Penulis: Sanggi Na
Ruminews.id, Yogyakarta – Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang suka membaca buku. Dalam setahun, mungkin saya hanya membaca satu atau dua buku saja—itu pun kalau benar-benar terpaksa. Membaca sering terasa seperti tugas, bukan kebutuhan. Apalagi kalau harus membaca karya sastra yang penuh makna tersembunyi. Rasanya seperti disuruh memahami sesuatu yang bahkan penulisnya sendiri mungkin tidak jelaskan secara langsung.
Tapi semua itu mulai berubah ketika saya diperkenalkan pada satu konsep yang agak asing di telinga saya: sublime atau keluhuran, dari seorang tokoh bernama Longinus.
Awalnya saya juga tidak tahu siapa itu Longinus. Namanya terdengar seperti nama filsuf yang hanya muncul di buku tebal yang jarang disentuh mahasiswa seperti saya. Tapi setelah mencoba memahami sedikit, saya menemukan satu hal menarik: menurut Longinus, sastra yang baik bukan hanya yang indah—tetapi yang mampu mengguncang pembacanya.
Dan “mengguncang” di sini tidak selalu berarti menyenangkan.
Kadang justru berarti membuat tidak nyaman.
Ketika Membaca Jadi Pengalaman yang Tidak Enak
Pemahaman itu langsung teruji ketika saya membaca kumpulan cerpen “Mereka Bilang, Saya Monyet!“ karya Djenar Maesa Ayu.
Banyak orang menyebut karya Djenar sebagai “berani”, “vulgar”, bahkan “terlalu jauh”. Jujur saja, sebagai pembaca yang tidak terbiasa dengan tema seperti seksualitas, trauma, dan kekerasan dalam keluarga, saya juga merasa kaget. Ada bagian-bagian yang membuat saya berhenti membaca sejenak, bukan karena tidak paham, tapi karena tidak nyaman.
Biasanya, kalau membaca sesuatu yang tidak nyaman, saya akan berhenti. Tapi kali ini berbeda. Justru karena tidak nyaman itu, saya malah penasaran.
Kenapa cerita ini terasa mengganggu?
Kenapa saya tidak bisa langsung melupakannya?
Di situlah saya mulai sadar: mungkin ini yang dimaksud Longinus.
Sastra Tidak Harus Menyenangkan
Selama ini, saya pikir sastra yang bagus adalah sastra yang indah. Yang bahasanya halus. Yang ceritanya menyentuh. Yang membuat kita merasa nyaman setelah membacanya.
Tapi ternyata tidak selalu begitu.
Menurut Longinus, keluhuran dalam sastra muncul dari beberapa hal: gagasan yang kuat, emosi yang besar, pilihan kata yang tepat, dan cara penyampaian yang mampu “mengangkat” pembaca. Tapi “mengangkat” di sini bukan berarti membuat kita merasa ringan.
Kadang justru sebaliknya—kita merasa berat, terganggu, bahkan sedikit gelisah.
Dan karya Djenar melakukan itu.
Emosi yang Tidak Bisa Diabaikan
Salah satu hal yang paling terasa dalam cerpen-cerpen Djenar adalah emosi yang kuat.
Ini bukan emosi yang dramatis seperti di film. Tidak ada musik latar. Tidak ada adegan yang dibuat-buat. Tapi justru karena itu, emosinya terasa lebih nyata.
Ada cerita tentang perempuan yang mengalami tekanan dalam keluarga. Ada yang berbicara tentang tubuh, trauma, dan pengalaman yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Sebagai pembaca, saya tidak hanya membaca cerita. Saya seperti dipaksa untuk melihat sesuatu yang biasanya saya abaikan.
Dan jujur saja, itu tidak nyaman.
Tapi mungkin memang tidak seharusnya nyaman.
Gagasan yang Mengganggu Pikiran
Selain emosi, hal lain yang membuat karya Djenar terasa kuat adalah gagasannya.
Cerita-ceritanya tidak hanya berbicara tentang individu, tapi juga tentang sistem yang lebih besar: patriarki, kekerasan dalam keluarga, dan cara masyarakat sering menutup mata terhadap hal-hal yang tidak ingin mereka lihat.
Sebagai seseorang yang tidak terlalu sering membaca, saya jarang memikirkan hal-hal seperti ini. Tapi setelah membaca, saya mulai melihat bahwa pengalaman-pengalaman itu nyata. Bahwa ada banyak hal yang selama ini tidak saya sadari.
Sastra, ternyata, bisa menjadi cara untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Bahasa yang Sederhana, Efek yang Kuat
Menariknya, bahasa yang digunakan Djenar tidak sulit.
Sebagai pembaca yang tidak terlalu rajin membaca, ini sangat membantu. Saya tidak harus berhenti di setiap kalimat untuk memahami maknanya. Tapi meskipun bahasanya sederhana, dampaknya tetap kuat.
Beberapa kalimat terasa sangat langsung. Tidak berputar-putar. Tidak mencoba menjadi indah.
Dan justru karena itu, efeknya lebih terasa.
Kadang yang paling mengganggu bukan kalimat yang rumit, tapi kalimat yang terlalu jujur.
Kenapa Kontroversi Itu Penting
Karya Djenar sering dianggap kontroversial. Dan mungkin memang begitu.
Tapi setelah membaca, saya mulai berpikir: apakah kontroversi itu selalu buruk?
Kalau sebuah karya tidak menimbulkan reaksi apa pun, mungkin justru itu yang perlu dipertanyakan. Karena itu berarti karya tersebut tidak cukup kuat untuk menggugah pembacanya.
Sebaliknya, ketika sebuah karya membuat orang tidak nyaman, marah, atau bahkan berdebat, mungkin di situlah letak kekuatannya.
Ia memaksa kita untuk merespons.
Ia tidak membiarkan kita tetap diam.
Sastra, Ketidaknyamanan, dan Keluhuran
Pengalaman membaca ini membuat saya melihat sastra dengan cara yang berbeda.
Sastra tidak selalu harus indah.
Sastra tidak selalu harus nyaman.
Sastra tidak selalu harus mudah dipahami.
Kadang, justru ketidaknyamanan itulah yang membuat sastra menjadi bermakna.
Kalau kembali ke Longinus, mungkin inilah yang dimaksud dengan keluhuran: kemampuan sebuah karya untuk mengguncang pembacanya, untuk membuat kita berhenti sejenak, dan untuk memikirkan sesuatu yang sebelumnya tidak kita pikirkan.
Dan karya Djenar melakukan itu dengan sangat baik.
Dari Tidak Suka Membaca, Menjadi Lebih Terbuka
Saya mungkin masih bukan pembaca yang rajin. Saya masih belum terbiasa membaca buku setiap minggu. Tapi pengalaman ini mengubah cara saya melihat sastra.
Saya mulai memahami bahwa membaca bukan hanya tentang menikmati cerita. Kadang membaca adalah tentang menghadapi sesuatu yang tidak kita sukai.
Dan mungkin, justru dari situlah kita belajar sesuatu.
Pada akhirnya, saya menyadari satu hal sederhana: sastra yang baik bukanlah yang membuat kita merasa nyaman.
Tapi yang membuat kita tidak bisa berhenti berpikir, bahkan setelah halaman terakhir selesai dibaca.
Penulis merupakan mahasiswa asal Korea Selatan yang kini tengah menempuh pendidikan S1 di Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.