OPINI

Ironi di Jam Ekstrakurikuler: Saat Ruang Kreativitas Menjelma Menjadi Ruang Amputasi Kemanusiaan

Ruminews.id, Sinjai, 14 Juli 2026 — Dunia pendidikan di Kabupaten Sinjai kembali dihentak oleh tragedi kemanusiaan yang memilukan. Ruang ekstrakurikuler yang sejatinya didirikan sebagai wadah pembentukan karakter, pengasahan minat, dan ruang interaksi positif antarsiswa, justru berubah menjadi panggung kekerasan yang brutal.
Kejadian nahas yang menimpa MF(inisial), seorang siswa di SMPN 7 Sinjai yang menjadi korban pemukulan tongkat oleh sesama siswa bernama FT(inisial) hingga menyebabkan jari manis korban harus diamputasi, memicu kritik gelombang tajam dan kecaman keras dari berbagai pihak.

Mujahid Turaihan, Presiden Mahasiswa Universitas Islam Ahmad Dahlan (UIAD) Sinjai, mengecam keras peristiwa yang terjadi sekitar pukul 16:00 WITA tersebut. Insiden ini dinilai sebagai bukti nyata atas rapuhnya sistem pengawasan dan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan di lingkungan sekolah.

Kritik tajam ini didasarkan pada tiga kelalaian sistemis yang terjadi di lingkungan pendidikan kita hari ini:
1. Ekstrakurikuler Tanpa Pengawasan Kongkret: Kelalaian Institusional
Jam ekstrakurikuler bukanlah waktu bebas tanggung jawab bagi pihak sekolah. Tragedi pemukulan menggunakan tongkat yang terjadi pukul 16:00 WITA menunjukkan adanya kekosongan pengawasan (zero supervision) yang fatal dari pihak pembina maupun pihak sekolah.
Kehilangan jari adalah kehilangan masa depan. Sekolah tidak bisa berlindung di balik pembelaan bahwa ini adalah riak kenakalan remaja. Ketika sebuah tongkat bisa diayunkan hingga meremukkan fisik seorang anak di dalam area sekolah, maka di saat yang sama, fungsi perlindungan sekolah telah runtuh.

2. Normalisasi Kekerasan dalam Budaya Siswa
Tragedi yang menimpa MF(inisial) yang disebabkan oleh FT (inisal) adalah alarm keras bahwa budaya kekerasan (circle of violence) telah mengakar kuat di mentalitas sebagian pelajar. Pukulan yang berujung pada tindakan medis amputasi bukan lagi bentuk intimidasi biasa, melainkan tindakan kriminalitas agresif yang lahir dari hilangnya rasa empati dan gagalnya pembentukan karakter di sekolah.

3. Respons Birokrasi yang Kerap Lamban dan Defensif
Belajar dari berbagai kasus, institusi pendidikan sering kali bertindak reaktif atau bahkan mencoba melakukan domestikasi (meredam) kasus demi menjaga nama baik. Kami memperingatkan dengan tegas: kasus hilangnya organ tubuh seorang anak tidak boleh diselesaikan hanya dengan sekadar meterai perdamaian formalitas. Harus ada pertanggungjawaban hukum dan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen SMPN 7 Sinjai.

Tuntutan dan Langkah Konkret Presma UIAD Sinjai
Sebagai representasi kaum intelektual dan kepedulian terhadap masa depan generasi muda di Sinjai, Presma UIAD Sinjai menegaskan tuntutan berikut:

  • Meminta pihak berwajib (Polres Sinjai) Mengusut tuntas kasus penganiayaan ini secara adil, transparan, dan sesuai dengan UU Perlindungan Anak serta Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).
  • Menuntut Dinas Pendidikan Kab.Sinjai menjatuhkan sanksi administratif dan melakukan evaluasi total terhadap kepala sekolah serta guru pembina ekstrakurikuler SMPN 7 Sinjai atas kelalaian pengawasan.
  • Menuntut Pelaku dan Manajemen SMPN 7 Sinjai bertanggung jawab penuh atas seluruh akomodasi pemulihan fisik dan psikologis korban.

Jangan Wariskan Ketakutan pada Anak-Anak Kita
Amputasi jari manis MF adalah rapor merah yang berdarah bagi dunia pendidikan di Kabupaten Sinjai. Sekolah harus menjadi tempat paling aman setelah rumah, bukan tempat di mana orang tua harus cemas apakah anak mereka akan pulang dalam keadaan utuh atau cacat permanen.

Kami, Dewan Eksekutif Mahasiswa UIAD Sinjai, akan mengawal kasus ini hingga korban mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya dan memastikan ada reformasi nyata pada sistem pengawasan sekolah di Sinjai. Cukup MF yang menjadi korban terakhir dari kebrutalan di ruang pendidikan.

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (1)
Pappasalama ri To Pole Malebbi: Warisan Luhur Adat Bugis Bone yang Sarat Makna
Muzakkir (2)
Generasi Muda Luwu Timur: Gelombang Baru Prestasi dan Pemberdayaan di Bumi Batara Guru
Muzakkir (1)
Sisi Lain Dari Sampah Dan Kandungan Energi Didalamnya
Muzakkir (1)
Guru di Era Kecerdasan Buatan: Kompetensi Meningkat, Kesejahteraan Harus Mengikuti
anunya rumi
A.Ihsan Dorong Disdikbud Kab. Bone Peduli Nasib Pendidikan dan Kebudayaan
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto dan Soemitro Djojohadikusumo: “Buah Jatuh Jauh Dari Pohonnya”
WhatsApp Image 2026-07-11 at 01.00
Satu Bulan Krisis Ruang Jalan: LMND Sulsel Desak Pencopotan Kadishub akibat Truk ODOL dan Antrean BBM
Muzakkir (1)
Perempuan dan Perjalanan Menemukan Diri
Muzakkir (2)
Antara Ekspektasi dan Realitas: Beban Psikologis Menjadi Perempuan
IMG-20260710-WA0097
Diantara Satu Sama Lain Jejak Sejarah dan Realitas Perempuan yang Saling Menghakimi
Scroll to Top