Opini

Opini

Buta Atau Tidur? Semoga Hanya Tertidur.

ruminews.id – Indonesia, tanah yang subur dan kaya akan sumber daya, namun dewasa kini seolah menjadi panggung drama besar bagi pertarungan antara kerakusan dan kehancuran. Miris rasanya naskah drama ini ditulis oleh tangan-tangan manusia yang lebih memilih untuk menutup mata. Mereka menuutup mata terhadap data ataupun hasil riset. Tutup mata terhadap pengkajian para pakar lingkungan, akademisi, dan cendekiawan. Tutup mata terhadap realita di lapangan, di mana hutan-hutan terus dirambah, tanah-tanah digali hingga ke inti, dan langit yang dulunya biru kini dihiasi abu serta asap yang tentunya kurang bersahabat dengan makhluk hidup. Indonesia, rumah kita, ironisnya menjadi rumah yang paling nyaman bagi para pelaku industri ekstraktif dan smelter. Aktivitas ini diiklankan dengan jargon “kemajuan”, “peningkatan ekonomi”, atau bahkan “kesejahteraan nasional”. Namun, siapa sebenarnya yang makmur? Sebagian besar rakyat tetap menatap kosong masa depan, sementara segelintir orang yang di atas menari di atas emas yang tak pernah mereka gali dengan tangan mereka sendiri. Apakah kita buta? Atau hanya tertidur? Barangkali lebih tepatnya, kita tengah terjebak dalam hibernasi panjang yang dinamakan antroposentrisme. Sebuah pandangan yang menganggap bahwa manusia adalah pusat dari segala sesuatu, seakan-akan bumi dan alam semesta ada hanya untuk melayani kebutuhan kita. Dalam tidur panjang ini, kita bermimpi indah tentang pembangunan tanpa batas, tanpa menyadari bahwa mimpi ini berubah menjadi mimpi buruk bagi generasi mendatang. Kita tidak kekurangan data, riset, atau peringatan. Para ilmuwan telah memberikan alarm, tetapi alarm ini hanya menjadi musik latar yang kita abaikan. Perubahan iklim bukanlah teori abstrak; ia nyata di depan mata. Banjir yang semakin sering, kekeringan yang kian panjang, dan udara yang semakin sulit dihirup bukanlah cerita dari negeri dongeng. Itu adalah pesan dari alam yang meminta kita untuk segera bangun. Namun, kita tetap menutup telinga, menganggap bahwa semua itu hanyalah “kebetulan atau mekanisme dari alam”. Buta atau tidur? Semoga hanya tertidur. Karena jika benar kita tertidur, maka setidaknya ada harapan untuk terbangun. Namun, jika kita buta, maka kita benar-benar kehilangan kemampuan untuk melihat jalan keluar. Tidur panjang antroposentrisme harus segera diakhiri sebelum ia menjadi kuburan bagi kita semua. Sebuah perubahan paradigma diperlukan dari antroposentrisme. menuju ekosentrisme. Paradigma yang memandang bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa mutlaknya. Bangunlah, wahai pemimpin negeri. Bangunlah, wahai rakyat Indonesia. Kita tidak hidup di atas tanah warisan leluhur semata, melainkan di atas tanah titipan anak-cucu. Jangan sampai kita hanya mewariskan debu, air mata, dan cerita tentang sebuah bangsa yang memilih untuk tetap tertidur, meski alam sudah meraung mengumandangkan peringatan untuk bangun. Ketika kita membuka mata, mari kita mulai dengan bertanya: untuk siapa pembangunan ini sebenarnya? Untuk siapa hutan-hutan ini terus ditebang? Dan untuk siapa bumi ini, kalau bukan untuk semua makhluk yang hidup di atasnya? Mungkin, jawabannya ada pada kesadaran yang selama ini kita abaikan. Bukan pembangunan yang kita butuhkan, melainkan keberlanjutan. Karena bumi, rumah kita, hanya akan menjadi rumah yang layak dihuni jika kita berhenti menjadi tamu yang tak tahu diri.

