Kapten Kapal Asal Gowa Masih Disandera Perompak Somalia, DPR Desak Pemerintah Bentuk Task Force

Ruminews.id, Jakarta — Upaya pembebasan Kapten Ashari Samadikun (33), nahkoda asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang disandera perompak di perairan Somalia selama sekitar tiga bulan terakhir, masih menemui berbagai kendala.

Ketidakjelasan pihak yang dapat diajak bernegosiasi hingga berubah-ubahnya tuntutan uang tebusan membuat proses penyelamatan belum menunjukkan perkembangan signifikan.

Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal, mengatakan laporan yang diterimanya menunjukkan belum ada pihak yang dapat dipastikan mewakili kelompok penyandera untuk membuka jalur komunikasi resmi.

“Dari laporan yang kami terima, tidak jelas contact person atau lembaga yang bertanggung jawab untuk diajak bernegosiasi. Jadi para pihaknya tidak jelas,” ujar Syamsu Rizal di Makassar, Selasa (28/7).

Selain kesulitan membangun komunikasi, lokasi para sandera disebut terus berpindah sehingga menyulitkan proses pelacakan maupun penyusunan langkah penyelamatan.

Menurut Syamsu Rizal, ketidakpastian juga terjadi pada nilai uang tebusan yang diminta kelompok perompak. Informasi yang diterima terus berubah, mulai dari dua juta dollar AS, kemudian meningkat menjadi lima juta dollar AS, hingga terakhir disebut mencapai 10 juta dollar AS.

Ia menilai pemerintah perlu mengambil peran yang lebih besar dengan mengoordinasikan seluruh pihak terkait agar proses pembebasan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Karena itu, Syamsu Rizal mendesak pemerintah segera membentuk satuan tugas (task force) yang melibatkan TNI, Kementerian Luar Negeri, serta kementerian dan lembaga terkait untuk menyatukan langkah dalam penyelamatan para sandera.

“Kita ingin pemerintah hadir dengan membentuk task force supaya informasi mengenai tuntutan tebusan menjadi jelas. Tetapi yang paling penting adalah keselamatan WNI kita,” katanya.

Ashari merupakan salah satu dari 19 awak kapal MT Honour 25 yang disandera perompak Somalia sejak sekitar tiga bulan lalu. Dari jumlah tersebut, empat orang merupakan warga negara Indonesia.

Dalam rapat bersama TNI dan Kementerian Luar Negeri, Syamsu Rizal juga memperlihatkan video yang dikirim ayah Ashari, Syamsuddin Dg Ngawing. Rekaman tersebut menunjukkan kondisi para sandera yang semakin memprihatinkan.

Di tengah penyanderaan, Ashari masih menjalankan ibadah. Para awak kapal juga terpaksa menyaring air keruh menggunakan botol air mineral sebelum diminum karena keterbatasan air bersih.

Di sisi lain, perusahaan pemilik MT Honour 25 disebut belum memiliki kemampuan finansial untuk memenuhi tuntutan kelompok perompak.

“Kabar terakhir perusahaan tinggal mengikuti proses karena kemampuannya terbatas. Yang belum jelas adalah berapa sebenarnya nilai tebusan yang diminta, apakah benar sampai 10 juta dollar atau tidak,” ujar Syamsu Rizal.

Sementara itu, ayah Ashari, Syamsuddin Dg Ngawing, mengaku belum melihat perkembangan berarti dalam upaya pembebasan putranya. Menurut dia, baik perusahaan maupun pemerintah belum menunjukkan hasil nyata dalam proses negosiasi.

Ia juga menyebut persediaan logistik di atas kapal semakin menipis, sementara komunikasi dengan Ashari kian sulit dilakukan karena para sandera berada di bawah pengawasan ketat kelompok bersenjata.

“Itu kondisi sekarang, sama sekali pihak perusahaan tidak ada yang peduli terhadap orang-orang yang ada di atas kapal,” kata Syamsuddin.

Keluarga berharap pemerintah dapat mempercepat langkah diplomasi dan koordinasi agar seluruh awak MT Honour 25, khususnya empat warga negara Indonesia yang masih disandera, dapat segera dibebaskan dan dipulangkan dengan selamat.

Share

Scroll to Top