Opini

Opini

Naga Mau #KaburAjaDulu

ruminews.id- Ketidakpuasan. Begitulah respon yang terlihat dari masyarakat atas berbagai macam kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Gelombang demonstrasi sedang terjadi. Di jalanan, berbagai elemen masyarakat mulai dari masyarakat sipil, organisasi masyarakat sipil, dan organisasi mahasiswa telah turun menyuarakan ketidakpuasannya. Di sosial media, hastag #IndonesiaGelap dan #KaburajaDulu merupakan bentuk ekspresi kekecewaan dari netizen akan jalannya kondisi pemerintahan saat ini. Beredarnya hastag #IndonesiaGelap dan #KaburajaDulu merupakan gerakan sosial digital yang dipelopori oleh kelompok kelas menengah Indonesia yang tidak puas akan kondisi sosial dan membuncahnya ketidakadilan yang dirasakan oleh kelompok kelas menengah ini. Gerakan ini berusaha melakukan penyadaran bahwa taraf hidup di luar Indonesia lebih menyakinkan dibandingkan harus hidup dengan kerja keras tetapi tetap saja mendapatkan perlakukan yang tidak adil. Gerakan ini kemudian melebar eskalasi kepentingannya dimana bukan hanya kelompok kelas menenengah yang tersadar akan ketidakadilan sosial tetapi juga kelompok rakyat miskin pun mengalami ketersadaran akan kesewenang-wenang yang sedang terjadi. Tetapi apakah #KaburajaDulu dan #IndonesiaGelap hanya memiliki dampak pada kelompok kelas miskin dan kelompok kelas menengah saja? Apakah kelompok kelas atas tidak terdampak akan gerakan sosial tersebut? Naga dan Imaji Respon #KaburAjaDulu Crazy Rich of Indonesia dapat diklaster pada 9 orang terkaya yang ada di Indonesia. Data dari Forbes per Desember 2024 menunjukkan bahwa Hartono bersaudara, Robert Budi Hartono dan Michael Hartono masih ada di puncak daftar orang terkaya di Indonesia. Kekayaan keduanya ditaksir mencapai US$$50,3 miliar atau setara dengan Rp 816 triliun. Sumber kekayaan Hartono bersaudara bersumber dari jaringan bisnis Djarum Grup. Di bawahnya ada Prajogo Pangestu dengan kekayaan mencapai US$32,5 miliar atau sekitar Rp 527 triliun. Prajogo dengan jaringan bisnis Barito Pacific Timber yang dikuasainya. Kemudian, Low Tuck Kwong, pendiri sekaligus Presiden Direktur Bayan Resources dengan kekayaan yang ditaksir mencapai US$27 miliar atau sekitar Rp 438 triliun. Berturut-turut ada keluarga Widjaja pemilik Sinar Mas Grup dengan kekayaan mencapai US$18,9 miliar (Rp 306 triliun). Anthoni Salim pemilik dari Salim Group dan CEO Indofood dengan kekayaan US$12,8 miliar (Rp 207 triliun). Pendiri dan Ketua Indorama Corporation, Sri Prakash Lohia dengan kekayaan US$8,7 miliar (Rp 141 triliun). Direktur Utama Bumi Resources Minerals Tbk. Agoes Projosasmito dengan kekayaan US$7 miliar (Rp 113 triliun). Pendiri Mayapada Group, Keluarga Tahir taksiran kekayaan US$5,3 miliar (Rp 86 triliun), dan Chairul Tanjung selaku Pendiri CT Corp dengan kekayaan: US$5,2 miliar (Rp 84 triliun). Sebagaimana yang diketahui bahwa setiap bisnis atau usaha membutuhkan pekerja yang berkualitas. Ketika tagar #KaburAjaDulu bergema dan viral yang bertujuan untuk mengajak warga negara Indonesia untuk mencari kerja di luar Indonesia, maka konsekuensi untuk bekerja di luar negeri adalah kualitas