Opini

Mitos Tiga Bagian Otak

ruminews.id – Paul D. MacLean pertama kali memperkenalkan konsep Triune Brain Theory pada awal 1960-an. Paul MacLean mengusulkan bahwa otak manusia terdiri dari tiga lapisan evolusioner yang berkembang secara bertahap. Yang pertama adalah Otak Reptil. Ini adalah bagian otak paling tua, yang katanya mirip dengan otak reptil. Bagian ini terdiri dari struktur seperti batang otak dan ganglia basal. Menurut MacLean, tugasnya adalah menangani hal-hal mendasar untuk bertahan hidup, seperti bernapas, menjaga detak jantung, dan respons otomatis seperti melawan bahaya atau melarikan diri. Dia juga percaya bagian ini bertanggung jawab atas perilaku yang sifatnya ritual atau kebiasaan. Kemudian Sistem Limbik (Paleomammalian Brain), yang muncul setelah mamalia pertama berevolusi. MacLean menyebutnya sebagai “pusat emosi” yang mengatur perasaan, hubungan sosial, dan naluri seperti rasa sayang seorang ibu pada anaknya. Di sini juga termasuk respons emosional seperti rasa takut, marah, atau senang, yang membantu mamalia berinteraksi lebih baik dengan sesamanya. Evolusi terakhir adalah Neokorteks (Neomammalian Brain), lapisan yang paling modern dan berkembang pesat pada manusia. Ini adalah bagian otak yang membantu kita berpikir secara logis, berbicara, menciptakan sesuatu, dan memecahkan masalah. Neokorteks inilah yang membedakan manusia dari hewan lainnya karena mendukung kemampuan berpikir yang sangat kompleks. MacLean berusaha menjelaskan perbedaan fungsi otak pada berbagai spesies, terutama antara reptil, mamalia, dan manusia. Dia berpikir bahwa setiap “lapisan” otak ditambahkan selama evolusi untuk memenuhi kebutuhan spesies yang lebih kompleks. Teorinya didasarkan pada pengamatan bahwa reptil memiliki struktur otak sederhana, sedangkan mamalia memiliki tambahan sistem limbik, dan manusia memiliki neokorteks yang lebih besar. Teori ini awalnya sangat populer karena mudah dipahami dan terlihat masuk akal. Banyak buku populer, guru, dan bahkan ahli psikologi menggunakan konsep ini untuk menjelaskan perilaku manusia. Lisa Feldman Barrett, ahli saraf dan psikolog, dalam “Seven and a Half Lessons About the Brain” menjelaskan bahwa model tiga bagian otak ini sudah ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan fakta ilmiah. Penelitian lebih lanjut di bidang neurobiologi menunjukkan bahwa teori tersebut terlalu sederhana dan tidak akurat. Otak manusia tidak berkembang secara berlapis-lapis seperti yang diklaim MacLean. Sebaliknya, semua bagian otak berfungsi bersama dalam jaringan yang saling terkait. Model tiga bagian otak disebut mitos karena ide ini tidak benar secara ilmiah. Model tersebut tidak mencerminkan bagaimana otak sebenarnya bekerja. Orang dulu berpikir bahwa otak kita seperti bangunan yang dibangun bertahap. Sekilas masuk akal, tapi ternyata ilmu saraf modern menunjukkan itu keliru. Otak kita tidak bekerja seperti tiga mesin terpisah. Faktanya, semua bagian otak kita, baik yang kuno maupun modern, berkembang bersamaan dan saling terhubung. Semua vertebrata (termasuk reptil, mamalia, dan manusia) memiliki struktur otak yang mirip, hanya ukurannya yang berbeda. Otak manusia tidak menambahkan “lapisan baru” di atas otak reptil, tetapi berkembang menjadi sistem yang lebih rumit dan terintegrasi. Mitos berikutnya adalah setiap bagian otak punya fungsi yang spesifik. Orang dulu berpikir “otak reptil” cuma untuk naluri bertahan hidup, dan “neokorteks” untuk berpikir logis. Tapi sebenarnya, bagian otak yang sama bisa mengatur logika dan emosi. Dalam mitos triune, kegugupan seseorang dianggap berasal dari “otak reptil” yang takut pada ancaman. Dalam pandangan modern, kegugupan tersebut adalah hasil dari otak kita yang memprediksi potensi ancaman sosial berdasarkan pengalaman sebelumnya, dan neokorteks kita berkontribusi dengan menciptakan kekhawatiran tambahan melalui skenario “bagaimana jika”. Jadi, saat kita merasa cemas sebelum ujian, otak kita tidak hanya “merasa”, tapi juga mencoba memikirkan apa yang salah. Ilmu saraf modern melihat otak sebagai organ yang terdistribusi secara fungsional, artinya tidak ada satu bagian otak yang sepenuhnya bertanggung jawab atas satu fungsi tertentu seperti emosi atau rasionalitas. Banyak orang percaya ada satu “pusat emosi” di otak, yaitu sistem limbik. Tapi itu mitos juga karena emosi adalah hasil kerjasama banyak bagian otak, termasuk neokorteks. Ketika seseorang merasa marah, maka itu melibatkan kerjasama antara neokorteks (memahami situasi), amigdala (pemicu emosi), dan bagian otak lainnya. Selain itu, otak kita memprediksi situasi yang mungkin terjadi. Misalnya, otak memikirkan potensi “bahaya sosial” seperti kekhawatiran bahwa audiens tidak menyukai presentasi kita. Di saat yang sama, bagian logis otak (neokorteks) bekerja keras merencanakan apa yang harus kita katakan atau lakukan untuk mengurangi rasa gugup. Jadi, rasa gugup adalah hasil dari otak yang mencoba melindungi kita dan sekaligus membantu kita mengatasi situasi tersebut. Semua bagian otak saling bekerjasama seperti tim, bukan hanya “otak reptil” yang bereaksi sendirian. Otak kita terus membuat prediksi tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Saat kita melihat seseorang mengangkat tangan, otak kita langsung mencoba menebak apakah dia akan melambai, berjabat tangan, atau melakukan sesuatu yang lain. Dengan prediksi ini, otak membantu kita bereaksi lebih cepat dan lebih efisien. Cara kerja otak yang sebenarnya lebih mirip dengan orkestra besar daripada tumpukan lapisan. Setiap bagian otak bekerja bersama, saling mendukung, untuk menciptakan harmoni dalam pikiran dan tindakan kita. Tidak ada satu bagian otak yang bekerja sendirian. Seluruh otak bekerja sebagai jaringan yang terintegrasi, dari bagian yang lebih tua (seperti batang otak) hingga bagian yang lebih baru (seperti neokorteks). Seperti anggota orkestra, meskipun masing-masing alat musik punya peran, mereka harus bekerjasama agar menghasilkan musik yang indah. @pakarpemberdayaandiri Ayo Gabung Komunitas Pakar Pemberdayaan Diri Untuk Pemograman Pikiran dan Tubuh dengan klik: https://tribelio.page/syahril-syam #thesecretofattractorfactor #changelimitingbeliefs #pakarpemberdayaandiri #SelfAwarenessTransformation

Opini

Perdebatan Imaginer Antara Karl Marx dan Adam Smith.

ruminews.id – Di suatu ruang imajiner di alam filsafat, Karl Marx dan Adam Smith sedang duduk berdebat. Keduanya tampak serius, tetapi ada secangkir teh dan sepiring kue di antara mereka, memberikan suasana santai. Marx membuka diskusi dengan senyumnya yang khas. “Smith, teorimu tentang invisible hand itu menarik, tapi kau benar-benar percaya bahwa tangan tak terlihat itu bisa menyelesaikan semua masalah ekonomi?” Smith mengangkat cangkir tehnya dengan tenang. “Tentu saja, Marx. Biarkan pasar bekerja, dan semuanya akan mencapai keseimbangan.” Marx tertawa kecil. “Jadi, menurutmu, jika seorang tukang roti menaikkan harga roti karena ‘invisible hand’, para pekerja pabrik yang gajinya rendah akan tetap makan roti dengan damai?” Smith menjawab, “Jika pasar bebas, kompetisi akan memaksa tukang roti menurunkan harga. Itu logika dasarnya!” Marx menggeleng sambil tersenyum sinis. “Dan selama itu, para pekerja mungkin sudah makan angin. Bukankah lebih baik ada regulasi yang memastikan semua orang mendapat roti dengan harga terjangkau?” Smith meletakkan cangkir tehnya dan berkata, “Tapi regulasi itu seperti menaruh tangan manusia ke dalam mesin pasar yang sempurna. Itu hanya akan memperlambat segalanya.” Marx tertawa lagi. “Kalau begitu, tangan tak terlihatmu itu hanya untuk orang kaya yang sudah punya roti. Sementara pekerja harus berjuang sendiri. Kau tahu, Smith, jika aku jadi roti, aku pasti sudah mogok produksi!” Smith tersenyum kecil. “Dan jika semua roti mogok produksi, Marx, maka bahkan kapitalis pun tidak akan punya roti. Jadi mungkin, pada akhirnya, kita saling membutuhkan—aku dengan tanganku yang tak terlihat, dan kau dengan revolusimu yang selalu terlihat.” Keduanya tertawa, dan seorang pelayan tiba-tiba masuk ke ruangan untuk menyajikan lebih banyak teh. Pelayan itu tersenyum dan berkata, “Tuan-tuan, aku hanya ingin bertanya. Apakah kalian akan berdebat tentang roti sepanjang hari, atau bisakah aku mendapat upah lebih karena melayani kalian?” Marx dan Smith saling pandang, lalu tertawa keras. Smith berkata, “Aku yakin tanganku yang tak terlihat akan menyelesaikan itu.” Marx menimpali, “Dan aku yakin aku harus menulis manifesto baru untuk itu!” Ruangan pun dipenuhi tawa, bahkan si pelayan ikut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Opini

