebut kemudian mendorong warga melakukan audiensi dengan akademisi Fakultas Geografi UGM di Yogyakarta.
Suryanto menegaskan bahwa kekhawatiran warga tidak hanya berkaitan dengan potensi kehilangan lahan pertanian, tetapi juga dampak ekologis yang dapat muncul apabila pabrik semen benar-benar dibangun. Ancaman terhadap sumber mata air dan keanekaragaman hayati di kawasan karst menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.
Sementara itu, Pitra Hutomo dari Lingkar Keadilan Ruang menilai persoalan pertambangan dan ekstraktivisme merupakan masalah kompleks yang tidak mudah diselesaikan. Menurutnya, diperlukan kemauan politik (political will) dari para pemimpin untuk menentukan keberpihakan, apakah kepada masyarakat yang terdampak atau kepada investor yang berkepentingan mempertahankan aktivitas pertambangan.
Pitra menjelaskan bahwa kawasan karst yang membentang dari Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Pracimantoro, Wonogiri, terus menjadi incaran investasi.\
***
Kontributor: Angga Riyon Nugroho, S.Pd.
Editor: Iman Amirullah