yang diatas rata-rata. Ketika pekerja yang berkualitas meninggalkan Indonesia karrena iming-iming kehidupan yang lebih berkualitas di luar negeri maka akan menyisakan pekerja yang minim skill di Indonesia. Orang-orang terkaya di Indonesia yang memiliki jaringan bisnis luas dan menjalankan berbagai sektor industri mulai dari pertambangan, perbankan, makanan minuman, hingga teknologi tentu saja tidak akan senang ketika yang masuk bekerja di perusahaan mereka adalah tenaga-tenaga yang minim kualitas. Sehingga daripada harus menderita kerugian akan usahanya maka pilihannya adalah memutuskan untuk menutup bisnis mereka dan pindah ke luar negeri. Membayangkan orang-orang terkaya tersebut menutup usaha-usaha utamanya tentu akan memberikan dampak negatifnya yang dapat dirasakan oleh banyak pihak. Salah satu dampak paling langsung dari perpindahan crazy rich ke luar negeri selain penutupan lapangan pekerjaan yang akan membuat jutaan orang yang bekerja untuk perusahaan mereka akan kehilangan pekerjaan adalah erosi kedaulatan ekonomi. Ketika orang-orang terkaya memindahkan aset dan investasi ke negara lain, mereka bukan hanya membawa modal, tetapi juga mempengaruhi aliran investasi domestik. Hal ini dapat berakibat pada penurunan pendapatan pajak bagi negara, yang pada gilirannya mengurangi kapasitas pemerintah dalam menyediakan layanan publik seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur. Dengan kata lain, ketika elit kaya meninggalkan negara, mereka juga meninggalkan tanggung jawab sosial yang seharusnya mereka emban sebagai bagian dari komunitas. Pindahnya orang-orang terkaya sering kali mengindikasikan ketidakpuasan terhadap keadaan di dalam negeri. Hal ini bisa menyebabkan krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap pemerintahan dan sistem yang ada. Ketika para pemimpin bisnis yang memiliki pengaruh besar mengalihkan perhatian mereka ke negara lain, masyarakat umum mungkin mulai merasa terasing dan kurang dihargai. Hal ini dapat mengakibatkan ketidakstabilan sosial, protes besar-besaran, dan munculnya gerakan-movement anti-elit yang dapat lebih memperburuk ketegangan dalam masyarakat. Orang-orang kaya yang memilih untuk menetap di luar negeri dikarenakan migrasi sumber daya manusia terbaik Indonesia akan menciptakan “brain drain” yang merugikan segenap sektor, termasuk teknologi, kesehatan, dan pendidikan, yang selanjutnya membatasi inovasi dan kemajuan. Dapat dikatakan bahwa #KaburAjaDulu #IndonesiaGelap bukanlah sekadar ungkapan, tetapi sebuah indikasi dari kompleksitas sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi oleh negara ini. #KaburAjaDulu #IndonesiaGelap tidak lagi menjadi tagar yang hanya membahas mengenai kelas miskin dan kelas menengah tetapi juga menjadi kelas atas. Oleh karena itu, penting bagi Pemerintah untuk memahami dampak pergerakan sosial ini dan mengupayakan solusi yang dapat meningkatkan kepercayaan, kenyamanan, dan stabilitas di Indonesia. Menghadapi tantangan demi tantangan, mungkin sudah saatnya untuk menengok kembali nilai-nilai kebersamaan dan tanggung jawab sosial demi masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan.