Membaca HMI Dalam Pergulatan Waktu

ruminews.id – Berorganisasi atau bernegara dalam skala yang lebih besar seperti siklus hidup manusia. Lahir, tumbuh, besar dan mati. Sebagaimana Allah Berfirman dalam al Qur’an “Walikulli ummatin ajal – setiap ummat atau kelompok atau komunitas akan menemukan azalnya”. 76 tahun adalah usia yang cukup lama bagi sebuah komunitas. Ihwal itulah yang menandakan, bahwa “Lafran” muda kala itu dengan niat yang ikhlas membidani lahirnya himpunan mahasiswa Islam ini. Setiap zaman telah dilalui HMI. Tahun 80-an kita terjebak dalam pertikaian ideologis sesama kader. Kita lalu terbelah menjadi (Dipo Dan MPO). akibat azas tunggal rezim soeharto, residunya masih ada hingga kini. Biasanya jelang kongres hampir setiap kandidat ketua umum PB HMI (Dipo) mengangkat isu univikasi HMI. tetapi hingga kini belum juga tercapai. Tentu Ini pekerjaan rumah kader Visioner, agar Kedepannya harus di seriusi dan kembali ke satu rumah yang sama. Alasan ideologis sudah selesai, tinggal teknis penyatuan yang mesti dirancang dengan baik. Entah mengapa, saya selalu resah dengan dinamika HMI hari ini yang tidak lagi berangkat dari semangat awal lahirnya. Jika ada “keributan” justru hanya berkisar di wilayah PERUT dan DI BAWAH PERUT. Tidak lebih. Padahal, alasan paling Fundamental Kekalahan Rosulullah SAW Diperang Uhud?. Bukan karena kuatnya musuh. Tetapi, tergiurnya pasukan panah Rosulullah yang meninggalkan bukit Uhud, pada harta (Ghonimah) dan mengabaikkan perintah Rosul (Agama) untuk tidak meninggalkan bukit uhud. Artinya Kemenangan ada syarat-syaratnya, begitupun kekalahan ada sebab-sebabnya. Relevansinya ialah jika kita berkader – Berhimpun hanya untuk mendapatkan Harta dunia. Jika kita berkader hanya untuk merengkuh popularitas, dan Jumawa menjadi ketua Umum. Maka, jangan berharap kemenangan berada dipihak kita. Kemenangan memang punya syarat yang berat, namun kekalahan pun punya resiko yang tidak ringan. Tetapi, dalam sejarah, Rosulullah SAW juga tidak menyalahkan pasukan pemanah yang meninggalkan bukit uhud, karena tergiur Ghonimah. Justru, Yang di lakukan Rosulullah SAW adalah mengevaluasi pasukannya, memperbaiki mental dan setelahnya hampir pasukan islam tidak pernah kalah saat berperang. Tidak ada satu komunitas yang akan bertahan, hingga kiamat. Semua akan menemui ajalnya (bubar) dalam skala waktu, sebab relevan dengan entitasnya yang selalu dialektis. Entah menemukan kejayaan atau bubar. tergantung apa yang kita lakukan terhadap pelanjut risalah (kader) sekarang dan ke depan. Dinasti-dinasti besar yang di bangun dengan kekuatan pasukan perang paling Canggih, bisa hancur meninggalkan puing. Kini menjadi sejarah. ” Walikulli Ummatin Azal (setiap Ummat atau kelompok atau Komunitas mempunyai ajal)”. Tinggal bagaimana cara matinya. Khusnul khotimah atau Suulkhotimah. dengan cara bermartabat atau malah terhina, dengan jalan yang terbaik atau malah mati, karena penghianatan dari dalam. Khalifah umar misalnya yang masa Hidupnya sangat garang, di segani kawan, di takuti lawan. Ternyata sebab matinya ditikam penghianat Abu Lu’luah atau Khalid bin Walid yang sebahagian nafasnya dimedan perang, namun matinya diatas tempat tidur. Jika Setiap perkumpulan atau kelompok ada masa lahir dan matinya. Maka, hanya ada dua jalan menurut saya dalam mempertahankan eksistensi komunitas atau kelompok. Pertama ialah Individu : setiap individu adalah kader yang hampir memenuhi kualifikasi menjadi pemimpin. Kedua, kualifikasi pemimpin hanya akan terlahir dari belajar terus menerus dan merawat ide-ide besar (Mendorong basis – Basis kultural). Demikianlah rumus siklus waktu untuk tetap eksis. HMI sebagai sebuah lembaga yang dari awal dilahirkan bertujuan, untuk menciptakan generasi tangguh, diberi beban untuk mengembangkan dan menyebarkan syiar Islam. Namun secara empiris sudah perlahan-lahan masuk dalam jebakan iblis yang Durjana. Banyak anggotanya sudah tidak lagi menjadikan generasi awal HMI sebagai contoh yang baik dalam menjalankan aktifitas organisasi. Pedoman-pedoman dan Kosntitusi HMI sekedar sebagai penghias rak-rak buku yang hanya dipakai jika relevan dengan kepentingan diri dan kelompokoknya. Padahal Kader adalah mata air peradaban, kerja-kerja organisasinya berorientasi ibadah. Menit dan detik berpikirnya tentang kemaslahatan ummat. tindakannya selalu relevan dengan realitas. Di ujung lidahnya rakyat menitip asa. Ia resah, jiwannya berontak. Ia rela bersusah-susah untuk orang susah. Jika bicara, terbaca kedalaman ilmu di ujung lidahnya. Ia pemikir sekaligus pemberontak, perlawanan yang ia lakukan karena kedalaman ilmunya. Ia bertahan dengan argumentasi yang kokoh, menyerang dengan bahasa yang kuat, padat dan berisi. Ia tidak melulu mengeksploitasi nestapannya. narator sekaligus menerima jalan yang di laluinya. Ia nikmati Ghonimah berkader dengan sadar. Bahwa berbagi ilmu, harta dan mengkader adalah jalan serta resiko yang di tanggungnya sampai mati. Ini jalan jihad, ini lorong suci. Lalui saja dengan riang gembira. Nikmati hasilnya dengan kemeriahan dan deklarasikam bahwa kader Visoner tidak akan pernah menyerah dengan kalah. Jika kita bertamasya pada Sejarah terbelahnya komunitas-komunitas besar dulu, maka kita bisa menangakap apa yang mereka pertaruhkan: Awal Februari 1923 Sarikat Islam yang besar itu. mengadakan kongres ke VII di Madiun. Menghasilkan keputusan menambah nama partai di awal Serikat Islam menjadi PSI. Ternyata ada gerbong revolusioner di bawah Semaoen dkk, menolak hasil kongres versi HOS Tjokroaminoto. Mereka menuduh HOS dan kelompoknya terlalu kooperatif dengan pemerintahan kolonial belanda. Rivalitas ideologis yang terjadi antara HOS dan Semaoen di internal SI meruncing. Semaoen yang tidak kalah cerdas dengan HOS Tjokroaminoto Itu memprovokasi kelompok Islam abangan. Meyakinkan kepada mereka tentang relevansi agama (Islam) dan ajaran-ajaran kiri (Marxisme – Leninisme). Hasil konfrontasi dan penolakan terhadap kongres Madiun itu berakhir dengan dibuatnya kongres tandingan pada awal maret 1923 di Kota Bandung. Semaoen dkk berganti nama menjadi Serikat Rakyat yang berhaluan Komunis. Dalam konteks ideologis, terbelahnya Serikat Islam menjadi merah dan putih, hampir sama dengan kisah terbelahnya HMI menjadi dua. Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) yang menolak pemberlakuan azas tunggal dan konsisten dengan azas Islamnya dan menuduh kelompok HMI (Dipo) terlalu kooperatif dengan rezim Soeharto waktu itu. Dua kisah perpecahan di atas akibat dari konflik ideologis, juga bahagian dari strategi dalam mempertahankan eksistensi organasasi. Di samping itu, faktor yang menjadi penyebab terbelahnya juga bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Coba kita lihat apa yang terjadi pada HMI hari ini, di struktur paling atas, Pengurus Besar dan Pengurus Cabang. kuasa diperebutkan, popularitas di pertengkarkan. Tontonan yang tidak patut di pentaskan di hadapan ribuan kader-kader yang ikhlas mengabdi. Mereka saling menggigit satu sama lain, bukan pada masalah-masalah ideologis atau soal perbedaan konsep mengorganisir massa untuk melawan rezim yang dzolim. Bukan. Jangan bohong, HMI memang sedang masuk dalam perangkap iblis. Perebutan kekuasaan di tingkat cabang diawali dengan operasi komisariat – komisariat dengan mengiming-imingi Jabatan struktural (ini contoh umum). Ide dan gagasan

