Ruminews.id, TAKALAR _ Selasa 16 Juni 2026_Ruang-ruang diskusi mahasiswa sering kali diidentikkan dengan kepulan asap rokok, kerutan dahi memikirkan teori-teori Marxisme hingga Islamisme, atau debat kusir yang tak kunjung usai. Namun, pemandangan berbeda terlihat di sekitar kawasan Masjid Agung Takalar baru-baru ini.
Puluhan peserta Intermediate Training (LK II) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Takalar tampak menanggalkan sejenak ego intelektual mereka. Bukan untuk turun ke jalan menyuarakan kritik lewat pengeras suara, melainkan turun langsung memegang sapu lidi, memungut sampah, dan membersihkan area rumah ibadah hingga ke pekarangan dan bahu jalan raya.
Aksi bersih-bersih ini bukan sekadar agenda selingan atau formalitas pengisi jadwal training. Lebih dari itu, gerakan ini adalah sebuah tamparan sekaligus refleksi mendalam tentang apa artinya menjadi kader umat dan kader bangsa.
Menembus Batas Menara Gading
Selama ini, ada kritik yang cukup tajam dialamatkan kepada gerakan mahasiswa hari ini: terlalu asyik di menara gading. Mahasiswa dianggap piawai merumuskan masalah bangsa di dalam ruangan ber-AC, namun gagap ketika harus menyentuh realitas sosial yang paling mendasar.
Apa yang dilakukan oleh para peserta Intermadiate Training (LK II) HMI Cabang Takalar adalah upaya meruntuhkan sekat tersebut. Dengan membersihkan Masjid Agung Takalar, yang merupakan simbol spiritualitas masyarakat Takalar serta fasilitas publik di sekitarnya, HMI sedang mempraktikkan salah satu pilar penting dalam Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP), yaitu kemanusiaan dan pengabdian.
”Kebersihan adalah bagian dari iman, dan pengabdian kepada masyarakat adalah wujud nyata dari keimanan yang aktif, bukan pasif.” Ujarnya REZHA RAHMATULLAH_KABID LINGKUNGAN HIDUP (HMI CABANG TAKALAR)
Pesan Simbolis di Balik Sapu Lidi
Jika kita bedah lebih dalam, aksi ini membawa tiga pesan simbolis yang sangat kuat untuk gerakan mahasiswa masa kini:
- Kesalehan Ritual vs Kesalehan Sosial:
Menjaga kesucian masjid bukan hanya tugas marbot, tapi tanggung jawab kolektif. HMI mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual tanpa kepekaan sosial adalah kesia-siaan. - Merawat Ruang Publik:
Membersihkan pekarangan hingga jalan raya menunjukkan bahwa kader HMI memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup dan estetika kota. Ini adalah bentuk kritik tanpa kata terhadap egoisme masyarakat yang masih hobi membuang sampah sembarangan. - Kerendahan Hati (Tawadhu):
Bagi calon pemimpin yang sedang digodok di level Intermediate Training, memungut sampah di jalanan adalah latihan mental untuk menekan kesombongan. Pemimpin masa depan harus mau “kotor” demi kemaslahatan publik.
Khittah yang Harus Dirawat
Intermediate Training HMI (LK II) HMI CABANG TAKALAR adalah fase di mana kader HMI dituntut untuk memiliki kemampuan artikulatif dan manajerial yang matang. Melalui aksi bersih area Masjid Agung Takalar ini, para peserta telah lulus dalam satu ujian penting: ujian kepedulian.
Kita tentu berharap, aksi ini tidak berhenti sebagai pemanis dokumentasi laporan pertanggungjawaban panitia semata.
Semangat sapu lidi yang mengikat banyak lidi menjadi satu kekuatan untuk membersihkan kotoran—harus dibawa pulang oleh masing-masing peserta ke cabang asalnya.
Takalar telah menjadi saksi bahwa HMI tidak hanya bisa melahirkan pemikir besar, tetapi juga pelopor gerakan nyata yang membumi. Sudah saatnya gerakan mahasiswa kembali ke khittahnya: hadir dan memberi solusi konkret, dimulai dari hal sekecil memungut sampah di jalanan.