ruminews.id, Gowa — Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang akan dilaksanakan di Bandar Lampung bukan sekadar momentum pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, kongres harus menjadi ruang untuk membaca kembali arah perjalanan HMI di tengah perubahan sosial, politik, ekonomi, dan kebangsaan yang semakin kompleks.
Sebagai Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya, saya memandang bahwa kongres nantinya harus dikembalikan pada substansi perjuangan. HMI tidak boleh berhenti pada dinamika perebutan posisi dan kepentingan elektoral internal, tetapi harus mampu melahirkan gagasan besar tentang masa depan bangsa.
Kongres seharusnya menjadi ruang dialektika kader untuk menjawab persoalan-persoalan rakyat: ketimpangan ekonomi, krisis pendidikan, pengangguran generasi muda, persoalan demokrasi, korupsi, kerusakan lingkungan, hingga semakin jauhnya kebijakan publik dari kebutuhan masyarakat.
HMI harus berani keluar dari rutinitas dan kembali menjadi organisasi yang berpikir.
Kita membutuhkan kepemimpinan nasional HMI yang tidak hanya mampu mengelola organisasi, tetapi juga memiliki keberanian intelektual, integritas moral, serta kemampuan membaca zaman. Ketua Umum PB HMI ke depan harus mampu menyatukan energi cabang dan komisariat sebagai kekuatan intelektual sekaligus kekuatan sosial yang berpihak kepada kepentingan rakyat.
Bagi kami di HMI Cabang Gowa Raya, kongres bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kongres adalah tentang bagaimana HMI menemukan kembali orientasi perjuangannya.
Kita harus memastikan bahwa proses demokrasi di dalam tubuh HMI tidak kehilangan nilai-nilai independensi, keislaman, keumatan, dan kebangsaan. Perbedaan pilihan adalah keniscayaan, tetapi persatuan kader setelah kongres adalah kewajiban organisasi.
HMI hari ini membutuhkan rekonsiliasi gagasan, bukan sekadar rekonsiliasi kepentingan.
Karena itu, kami berharap Kongres HMI di Bandar Lampung nantinya mampu melahirkan kepemimpinan yang bukan hanya mendapatkan legitimasi forum, tetapi juga memiliki legitimasi moral di hadapan kader dan masyarakat.
HMI harus kembali menjadi rumah besar bagi kaum intelektual muda yang gelisah melihat ketidakadilan, berani menyampaikan kritik, sekaligus menawarkan solusi.
Dari Bandar Lampung, mari kita tegaskan kembali bahwa masa depan HMI tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat dalam kontestasi, tetapi oleh siapa yang paling mampu menjaga marwah organisasi dan menerjemahkan nilai-nilai perjuangan HMI menjadi kerja nyata bagi umat dan bangsa.
HMI harus kembali kepada khittahnya: menjadi insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT.