Opini

Mengapa Berita Pagar Makan Laut Seheboh ini ? Simpel : Banyak Kepentingan Dan Menyangkut Duit Super Besar!

ruminews.id – Liputan Majalah Tempo edisi pekan ini (19 Januari 2025), Bagus Anda baca untuk mengetahui ada apa di balik skandal pagar laut, terutama dugaan keterhubungannya dengan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI). Dulunya, PANI adalah produsen kaleng kemasan (PT Pratama Abadi Nusa Industri) sebelum pada 2021 dibeli mayoritas sahamnya (80%) oleh PT Multi Artha Pratama (MAP)—perusahaan yang dikaitkan dengan duet taipan: Aguan (Agung Sedayu) dan Anthony Salim. Dulu, saham perusahaan ini adalah saham tidur dan baru awal-awal Juli 2022 mulai diakumulasi kemudian di-mark-up: dari Rp350-an sampai sekarang Rp15 ribuan lebih. Dibenarkan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid (20 Januari 2025), terdapat “sertifikat yang berseliweran di kawasan pagar laut.” Ada 263 bidang SHGB: 234 bidang atas nama PT Intan Agung Makmur; 20 bidang atas nama PT Cahaya Inti Sentosa; 9 bidang atas nama perseorangan (entah siapa, tak disebut); dan Sertifikat Hak Milik (SHM) 17 bidang atas nama siapa, entahlah. PT Cahaya Inti Sentosa jelas dikendalikan oleh PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dengan kepemilikan 99,33%—seperti tercatat di Laporan Keuangan Q3-2024. PT Intan Agung Makmur punya siapa, belum bisa saya pastikan karena saya kesulitan mengakses situs AHU Kemenkumham (mungkin lagi error). Tapi di situs itu dicantumkan alamat perusahaan di Jl. Inspeksi PIK 2 Nomor 5 (Terusan Jalan Perancis), Kabupaten Tangerang, Banten. Nusron baru tiga bulanan jadi Menteri ATR/BPN, sementara barang itu semua terbit 2023, waktu presidennya adalah bapaknya Wapres Gibran dan Menteri ATR/BPN-nya Hadi Tjahjanto—yang kemudian jadi Menkopolhukam, masih di zaman bapaknya Gibran juga. Nusron menyatakan akan mengutus bawahannya untuk “melakukan koordinasi” apakah SHGB itu berada di dalam atau luar garis pantai kepada pihak badan geospasial (kata menteri, itu tidak terlalu sulit, paling satu hari). Kalau ternyata SHGB terbit di atas laut (artinya langgar aturan), sertifikat akan dibatalkan. Langkah sang menteri bagus-bagus saja, tapi masalahnya saya pribadi waswas dengan kata “koordinasi.” Mengapa kalau mengeceknya tidak sulit dan hanya butuh waktu sebentar, tidak dicek dulu kelayakan SHGB itu baru kemudian konferensi pers untuk mengumumkan sertifikatnya dibatalkan atau tidak? Mengapa butuh ‘jeda waktu untuk berpikir’ (“berkoordinasi”) yang bisa memunculkan syakwasangka bakal ada bau macam-macam selama 1 × 24 jam ke depan? Tapi, okelah, kita lihat saja nanti hasil “koordinasinya”  pa. Mungkin perlu “koordinasi” juga kepada raja Jawa di Solo sana karena semasa dialah sertifikat terbit dan status Proyek Strategis Nasional (PSN) disematkan buat proyek PIK 2. Sebagai negara “koordinasi,” mungkin perlu juga “koordinasi” dengan koordinator taipan dan penguasa sekarang untuk menentukan barang ini ‘bagusnya diapain.’ Misal, dibatalkan dulu untuk kemudian diterbitkan lagi di lokasi yang sama setelah berita mereda; dibatalkan seluruhnya untuk kemudian diganti di lokasi lain; dipaksakan di lokasi yang sama tapi pakai ‘dokumen terbang’… dan sebagainya, plus berapa dolar/rupiah kemenyannya. Idealnya memang kita bicara pagar laut dari sudut pandang kepentingan publik, misalnya nasib nelayan, kerusakan lingkungan laut, kemiskinan di kampung sekitar PIK 2. Tapi kita tak bisa naif juga untuk bahasa terang saja bahwa semua kelat-kelit ini ujungnya adalah duit, sebab apa yang paling “menarik” bagi pejabat korup dan pemburu rente ya duit itu tadi. Motif duit itu juga agaknya yang mendasari entah siapa bos besar yang perintahkan bikin pagar untuk mematok-matok laut supaya kelak bisa dibangun unit dan dijual kepada konsumen. Menurut neraca Q3-2024, aset PANI Rp44,1 triliun dan Rp34,3 triliunnya (78%) berupa persediaan/cadangan lahan yang berlokasi di Tangerang, Banten. Perusahaan ini punya 12,02 juta m² tanah yang sedang dikembangkan dengan status HGB berupa tanah kaveling yang siap dijual. Sementara tanah yang belum dikembangkan 6,7 juta m². Tak sejengkal pun cadangan lahan itu yang dijadikan jaminan kredit. Malah, perusahaan pegang setidaknya Rp15,8 triliun dari uang muka penjualan properti (kaveling, rumah tinggal, kantor, dan gudang). Dia juga dapat fasilitas kredit modal kerja Rp384 miliar dari BNI. Jika Rp15,8 triliun adalah uang muka yang kita asumsikan 30%, maka total nilai properti yang dijual oleh PANI mencapai Rp52 triliun lebih.Anda nilai sendiri berapa puluh/ratus triliun nilai keseluruhan bisnis ini sekarang dan di masa depan. Belum lagi dengan cadangan lahan yang dimiliki dan bukan tidak mungkin ke depan akan bertambah lagi (lahan darat habis, laut masih luas). Jadi, kalau, misalnya, hanya keluar Rp12 miliar untuk bangun pagar laut 30 km, sekian miliar untuk “koordinasi” pejabat sana-sini… rasanya itu seujung kuku saja. Saya khawatir cerita pagar laut ini berakhir antiklimaks seperti biasanya: para pejabat dan taipan tetap cuan dan happy, masyarakat kecil gigit jari. Sialnya, masyarakat kecil itu adalah kita! Salam “Koordinasi”. Artikel ini diterbitkan  dengan persetujuan penulisnya sendiri.

