OPINI

Dari Sebuah Sujud, Lahir Sebuah Peradaban Dakwah: Perjalanan

Penulis: Saripul Bahri – Penggiat Literasi

Saripul Bahri Mewujudkan Mimpi Melalui Class Dai
” Mimpi tidak selalu lahir dari ruang rapat atau meja kerja. Ada mimpi yang lahir dari panjangnya sujud, derasnya air mata, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba yang berjuang di jalan-Nya.”

ruminews.id – Saya, Saripul Bahri, lahir di Bekasi Utara pada 12 Oktober 2005. Saya merupakan putra pertama dari pasangan Bapak Muammar Edy Lubis dan Ibu Sakiah. Sejak kecil saya diajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar cita-cita dunia, tetapi juga tentang menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Perjalanan pendidikan saya dimulai di TK Al Haidir, kemudian melanjutkan pendidikan di SD Negeri 02 Perwira Bekasi. Ketika duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, keluarga kami memutuskan untuk hijrah ke Mandailing Natal, Sumatera Utara. Di sanalah saya melanjutkan pendidikan di SD Negeri 037 Tanggabosi hingga menyelesaikan sekolah dasar.

Selepas itu, saya memilih jalan yang mungkin tidak dipilih oleh banyak anak seusia saya, yaitu menimba ilmu di Ma’had Darul Hadits Hutabaringin. Kehidupan pesantren mengubah cara saya memandang kehidupan. Saya belajar bahwa menjadi seorang muslim bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang akhlak, kedisiplinan, kesabaran, dan perjuangan. Saya belajar hidup sederhana, jauh dari orang tua, bangun sebelum fajar, menghafal Al-Qur’an dan hadis, mempelajari kitab-kitab para ulama, serta membiasakan diri hidup dengan penuh tanggung jawab.

Di pesantren itulah saya mulai jatuh cinta kepada dunia dakwah. Saya sering memperhatikan bagaimana para guru menyampaikan ilmu dengan penuh kelembutan. Saya belajar bahwa satu kalimat yang baik mampu mengubah kehidupan seseorang. Sejak saat itu saya mulai melatih diri berbicara di depan umum, memimpin doa, menyampaikan kultum, dan belajar menjadi pribadi yang siap mengajak manusia kepada Allah.

Atas izin Allah, selama menempuh pendidikan di pesantren saya dipercaya mengikuti berbagai kegiatan keilmuan dan akhirnya dinobatkan sebagai Alumni Terbaik 1 Ma’had Darul Hadits Hutabaringin Tahun 2024. Penghargaan tersebut bukan menjadi tujuan akhir, melainkan amanah untuk terus belajar dan mengabdi kepada umat.

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, saya melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Selain menjalani aktivitas akademik, saya aktif berdakwah di berbagai majelis, menjadi pemateri kajian, memberikan kultum, menjadi khatib, serta terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan.

Saya juga dipercaya sebagai Duta Literasi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Periode 2025–2027, sebuah amanah yang semakin menguatkan keyakinan saya bahwa dakwah harus berjalan berdampingan dengan budaya literasi.

Semakin banyak saya berdakwah, semakin saya menyadari bahwa begitu banyak generasi muda yang memiliki keinginan menyampaikan kebaikan, tetapi mereka tidak memiliki tempat untuk belajar. Banyak yang berkata kepada saya, “Ustadz, saya ingin berdakwah, tapi saya takut berbicara di depan umum.” Ada pula yang merasa belum pantas karena ilmunya masih sedikit. Bahkan ada yang memiliki semangat besar, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.

Ucapan-ucapan itulah yang kemudian menjadi kegelisahan saya.
Selama hampir tiga tahun, saya membawa satu mimpi yang tidak pernah saya ceritakan kepada banyak orang. Saya ingin membangun sebuah tempat belajar yang bukan hanya mengajarkan teori dakwah, tetapi juga membentuk mental, adab, dan keberanian para calon dai. Hampir setiap selesai salat saya mengangkat kedua tangan dan berkata, “Ya Allah, jika Engkau mengizinkan, jadikanlah aku sebab lahirnya generasi muda yang mencintai dakwah-Mu.”

Perjalanan itu tentu tidak mudah. Saya sering merasa takut. Saya bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya mampu? Apakah ada orang yang akan percaya? Apakah mungkin seorang anak muda membangun sebuah program dakwah?” Namun saya selalu mengingat firman Allah:
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali.” (QS. Hūd: 88).

Allah kemudian menghadirkan orang-orang baik yang menjadi bagian dari perjalanan ini. Orang pertama yang saya ceritakan mengenai mimpi tersebut adalah Kak Fei. Beliau menjadi sosok yang menguatkan saya ketika saya hampir menyerah pada keraguan. Dukungan beliau membuat saya yakin bahwa mimpi yang baik harus diperjuangkan.

