Pemkot Jogja Kembangkan “Bang Kosim” untuk Perkuat Ekosistem Industri Kreatif

Bang Kosim
Wali Kota Jogja (keempat dari kanan) berfoto bersama batik segoro amarto di PDIN pada 2025./Istimewa-Dok. Pemkot Jogja

Ruminews.id, Yogyakarta — Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mengembangkan Bang Kosim atau Bangun Kolaborasi Ekosistem Inovasi dan Manufaktur Kreatif sebagai strategi memperkuat industri kreatif sekaligus mengoptimalkan Pusat Desain Industri Nasional (PDIN).

Program tersebut diarahkan untuk mengubah pola layanan PDIN. Fasilitas yang berada di Kota Jogja itu tidak hanya ditujukan sebagai tempat menyediakan layanan desain dan manufaktur kreatif, tetapi juga sebagai ruang yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri kreatif, dan pasar.

Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Perinkop UKM) Kota Jogja, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, mengatakan Bang Kosim dirancang untuk membangun pola layanan yang lebih kolaboratif dan menyesuaikan kebutuhan industri kreatif.

“Melalui Bang Kosim, PDIN tidak lagi sekadar menjadi penyedia fasilitas, tetapi juga berperan sebagai fasilitator sekaligus penggerak ekosistem kreatif yang menghubungkan pemerintah, pelaku industri kreatif, dan pasar,” jelasnya pada Selasa (14/9/2026).

Menurut Tri, Kota Jogja memiliki potensi industri kreatif yang cukup besar. Sejumlah desainer, studio kreatif, dan komunitas telah memiliki kapasitas, tetapi berbagai potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam ekosistem yang terstruktur dan berkelanjutan.

Keterbatasan jejaring dan promosi layanan menjadi salah satu persoalan yang masih dihadapi. Selain itu, belum adanya model kemitraan berbasis kinerja juga membuat potensi industri kreatif belum tergarap secara maksimal.

“Potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap karena keterbatasan jejaring, promosi layanan, serta belum adanya model kemitraan yang berbasis kinerja,” ujarnya.

Melalui Bang Kosim, Pemkot Jogja akan membangun kemitraan dengan desainer profesional, studio kreatif, dan komunitas. Kerja sama tersebut mencakup pembagian peran, standar kualitas layanan, monitoring dan evaluasi, hingga kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Dengan skema tersebut, pemanfaatan PDIN tidak hanya berhenti pada penggunaan fasilitas. Pemkot juga ingin layanan yang dikembangkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku industri kreatif dan daerah.

Salah satu fokus Bang Kosim adalah mengembangkan layanan desain komunikasi visual agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Layanan desain profesional diharapkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus membantu meningkatkan daya saing produk yang dibuat pelaku usaha dan UMKM.

“Dengan pendekatan ini, layanan desain komunikasi visual menjadi lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar dan mampu meningkatkan daya saing produk, khususnya bagi pelaku usaha dan UMKM,” kata Tri.

Penerapan Bang Kosim dilakukan secara bertahap, mulai dari penyusunan konsep, koordinasi internal, uji coba, hingga evaluasi. Setelah tahapan tersebut dilalui, inovasi ini diarahkan untuk diterapkan secara penuh dengan melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem industri kreatif.

Bagi pelaku industri kreatif, program tersebut diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas. Sementara bagi UMKM, layanan desain profesional ditargetkan mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk.

Pemkot Jogja juga menargetkan optimalisasi PDIN dapat memperluas akses layanan bagi pelaku industri kreatif sekaligus meningkatkan kontribusi sektor jasa desain terhadap perekonomian daerah.

“Ke depan, Bang Kosim diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri kreatif lokal sekaligus meningkatkan kontribusi sektor jasa desain terhadap perekonomian daerah,” ujarnya.

Share

Scroll to Top