Ruminews.id, Yogyakarta – Sebagai generasi muda ketika membicarakan Indonesia adalah seluruh pulaudan kepulauannya yang besar dari ujung Sabang hingga Merauke. Salah satu pulau yang memiliki peran penting dalam menunjang perekonomian negara Indonesia adalah Kalimantan (Borneo). Pada hari Kamis (11/6) Multitude Book bekerjasama dengan Semut Api Media mengadakan kegiatan diskusi buku “Mendulang Juang Persatuan Kalimantan”. Karya dari Khara Makrothomia Toda, seorang pemuda Kalimantan yang mencoba mencari identitas sosial ditengah kabut persatuan yang semakin samar di negara ini.
Diskusi di mulai pukul 19.00 WIB, bertempat di angkringan sebelah Multitude Book. Acara dimoderatori oleh Anisa, salah satu mahasiswa Kalimantan yang berkuliah di Jogja. Hadir juga sebagai pemantik diskusi yaitu, Ivo Trias Julianno seorang penulis buku, peneliti dan pengajar, merupakan lulusan dari S2 Kajian Budya Universitas Sanata Dharma. Selain itu hadir pula A.S. Rimbawana seorang jurnalis, penulis buku ‘32 Tahun Menjarah Alam‘, pada kesempatan ini ikut hadir pula Toda sebagai penulis buku Mendulang Juang Persatuan Kalimantan. Diskusi dibuka oleh Ivo yang mengomentari tentang tulisan Toda, dibagian awal buku tersebut Ivo mengatakan bahwa Toda seperti mendongeng atau bercerita, dibagian berikutnya Toda menghadirkan data dan peristiwa historis tentang Kalimantan dan bagian terakhir memberikan tawaran kepada pemerintah tentang Kalimantan kedepannya sebagai bagian dari Indonesia atau berdiri sendiri.
Dalam buku ini Toda juga mengupas tentang tokoh Cilik Riwud, salah satu tokoh Kalimantan Tengah yang pro terhadap integrasi Kalimantan dengan Republik saat itu. Diceritakan bahwa tahun 1946 Cilik Riwud mendatangi gedung agung Yogyakarta untuk bertemu dengan Bung Karno dan menyatakan Kalimantan bergabung dengan Republik. Seorang tokoh nasionalis yang menjadi representasi dari 142 suku Dayak yang ada di Kalimantan saat itu. Ivo juga menjelaskan bahwa di dalam buku ini konsep persatuan yang ditawarkan oleh Toda menjadi bias, karena tidaktahu Toda mewakili siapa dalam menyampaikan pesan yang terdapat dalam buku ini.
Hal serupa juga ditambahkan oleh A.S. Rimbawana yang mengupas tentang eksploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah orde baru terhadap Kalimantan memunculkan konflik berkepanjangan yang membuat tawaran persatuan untuk Kalimantan menjadi permasalahan yang serius. Hutan di Kalimantan dialihkan menjadi lahan-lahan Konsesi yang dikelola oleh perusahaan dan keuntungannya tidak dimanfaatkan oleh orang-orang Dayak itu sendiri. Rimba bahkan mengatakan,
“saya memang belum pernah menginjakan kaki di Kalimantan, namun ketika masih ada yang bicara lebih enak di Jawa, justru menurut saya sama saja, karena Jawa sudah lebih dulu dilakukan pembukaan lahan sehingga saat ini wilayah-wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi dan Papua yang secara bertahap dihabiskan hutannya satu persatu demi keuntungan pemerintah. Sehingga secara bertahap kehancuran yang sudah dilahirkan dari masa kolonial masih tetap terlihat nyata di masyarakat Kalimantan itu sendiri.”
Setelah kedua pemantik menyampaikan pendapatnya, Toda kemudian memberikan tanggapan tentang hal yang ingin disampaikan dalam bukunya tersebut. Menurutnya sebagai seorang Dayak Ngaju, alam memiliki peran yang penting bagi kehidupan masyarakat, ia menggunakan kata “Mendulang” dalam judul buku ini karena itu adalah sebuah proses yang diteruskan terus-menerus, sama halnya ketika masyarakat Kalimantan Tengah sedang mencari emas, sehingga menggalang persatuan bukanlah menjadi hal yang instan dengan cepat terjadi, tapi dengan proses terus-menerus, sabar dan teliti. Pada saatnya nanti kesatuan menjadi bagian mencapai tujuan bersama. Toda juga mengatakan bahwa istilah “Ekstraktivisme” adalah jadi bagian yang berpengaruh besar dalam penulisan buku ini,” eksploitasi besar-besaran”, merampas asset yang dimiliki oleh orang Dayak sendiri, menjadikan sebagian masyarakatnya dibodohi di tanahmereka sendiri. Sehingga tawaran untuk mendirikan daerah federasi atau referendum (membebaskan diri dari Indonesia) menjadi tawaran yang diberikan Toda.
Ada kemungkinan yang mengandai-andai, jika Kalimantan saat itu tidak bersatu dengan Republik, mungkin Kalimantan sudah menjadi pusat peradaban yang maju dan dirasakan oleh masyarakatnya saat ini. Pada kenyataannya yang menikmati hasil kekayaan Kalimantan saat ini bukanlah orang Kalimantan sendiri, melainkan para pelaku korporasi yang mengeruk habis-habisan sumber daya alan yang ada disana. Bahkan menurut Toda keuntungan 750 milliar dari tambang di Kalimantan tidak bisa dinikmati oleh Kepala Daerah yang merupakan masyarakat asli Kalimantan.
Setelah masing-masing pemantik menanggapi, moderator melanjutkan dengan sesi tanya jawab kepada peserta diskusi saat itu, salah satu peserta diskusi bernama Dino, bagaimana kawan-kawan di Kalimantan mendefinisikan Kalimantan yang berkeadilan? Toda sendiri menanggapi jawaban tersebut dengan mengimajinasikan Kalimantan melalui (Ekososialisme), yaitu alternatif radikal yang mengutamakan kesejahteraan sosial dan ekologis dengan memperhatikan hubungan antara eksploitasi tenaga kerja dan eksploitasi lingkungan sehingga tercipta kesinambungan antara kehidupan masyarakat untuk memiliki kepemilikan umum atas alat produksi untuk kepentingan bersama. Sehingga solidaritas masyarakat Kalimantan menjadi penting ditengah realitas negara yang ada saat ini. Diskusi ditutup oleh moderator pada pukul 21.30 WIB, kemudian peserta diskusi melanjutkan ngobrol dengan Toda sebagai penulis buku tersebut. (Angga Riyon Nugroho S.Pd.)