Selanjutnya saya mengajak Kak Ghiza untuk membersamai perjuangan ini. Alhamdulillah, beliau menerima ajakan tersebut dan ikut membangun Class Dai dari awal. Kemudian hadir Kak Nestri Ananda, dan Kak Zahra, yang bersama-sama membentuk tim pertama Class Dai. Masing-masing memberikan waktu, tenaga, pemikiran, dan dedikasi agar mimpi ini benar-benar bisa diwujudkan. Tanpa mereka, perjalanan ini tentu akan jauh lebih berat.

Akhirnya, pada tanggal 21 Mei 2026, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya resmi mendirikan Class Dai, sebuah program pembelajaran dakwah dan public speaking Islami berbasis online melalui Google Meet. Program ini lahir dengan tujuan menjadi wadah bagi generasi muda untuk belajar menyampaikan dakwah dengan ilmu, adab, dan rasa percaya diri.

Kami memulai semuanya dari nol. Tidak ada kantor yang megah. Tidak ada fasilitas yang mewah. Yang kami miliki hanyalah doa, semangat, dan keyakinan bahwa Allah akan menolong setiap perjuangan yang dilakukan dengan ikhlas.

Atas izin Allah, Class Dai Angkatan Pertama berhasil diselenggarakan dengan baik. Para peserta mengikuti pembelajaran secara intensif, mulai dari dasar-dasar dakwah, public speaking Islami, teknik menyusun materi ceramah, storytelling, latihan praktik, hingga evaluasi. Perjalanan tersebut ditutup dengan Haflah Class Dai Angkatan Pertama, sebuah momen yang menjadi saksi lahirnya para dai dan daiyah muda yang siap terus belajar dan berdakwah.

Keberhasilan angkatan pertama menjadi awal dari perjalanan yang lebih besar. Berbagai pengalaman dan evaluasi menjadi bekal untuk terus memperbaiki kualitas pembelajaran.

Alhamdulillah, ketika Open Recruitment Class Dai Angkatan Kedua dibuka, antusiasme masyarakat meningkat secara signifikan. Jumlah peserta Angkatan Kedua lebih banyak dibandingkan Angkatan Pertama, menjadi bukti bahwa semakin banyak generasi muda yang memiliki semangat untuk belajar dakwah dan public speaking Islami.

Bagi saya, Class Dai bukan sekadar sebuah kelas, tetapi sebuah amanah dan cita-cita yang Allah titipkan. Saya tidak ingin hanya mencetak orang yang pandai berbicara. Saya ingin melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an, menjaga adab, menghormati guru, memiliki mental yang kuat, dan mampu menyampaikan Islam dengan hikmah serta kasih sayang.

Saya percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Karena itu, saya berharap Class Dai akan terus berkembang menjadi lembaga pembinaan dakwah yang mampu menjangkau lebih banyak generasi muda, bukan hanya di Banten atau Indonesia, tetapi juga menjadi inspirasi bagi umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Saya selalu memegang satu prinsip dalam hidup:
“Jika hari ini saya bisa menjadi sebab lahirnya satu orang yang kembali mencintai Al-Qur’an, berani berdakwah, dan istiqamah di jalan Allah, maka itulah keberhasilan terbesar dalam hidup saya.”
Class Dai bukan akhir dari mimpi saya. Class Dai adalah awal dari sebuah perjuangan panjang untuk melahirkan generasi yang belajar, berlatih, dan berdakwah demi mencari rida Allah Subḥānahu wa Ta’ālā.

Perjalanan ini tentu belum selesai. Saya menyadari bahwa membangun sebuah lembaga bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam hitungan hari, bulan, bahkan tahun. Class Dai masih terus bertumbuh, belajar dari setiap kekurangan, menerima setiap masukan, dan memperbaiki setiap langkah agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat.

Bagi saya, seorang pendidik bukanlah orang yang paling banyak berbicara, tetapi orang yang mampu melahirkan penerus yang lebih baik daripada dirinya. Karena itu, setiap peserta Class Dai saya anggap sebagai keluarga yang sedang dipersiapkan untuk menjadi penerus perjuangan dakwah. Saya tidak pernah berharap mereka menjadi terkenal atau viral, tetapi saya berharap mereka menjadi pribadi yang ikhlas, berilmu, beradab, dan istiqamah dalam menyampaikan kebenaran.

