Ratusan Santri di Sidoarjo Diduga Keracunan Usai Santap MBG, Hampir 200 Masih Dirawat

Ruminews.id, Sidoarjo — Sekitar 250 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, harus mendapatkan penanganan medis setelah mengalami gejala yang diduga akibat keracunan makanan, Selasa (1/9/2026).

Para santri dilaporkan mengalami sejumlah keluhan, mulai dari sakit perut dan mual hingga kondisi tubuh yang memburuk. Keluhan tersebut muncul setelah mereka menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Para santri sebelumnya menyantap makanan MBG seusai salat Zuhur. Beberapa jam kemudian, setelah menjalankan salat Asar, sejumlah santri mulai merasakan gejala sakit.

Kondisi itu kemudian memicu proses evakuasi dari lingkungan pesantren. Menjelang malam, ambulans terlihat keluar-masuk kompleks Pondok Pesantren Manbaul Hikam untuk membawa para santri ke sejumlah fasilitas kesehatan.

Salah satu rumah sakit yang menerima pasien dalam jumlah besar adalah RSUD Notopuro Sidoarjo. Selain itu, para santri juga dibawa ke RS Siti Hajar dan RS Delta Surya.

Bupati Sidoarjo H Subandi turut mendatangi IGD RSUD Notopuro untuk memantau kondisi para santri. Ia memastikan seluruh pasien mendapatkan penanganan medis sekaligus membantah kabar mengenai adanya korban meninggal dunia.

“Ini semuanya anak-anak kita yang di rumah sakit sudah termonitor semua. Yang sudah sembuh kami suruh pulang. Jadi tidak ada yang meninggal. Semua pasien tertangani dengan baik,” kata Subandi, dilansir dari Suara.com.

Subandi mengatakan jumlah santri yang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit mencapai hampir 200 orang. Di RS Siti Hajar, sekitar 58 santri disebut mendapatkan penanganan.

“Yang di rumah sakit ini kurang lebih hampir 200-an. Tapi sudah membaik semua. Yang di Rumah Sakit Siti Hajar kurang lebih ada sekitar 58 dan juga tertangani dengan baik,” ujarnya.

Pemkab Sidoarjo meminta rumah sakit memastikan kondisi para santri benar-benar pulih sebelum diperbolehkan kembali ke pesantren.

“Kami sudah instruksikan direktur rumah sakit agar anak-anak ini ditangani sampai selesai. Setelah kondisinya benar-benar baik, baru dipulangkan. Jadi wali santri tidak usah khawatir,” kata Subandi.

Peristiwa ini menjadi perhatian karena makanan yang dikonsumsi para santri sebelum munculnya gejala disebut berasal dari Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Kalitengah.

Meski demikian, hubungan antara makanan MBG tersebut dan gangguan kesehatan yang dialami para santri belum dapat dipastikan. Penyebab kejadian masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Sampel makanan serta pemeriksaan terhadap para santri menjadi bagian penting untuk mengetahui sumber gangguan kesehatan tersebut. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah gejala yang dialami para santri memang berkaitan dengan makanan MBG atau disebabkan faktor lain.

Di tengah proses evakuasi, sejumlah personel TNI terlihat berjaga di sekitar pesantren. Puluhan wali santri juga mendatangi kompleks pesantren dan menunggu informasi mengenai kondisi anak-anak mereka.

Jumlah santri yang mendapatkan penanganan medis juga masih dapat berubah karena sejumlah santri dilaporkan masih mengalami keluhan.

Hingga Rabu (2/9/2026), penyebab pasti sakit yang dialami ratusan santri tersebut belum diketahui. Pemerintah dan pihak terkait masih perlu menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikan penyebab kejadian sekaligus menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Share

Scroll to Top