Opini

Kopi dan Inspirasi Revolusi Prancis

ruminews.id – Pada awal abad ke-18, seorang Italia bernama Francesco Procopio Dei Coltelli membuka sebuah kedai kopi bernama Le Procope di Paris. Siapa sangka, revolusi Prancis yang termahsyur itu berawal dari obrolan-obrolan di kedai kopi ini. Procope menjadi tempat untuk berbagi informasi hingga dikenal sebagai tempat untuk pencerahan karena kalangan intelektual pun berkumpul di tempat ini. Beberapa seniman dan intelektual Paris seperti JJ Rousseau, Diderot, Voltaire, dan Pirot, menjadi pelanggan setia. Diskusi di Le Procope makin panas karena mulai membicarakan soal pemisahan kekuasaan dalam negara. Hal ini terkait dengan perkembangan di Paris yang rakyatnya mulai mengkritik kekuasaan absolut raja. Ketika mulai menemukan dimensi sosialnya, kopi tak lagi sekedar minuman yang rutin dikonsumsi, tapi juga terlibat dalam banyak perubahan sosial-politik di Eropa. Linda Civitello mengatakan, untuk kali pertama orang (Eropa) memiliki alasan untuk berkumpul di ruang publik tanpa melibatkan alkohol. Kegiatan ini pun berkembang menjadi rutinitas sosial yang bersifat politis. Sebagaimana ditulis situs The Economist pada 7 Juli 2011, “Back to the coffee house”, pada era tersebut konsep media massa belum lagi dikenal. Berita tersebar dari mulut-ke mulut di kedai-kedai kopi, melalui proses dialogis. Pada tahun 1675, Raja Inggris, King Charles II membuat pernyataan tentang pelarangan kedai kopi, dengan alasan dapat membuat orang mengabaikan tanggung jawab sosial dan menggangu stabilitas kerajaan. Hal serupa sempat terjadi di jerman, ketika popularitas kopi sudah mendapatkan dimensi sosialnya, sang penguasa, Frederick The Great (1977) mengeluarkan pernyataan yang mendukung minuman tradisional jerman, yaitu bir dibanding dengan kopi. Kisah diatas hanya satu dari banyak cerita bagaimana kopi digambarkan mampu memberi daya inspirasi bagi gerakan perubahan sosial. Kandungan kafein dari kopi mengaktifkan akal yang tertidur, melahirkan rantaian inspirasi dan menciptakan sebuah gerakan dan aksi sosial yang revolusioner. Sudah ngopi pagi ini?! Erwin Lessy

Opini

Kebencian adalah bagian dari hakikat, Keindahan hanya imajinasi semata.

ruminews.id – Henry Charles Bukowski, Sepertinya kita akan sulit memahami pernyataan Charles Bukowsky. Tapi sebelumnya, lebih baik menempatkannya sebagai pernyataan atau perkataan satire. Lebih tepatnya sebagai pernyataan ironi atas refleksi suatu potret kehidupan. Kita akan mudah memahaminya jika keindahan sebagai hakikat dan kebencian sebagai imajinasi. Namun itu idealnya, seharusnya, dan semestinya. Sebab fitrah manusia memang demikian, cinta pada keindahan, keadilan, dan kebenaran. Tapi satu sisi kita mesti menyadari bahwa kita hidup di dunia. Kenyataan terkadang memberikan jawaban sebaliknya. Tapi bagaimana menggambarkan kebencian sebagai bagian dari hakikat? Saya ingin mengajak dan melihat bagaimana dunia sekitar kita yang sangat sulit “menerima” yang lain. Kita sulit menerima jika orang lain berbeda dengan diri kita. Kita akan lebih senang jika orang lain seperti diri kita. Mengikuti cara kita memandang dan memaknai kehidupan ini. Mengapa? karena kita selalu saja berpikir telah menemukan mata air kebenaran. Kita telah mereguknya dan merasakan kebagiaan mata air tersebut. Begitu bahagianya sehingga menganggap mereka yang tak merasakan mata air kebenaran yang kita reguk sebagai orang-orang yang tersesat dalam menjalani kehidupan ini. Dan hingga akhirnya serta secara perlahan-lahan menganggap cara pandang kita sebagai satu-satunya neraca kebenaran. Kita adalah kebenaran dan selain kita adalah kesesatan. Pada saat itulah, kita akan heran melihat orang lain. Heran mengapa mereka memililih jalan yang tak sesuai dengan cara pandang kita. Bahkan boleh jadi kita jijik saat melihat mereka melakukan ritual yang berbeda dengan ritual kita. Dan akhirnya kita tak mau lagi melihat mereka. Kita lebih asyik bersama dengan kelompok kita sendiri. Kita akan menutup pintu rumah kita rapat-rapat agar tak lagi terlihat ritual yang mereka lakukan. Saat kita membuka pintu itu kembali, perasaan kita kepada orang lain bukan hanya jijik, tapi kita mulai membenci mereka. Kita memilih memutuskan silaturrahim. Memutuskan pertemanan kita di FB. Meng-unfollow mereka di twitter dan instagram. Memblock Whatsapp mereka. Sekarang pertanyaannya, ada berapakah cara pandang orang di dunia ini? Mungkin kita akan menjawabnya, jumlahnya sebanding dengan aliran pemikiran yang ada di dunia ini. Namun jika ingin menjawabnya secara lebih detail, sebenarnya jumlahnya sebandingan dengan jumlah manusia. Sebab meskipun kita berada dalam satu aliran tapi kita punya penafsiran dan pemahaman sendiri. Nah sekarang bayangkan jika setiap orang melakukan hal yang sama, menganggap pandangannya sebagai satu-satunya neraca kebenaran dan membenci pandangan orang lain yang berbeda dengan kita. Tentu kita akan mulai saling memangsa. Benar kata Hobbes, saat itu manusia adalah serigala. Mungkin kita terlalu lama asyik dengan rumah kita sendiri. Tak punya kesempatan mendengarkan dan memahami orang lain. Tak mau tahu mengapa orang lain memiliki cara pandang yang berbeda dengan kita. Kita lupa bahwa setiap orang berproses menjadi diri mereka sendiri. Mereka juga punya nalar sendiri sebagaimana kita menggunakan nalar kita sendiri. Orang lain juga membangun neraca kehidupannya sendiri sebagaimana kita membangun neraca kehidupan kita sendiri. Sebab itu jangan sampai kita berubah menjadi Zombie. Manusia tanpa nalar yang hanya siap memangsa karena keinginannya hanya memangsa. Manusia Zombie adalah manusia yang berjalan dengan tanpa kesadaran dengan langkah yang tertatih-tatih dengan mulut penuh darah akibat memangsa. Karena jika kita berubah menjadi manusia Zombie akan menegaskan apa yang dikatakan oleh Charles Bukowsky, “kebencian adalah hakikat sedangkan keindahan hanya imajinasi” Muh Nur Jabir