Di setiap pertemuan, saya selalu mengingatkan bahwa seorang dai bukan hanya berbicara di atas mimbar, tetapi juga berdakwah melalui akhlaknya, sikapnya, kejujurannya, dan kepeduliannya kepada sesama. Dakwah yang paling kuat bukan hanya terdengar oleh telinga, tetapi juga terlihat melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya juga menyadari bahwa di zaman digital ini, tantangan dakwah semakin besar. Generasi muda hidup di tengah derasnya arus informasi, media sosial, dan berbagai pengaruh yang dapat menjauhkan mereka dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, saya ingin Class Dai menjadi ruang yang aman bagi mereka untuk belajar, bertanya, berlatih, bahkan melakukan kesalahan tanpa takut dihakimi. Sebab saya percaya, setiap dai besar pernah menjadi seorang pemula yang terus belajar.

Ke depan, saya memiliki cita-cita agar Class Dai tidak hanya menjadi kelas pembelajaran daring, tetapi berkembang menjadi sebuah lembaga dakwah dan pendidikan yang memiliki kurikulum yang sistematis, mentor-mentor yang kompeten, komunitas alumni yang aktif berdakwah, serta mampu menjangkau pemuda di seluruh Indonesia, bahkan hingga mancanegara. Saya ingin melihat para alumni Class Dai berdiri di mimbar-mimbar masjid, menjadi guru di sekolah dan pesantren, membina majelis taklim, mengisi kajian di berbagai daerah, serta menjadi teladan di tengah masyarakat.

Saya juga berharap Class Dai dapat melahirkan berbagai program yang lebih luas, seperti pelatihan khatib, pelatihan imam, kelas tahsin dan tahfiz, sekolah public speaking Islami, pelatihan dakwah digital, kelas kepemimpinan Islami, hingga program pengabdian masyarakat.

Dengan demikian, dakwah tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi benar-benar hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dalam setiap langkah, saya selalu mengingat firman Allah Subḥānahu wa Ta’ālā:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Naḥl: 125).

Ayat ini menjadi pedoman dalam setiap langkah saya membangun Class Dai. Saya ingin dakwah yang kami hadirkan menjadi dakwah yang menenangkan, menguatkan, menginspirasi, dan merangkul, bukan dakwah yang memecah belah atau menyakiti.

Saya percaya bahwa setiap perjuangan yang dibangun karena Allah akan selalu menemukan jalannya. Mungkin langkah kami masih kecil, mungkin perjalanan kami masih panjang, tetapi selama niat ini tetap dijaga karena Allah, saya yakin Class Dai akan terus tumbuh menjadi tempat lahirnya para dai dan daiyah yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga memiliki keluasan ilmu, keluhuran akhlak, dan keteguhan hati dalam mengemban amanah dakwah.

Saya ingin ketika suatu hari nanti nama saya tidak lagi dikenal, perjuangan ini tetap hidup melalui murid-murid yang terus menyampaikan ilmu, mengajarkan Al-Qur’an, membimbing masyarakat, dan meneruskan estafet dakwah Rasulullah ﷺ. Sebab bagi saya, warisan terbaik yang dapat ditinggalkan bukanlah harta atau popularitas, melainkan lahirnya generasi yang mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, dan mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan kebaikan.

Selama Allah masih memberikan kesempatan untuk bernapas, saya akan terus belajar, terus berjuang, dan terus berdakwah. Karena bagi saya, Class Dai bukan sekadar organisasi, bukan sekadar program pembelajaran, tetapi sebuah amanah yang saya titipkan kepada waktu, agar kelak menjadi jalan lahirnya generasi yang menerangi umat dengan ilmu, adab, dan keteladanan.

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (1)
Demokrasi tanpa Wibawa RiButta Patturioloang
Muzakkir (2)
Catatan Sejarah MPM dan BEM: Kini Kampus Tanpa Oposisi, Demokrasi Tanpa Makna
anunya rumi
Ironi di Jam Ekstrakurikuler: Saat Ruang Kreativitas Menjelma Menjadi Ruang Amputasi Kemanusiaan
Muzakkir (1)
Pappasalama ri To Pole Malebbi: Warisan Luhur Adat Bugis Bone yang Sarat Makna
Muzakkir (2)
Generasi Muda Luwu Timur: Gelombang Baru Prestasi dan Pemberdayaan di Bumi Batara Guru
Muzakkir (1)
Sisi Lain Dari Sampah Dan Kandungan Energi Didalamnya
Muzakkir (1)
Guru di Era Kecerdasan Buatan: Kompetensi Meningkat, Kesejahteraan Harus Mengikuti
anunya rumi
A.Ihsan Dorong Disdikbud Kab. Bone Peduli Nasib Pendidikan dan Kebudayaan
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto dan Soemitro Djojohadikusumo: “Buah Jatuh Jauh Dari Pohonnya”
WhatsApp Image 2026-07-11 at 01.00
Satu Bulan Krisis Ruang Jalan: LMND Sulsel Desak Pencopotan Kadishub akibat Truk ODOL dan Antrean BBM
Scroll to Top