Opini

“Kuasai Pikiran, Ubah Emosi : Seni Mengelola Stres dan Tantangan”

BAGAIMANA MENGUBAH PENGALAMAN EMOSIONAL? Teori Konstruksi Emosional (Theory of Constructed Emotion) yang merupakan hasil penelitian ilmiah Lisa Feldman Barrett dengan menggunakan bukti dari neurosains, psikologi sosial, dan antropologi, menunjukkan bahwa emosi adalah hasil kerjasama kompleks antara otak, tubuh, dan lingkungan. Teori ini menantang pandangan tradisional dan membuka jalan baru dalam memahami dan mengelola emosi. Emosi adalah pengalaman subjektif yang dihasilkan oleh otak melalui proses interpretasi sinyal tubuh (interosepsi), prediksi berdasarkan pengalaman masa lalu, serta pengaruh sosial dan budaya. Dan karena emosi bukanlah respons otomatis bawaan, maka teori konstruksi emosional menawarkan kerangka yang lebih fleksibel dan relevan untuk memberdayakan diri kita dalam memahami dan mengelola emosi di dunia modern. Melalui pemahaman ini, kita harus sadar bahwa emosi adalah hasil konstruksi otak, dan dengan demikian kita juga mesti menyadari bahwa stres sebenarnya bukan sesuatu yang datang begitu saja, melainkan hasil dari bagaimana otak kita memahami dan menilai situasi. Jika kita memandang suatu keadaan sebagai tantangan yang bisa diatasi, otak akan membantu membangun perasaan yang lebih mendukung, seperti percaya diri atau antusiasme, daripada rasa kewalahan. Alihkan fokus dari pikiran negatif – seperti takut gagal – dengan membayangkan keberhasilan dan manfaat yang akan kita dapatkan dari pengalaman tersebut, juga nikmati proses yang dijalani saat ini. Dengan cara ini, kita mengubah stres menjadi dorongan positif. Jadi, kalau merasa cemas sebelum presentasi, coba lihat rasa cemas itu bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai tanda bahwa tubuh kita sedang mempersiapkan diri untuk tampil maksimal. Anggap cemas itu sebagai semangat untuk memberikan yang terbaik. Mengelola stres seperti ini adalah soal bagaimana kita memandang dan menilai pengalaman, sehingga emosi yang dihasilkan pun berubah menjadi lebih membantu. Kita juga bisa membangun ketahanan emosional dengan mengelola mindset (cara pandang). Ketahanan emosional bisa tumbuh jika kita memahami bahwa emosi bukan sesuatu yang tetap, melainkan dibentuk oleh cara kita memandang pengalaman hidup. Dengan mengubah cara berpikir kita tentang tantangan atau kesulitan, kita juga bisa mengubah emosi yang muncul, sehingga menjadi lebih positif dan memberdayakan. Ketika mengalami kegagalan, daripada merasa malu atau putus asa, coba lihat kegagalan itu sebagai peluang untuk belajar dan memperbaiki diri. Cara kita memahami pengalaman sangat menentukan bagaimana kita merasakan emosi. Mengelola pola pikir adalah kunci untuk menciptakan ketahanan emosional. Manfaat lainnya adalah membuat kita mampu mengubah pengalaman emosional dengan cara belajar memandang suatu hal secara berbeda, yang disebut pembingkaian ulang (reframing). Saat kita merasa marah, cemas, atau frustrasi, maka dengan mencoba melihat hal itu dari sudut pandang yang lebih positif dapat membantu meredakan emosi tersebut. Jika merasa frustrasi karena terjebak dalam kemacetan, daripada terus kesal, coba anggap itu sebagai waktu untuk bersantai, mendengarkan musik favorit, atau memikirkan hal-hal yang kita syukuri. Dengan mengubah cara kita memandang kemacetan, perasaan frustrasi bisa berubah menjadi lebih tenang dan menerima. Menurut Barrett, emosi kita dipengaruhi oleh apa yang kita pelajari sejak kecil melalui budaya dan bahasa di sekitar kita. Cara kita memahami dan menamai perasaan – seperti senang, marah, atau sedih – dibentuk oleh kata-kata dan konsep yang kita pelajari. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki lebih banyak kata untuk menggambarkan emosi (disebut emotional granularity) biasanya lebih pandai mengenali dan mengelola perasaan mereka. Dengan kata lain, semakin kaya kosakata emosional kita, semakin baik kita memahami apa yang kita rasakan dan bagaimana cara mengatasinya. Kosakata emosional yang kaya memungkinkan kita lebih tepat menggambarkan apa yang kita rasakan. Dengan begitu, kita tidak hanya lebih paham dengan emosi sendiri, tetapi juga lebih mudah menjelaskan perasaan kepada orang lain, sehingga risiko salah paham pun berkurang. Daripada hanya mengatakan “saya sedih”, coba cari kata yang lebih spesifik seperti “kecewa”, “frustrasi”, “kesepian”, atau “terluka”. Ini membantu kita memahami apa yang sebenarnya kita rasakan. Jika seseorang merasa “kecewa”, ia mungkin menyadari bahwa harapannya terhadap sesuatu tidak terpenuhi. Tapi jika seseorang merasa “kesepian”, artinya ia butuh koneksi dengan orang lain. Dengan kata-kata yang lebih tepat, kita bisa menemukan solusi yang sesuai untuk perasaan tersebut. Selain itu, orang lain juga akan lebih mudah memahami apa yang kita rasakan. Ini membantu membangun hubungan yang lebih hangat dan penuh pengertian. Jadi, semakin kaya kosakata emosional kita, maka semakin baik kualitas interaksi kita dengan orang lain. Emosi juga seringkali memengaruhi cara kita mengambil keputusan. Namun, dengan memahami bahwa emosi terbentuk dari cara kita berpikir dan menilai situasi, kita dapat belajar untuk membuat keputusan yang lebih objektif dan matang. Ketika menghadapi keputusan penting, ambil waktu untuk berhenti sejenak dan pikirkan kembali. Coba pisahkan perasaan langsung yang muncul, seperti takut atau cemas, dari analisis logis tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dengan cara ini, kita tidak akan terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan emosi, melainkan berdasarkan informasi yang lebih rasional dan pertimbangan yang matang. Mengelola emosi seperti ini membantu kita lebih tenang dan terarah, sehingga keputusan yang diambil lebih tepat dan bermanfaat. @pakarpemberdayaandiri Ayo Gabung Komunitas Pakar Pemberdayaan Diri Untuk Pemograman Pikiran dan Tubuh dengan klik : https://tribelio.page/syahril-syam #thesecretofattractorfactor #changelimitingbeliefs #pakarpemberdayaandiri #SelfAwarenessTransformation

Opini

Pendidikan Yang Membebaskan Dari Belenggu Dogmatis

ruminews.id – Pendidikan yang membebaskan dari belenggu dogmatis adalah pendidikan yang diberikan kepada peserta didik sesuai dengan perkembangan dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik agar tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang merdeka. Dalam pemikiran Paulo Freire pada posisi lain terletak pada pandangannya tentang manusia dan tentang dunianya yang kemudian ditransformasikan ke dalam dunia pendidikan yang menghasilkan model pendidikan alternatif sebagai tawaran yakni dari model pendidikan yang membelenggu ke model pendidikan yang membebaskan. Menurut Giroux dalam sistem pendidikan yang ditawarkan Paulo Freire tidak bermaksud menawarkan resep yang radikal untuk menciptakan sistem pendidikan yang sekedar kritis. Akan tetapi, menawarkan serangkaian petunjuk arah yang bersifat teoretis dan berguna-praktis. (1) Melihat pendapat Giroux bahwa Paulo Freire tidak hanya pada teoretis semata. Tetapi, Paulo Freire juga memberikan kontribusi pada praktis-aksi. Dengan ini, melihat pemikiran Paulo Freire pendidikan yang ditawarkan bulan sekadar teoretis. Paulo Freire juga memberikan kontribusi terhadap masyarakat melalui aksi-praktis (mengaplikasikan teori yang ditawarkan dalam sistem pendidikan). Disisi lain, perlu juga diketahui bahwa Paulo Freire tidak hanya bersikap kritis dalam pendidikan. Paulo Freire juga mencari terobosan untuk mengunggah mereka yang terlibat dalam sistem pendidikan yang membelenggu agar bangkit untuk membebaskan dirinya. Karena itu, bagi Paulo Freire pendidikan sebagai salah satu instrumen pembebasan dan memanusiakan manusia. Dalam sistem pendidikan yang ditawarkan Paulo Freire bukan sekadar mengajar dan di ajar hingga terkesan dogmatis (menerima apa adanya yang disampaikan pengajar). Hal tersebut, Soekarno juga menolak sistem pendidikan yang cenderung dogmatis. Penolakan Soekarno terhadap sistem pendidikan yang dogmatis merupakan pemikiran yang perlu di hindari. Makna penting yang terkandung dalam pemikiran Soekarno adalah bahwa patuh dalam pengertian negatif berpeluang melahirkan murid-murid yang mempunyai mental membebek, apatis, dan tidak kreatif. (2) Dengan kata lain, model pendidikan yang ditawarkan Soekarno menolak model pendidikan yang membelenggu atau dogmatis semata. Tetapi, bagaimana sistem pendidikan itu membentuk dialog hingga terbentuk nalar kritis. Kalaupun demikian, bagaimana membentuk nalar kritis, agar menjadi murid atau mahasiswa yang tidak membebek, tidak apatis, dan  tetap kreatif.? Menurut Soekarno, penolakan terhadap model-model pendidikan yang dogmatis dilatarbelakangi oleh keyakinannya bahwa pola itu cenderung menempatkan murid hanya sebagai objek, bukan subjek hidup yang sepantasnya bisa berpendapat. Olehnya, dalam sistem pendidikan, Soekarno mengandaikan terjadinya hubungan ataupun interaksi timbal balik yang kreatif, kritis, mengedepankan dialog, serta murid, siswa, mahasiswa, santri, bisa menjauhkan dari kultur otoriter yang dapat membuat orang yang di didik menjadi takut dan tertekan. Pola-pola pendidikan yang otoriter menggunakan kekerasan dengan dalih menegakkan disiplin, monologis, dan semacamnya, dalam konteks sekarang sudah tidak relevan, kadaluarsa, dan bertentangan dengan semangat zaman sekarang. (3) Penulis juga berani berpendapat bahwa seharusnya model pendidikan bukan sekadar mengajar dan di ajar. Tetapi, bagaimana pengajar mampu memantik nalar kritis yang di ajar melalui dialog antara pengajar dan di ajar. Oleh karena itu, Soekarno dapat menyadari hal tersebut sehingga menawarkan model pendidikan yang dialog hingga terbentuk nalar kritis dan mampu mencerdaskan manusia sesuai potensi yang dikembangkan. Dengan ini, Soekarno menyadari lembaga pendidikan ibarat pusat laboratorium pencerdasan masyarakat atau pabrik manusia-manusia yang bermutu yang berikutnya membawa kemajuan bagi umat dan bangsanya. (4) Maka seharusnya pendidikan menjadi kunci dalam memajukan umat dan bangsa dalam segala aspek kehidupan. Seperti dalam ungkapan Soekarno bahwa ketidakberhasilan sebuah bangsa dan negara di masa kini dan masa mendatang dalam mencapai kemajuan terutama karena bangsa dan negara itu gagal mengelola pendidikan dan mesti sampai pada usaha melacak permasalahannya secara epistemologis. Menurut Murtadha Muthahhari, jika kita amati bersama dan seksama secara epistemologis bahwa paradigma pendidikan tradisional pada umumnya masih terkesan mengesampingkan peran pengembangan potensi kemampuan nalar kritis dan berkreasi. Hal ini dapat dilihat secara fenomena, begitu banyak orang yang menimba ilmu pengetahuan. Namun, mereka ibarat alat perekam bagi ilmu-ilmu yang mereka pelajari, tidak lebih kurang. Kadangkala mereka mempelajari sebuah kitab dari guru mereka dengan tekun dan konsentrasi penuh, mereka berusaha memahami bacaan dan bahkan menghafalnya. Pada masa yang akan datang, mereka pun menjadi para guru. Lalu, mereka mengajar dan menerapkan metode pembelajaran persis seperti yang mereka temui ketika belajar dari guru-guru mereka sebelumnya. (5) Pada akhirnya, sistem pendidikan terkesan dogmatis dan hanya sebagai penganut pengetahuan nukilan. Dalam artian, apa yang disampaikan oleh para guru terdahulu kepada muridnya dan murid tersebut menjadi guru dimasa depan itu juga yang disampaikan kepada muridnya hingga seterusnya. Sederhananya model pendidikan seperti itu, tidak mengembangkan potensi-potensi kritis dan kreativitasnya dalam diri murid dan menjadi pengetahuan nukilan hingga terkesan dogmatis. Dengan demikian, penulis melihat model pendidikan yang ditawarkan oleh para pemikir yakni Paulo Freire, Soekarno dan Murtadha Muthahhari menolak sistem pendidikan yang dogmatis ataupun otoriter. Dengan hal ini, hanya membebek, apatis dan tidak kreatif. Maka dari itu, model pendidikan yang di tawarkan ketiga pemikir adalah Kritis, sistematis, kreatif, pendidikan sebagai laboratorium pencerdasan, hingga pendidikan mampu membebaskan dari belenggu dogmatis. Daftar Pustaka: (1). Paulo Freire dan kawan-kawan: Pemikiran-Pemikiran Revolusioner. Hal.159 (2). Syamsul Kurniawan: Gagasan Pendidikan Kebangsaan Soekarno. Hal.136 (3).  Syamsul Kurniawan: Gagasan Pendidikan Kebangsaan Soekarno. Hal.137 (4). Syamsul Kurniawan: Gagasan Pendidikan Kebangsaan Soekarno. Hal.137 (5). Murtadha Muthahhari: Dasar-Dasar Epistemologi Pendidikan Islam. Hal.9

hmi
Opini

Pemilik mayapada diduga kuat melakukan kejahatan Perbankan, PB HMI : Ini Kejahatan Internasional, Meminta Kejagung dan Mabes Polri mengusut tuntas

ruminews.id Indonesia adalah sebuah negara dengan proses perekonomian yang begitu sangat majemuk, dengan 260.000.000 penduduk dari Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote. Proses perputaran ekonomi Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak terlepas dari berbagai kemampuan tata Kelola dan potensi proses pengembangan ekonomi kerakyatan. Perbankan adalah lembaga keuangan yang membantu menghimpun serta menyalurkan dana masyarakat. Adapun sejarah perbankan di Indonesia bermula dari tahun 1746 ketika VOC mendirikan De Bank van Leening. Perbankan adalah lembaga keuangan yang ada untuk mengelola, menghimpun, serta menyalurkan uang masyarakat. Adapun sejarah perbankan di Indonesia telah ada jauh sebelum merdeka. Perbankan tersebut bermula dari tahun 1746 ketika VOC mendirikan De Bank van Leening, yakni suatu bank yang bertujuan untuk mempermudah aktivitas perdagangan di Indonesia. Sayangnya, bank tersebut tidak beroperasi dengan baik sampai akhirnya gulung tikar. Sekitar 6 tahun berikutnya, VOC kembali mendirikan perbankan dengan nama De Bank Courant en Bank van Leening. ada masa penjajahan Belanda, pemerintah mendirikan sejumlah bank, seperti De Javasche Bank, Hulp en Spar Bank, Nederland Handles Maatschappij, dan lainnya. De Javasche Bank tersebut yang menjadi cikal bakal dari Bank Indonesia. Akhir-akhir ini Indonesia dihebohkan dengan adanya dugaan Kejahatan Perbankan yang dilakukan pendiri dan sekaligus Komisaris Utama Bank Mayapada. Kasus ini mencuat setelah Ted Sioeng, terdakwa kasus penggelapan dan penipuan, menuding Dato’ Sri Tahir sebagai aktor intelektual di balik permasalahan keuangannya dengan bank tersebut. Ternyata, Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat RI pernah mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menindaklanjuti pengakuan Ted Sioeng, debitur Bank Mayapada yang mengaku setor sejumlah dana ke pemilik bank, Dato’ Sri Tahir. Hal ini merupakan praktik ‘Bank dalam Bank’ yang menjadi tugas OJK untuk mengawasinya. Dalam eksepsi yang dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Ted Sioeng mengungkap bahwa pinjaman sebesar Rp70 miliar yang ia peroleh dari Bank Mayapada pada tahun 2014 digunakan untuk membeli apartemen milik Dato’ Sri Tahir di Singapura. Pinjaman tersebut, menurut Ted, diberikan atas saran dan dorongan Dato’ Sri Tahir, bahkan tanpa melalui prosedur perbankan yang seharusnya. Hal ini, menurutnya, memperlihatkan adanya konflik kepentingan antara hubungan pribadi dan pengelolaan lembaga keuangan. Terkuaknya dugaan penyimpangan kredit di Bank Mayapada ini, berawal dari pengusaha Ted Sioeng mendapat fasilitas kredit sebesar Rp1,3 triliun, selama 7 tahun (2014-2021). Dinilai tidak menjalankan kewajiban, Bank Mayapada menyita aset Ted serta mempolisikannya. Selanjutnya, Ted bersama putrinya, ditetapkan sebagai tersangka. Ted pernah juga melayangkan surat kepada Menkopolhukam Mahfud MD saat itu. Dia menyampaikan adanya setoran untuk Dato Sri Thahir, selaku pemilik Bank Mayapada yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Angkanya mencapai Rp525 miliar. Bank Mayapada telah menetapkan Ted sebagai debitur yang tidak patuh, namun terus diguyur kredit selama 7 tahun. Tentu saja, cukup aneh. Apakah ada kaitannya dengan kick back Rp525 miliar itu? Nah, keganjilan-keganjilan ini harus dibuka OJK sampai tuntas. Sejatinya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pernah mengaudit pengawasan OJK terhadap perbankan pada 2017-2019. Temuannya, Bank Mayapada berkali-kali mengguyur kredit kepada para debitur bermasalah. Angka kreditnya mencapai Rp4,3 triliun. Selain itu, BPK menemukan Bank Mayapada sering melanggar batas maksimum kredit terhadap 4 korporasi. Jumlahnya mencapai Rp23,56 triliun. Anehnya, OJK diam saja. Tak ada sanksi apalagi upaya menyelidiki lebih jauh pelanggaran ini. Sehingga Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Melalui Muhamad Arsyi Jailolo selaku Ketua Bidang Hubungan Internasional, menegaskan bahwa Dugaan kasus di Bank Mayapada ini adalah Kejahatan Perbankan dan Kejahatan Perbankan dapat tergolong Kejahatan Internasional juga, apabila melibatkan nasabah lintas negara, Tindak pidana perbankan diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU PPSK) Merupakan perbuatan melawan hukum yang berkaitan dengan perbankan. Kejahatan perbankan dapat merugikan perbankan, nasabah, atau pihak ketiga lainnya. Jelas Mahasiswa Doktoral Ilmu Hukum Univeristas Padjadjaran Muhammad Arsyi Jailolo. Illegal Bank adalah tindak pidana di bidang perbankan yang diatur dalam Pasal 46 UU PPSK. Dalam pasal tersebut diatur bahwa setiap orang atau badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas, perserikatan, yayasan atau koperasi dilarang untuk menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia. Arsyi Jailolo menambahkan, dengan adanya dugaan kasus perbankan di Bank Mayapada, kami meminta Bapak Presiden Prabowo melalui Kejaksaan Agung untuk menuntaskan kasus-kasus kejahatan Perbankan dan juga seharusnya Otoritas Jasa Keuangan Menjalankan fungsinya sebagai pengawas untuk Lembaga pengelolaan keuangan, atensi Bapak Presiden dan DPR-RI harus ada dalam kasus-kasus seperti ini. Jika memang Komisaris Bank Mayapada ini terbukti melakukan kejahatan perbankan, maka perlu dilakukan Tindakan hukum. Arsyi Jailolo menambahkan, asas strict liability, yang digunakan untuk menuntut pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi yang melakukan tindak pidana perbankan. Bank mempunyai sejumlah fungsi. Adapun beberapa fungsi perbankan adalah : Menghimpun dana simpanan masyarakat., Mendukung kelancaran mekanisme pembayaran, Menyimpan barang-barang berharga, Mendukung kelancaran transaksi internasional., Memberikan jasa lainnya, seperti pembayaran gaji pegawai, pengiriman uang, dan lainnya.

Scroll to Top