Opini

Conversational Trance: Saat Kata Kata Mengendalikanmu

ruminews.id – Mungkin di antara kita pernah merasa tiba-tiba setuju dengan sesuatu tanpa benar-benar tahu kenapa? Atau tiba-tiba mengikuti tren tertentu hanya karena “kedengarannya masuk akal” meskipun sebelumnya kita ragu? Nah, bisa jadi kita sedang terkena efek Conversational Trance atau Trans Percakapan. Conversational Trance adalah teknik komunikasi yang memanfaatkan ritme bicara, pengulangan, dan pola bahasa tertentu untuk membuat seseorang masuk ke kondisi “autopilot” atau setengah sadar. Dalam kondisi ini, orang cenderung kurang berpikir kritis dan lebih mudah menerima sugesti tanpa menyadarinya. Dalam dunia hipnosis, Conversational Trance adalah teknik dimana seseorang dibuat masuk ke dalam kondisi trance ringan hanya melalui percakapan biasa. Ini berarti seseorang menjadi lebih fokus, rileks, dan terbuka terhadap sugesti – tanpa menyadari bahwa mereka sedang dipengaruhi. Kalau dalam hipnosis formal, orang biasanya diminta untuk menutup mata dan mengikuti instruksi yang jelas, Conversational Trance bekerja secara lebih halus dan terselubung. Orang yang terkena teknik ini tetap sadar, tetap bisa ngobrol, tapi pikirannya mulai “terbuka” untuk menerima ide atau sugesti tanpa banyak perlawanan. Dalam hipnosis, trance ringan adalah kondisi dimana pikiran kita menjadi lebih fokus dan rileks, tetapi kita tetap sadar dan bisa berinteraksi seperti biasa. Trance ringan adalah bagian dari kondisi hipnosis, tetapi bukan berarti seseorang yang mengalami trance ringan selalu dalam kondisi “terhipnosis” seperti yang sering digambarkan di film atau pertunjukan sulap. Trance ringan adalah tahap awal dari hipnosis, dimana seseorang menjadi lebih fokus, lebih rileks, dan lebih mudah menerima sugesti. Namun, mereka tetap sadar dan bisa memilih apakah ingin mengikuti sugesti tersebut atau tidak. Jadi, bisa dibilang trance ringan adalah kondisi hipnosis yang sangat halus dan alami, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan hipnosis adalah spektrum atau memiliki berbagai tingkat kedalaman, dari yang sangat ringan hingga sangat dalam. Trance ringan adalah tahap awal dari spektrum ini. Pernahkah di antara kita membaca buku atau menonton film, lalu merasa “terbawa suasana”? Seolah-olah kita ada di dalam cerita itu? Itu adalah contoh trance ringan. Atau ketika kita scrolling media sosial atau main game, lalu lupa waktu dan tidak sadar sudah berjam-jam berlalu, itu juga kondisi trance ringan. Teknik ini bekerja ketika ritme dan nada bicara kita yang menenangkan, dimana kita menggunakan nada suara yang stabil, lembut, dan berulang-ulang untuk membuat pendengar lebih rileks. Contohnya, dalam pergaulan anak muda, seseorang bisa berkata dengan suara tenang: “Santai aja… rileks… semakin kita ngobrol, semakin kamu paham kalau ini hal yang biasa.” Teknik ini juga bekerja dalam pengulangan (repetisi) untuk menanamkan ide, dimana pengulangan membuat seseorang lebih mungkin menerima sesuatu sebagai kebenaran, karena otak kita cenderung percaya sesuatu yang sering didengar. Contoh yang bersifat manipulatif: “Semua orang udah nyobain, semua orang suka, semua orang akhirnya sadar kalau ini nggak masalah.” Teknik ini bisa juga digunakan untuk membuat seseorang berpikir bahwa keputusan yang mereka ambil adalah hasil pemikiran sendiri, padahal telah diarahkan. Contoh: “Dengar baik-baik, semakin kamu mendengar ini, semakin kamu sadar kalau kamu memang ingin mencobanya.” Kata-kata seperti “semakin”, “mulai menyadari”, “sekarang kamu tahu”, digunakan untuk menanamkan asumsi bahwa perubahan sedang terjadi di dalam diri pendengar. Contoh: “Semakin lama kita ngobrol, semakin kamu sadar kalau semua ini sebenarnya bukan masalah besar.” Ada banyak sekali kalimat percakapan yang bersifat trance ringan dan cenderung memengaruhi teman pergaulan ke arah negatif. “Coba deh pikirkan… semua orang ngelakuin ini, dan semakin kamu melihat mereka, semakin kamu sadar kalau ini memang bagian dari hidup kita.” “Dengar baik-baik, semakin kamu dengar ini, semakin kamu sadar kalau kamu memang perlu melakukannya.” “Nggak ada yang salah, semakin kamu coba, semakin kamu ngerti kenapa semua orang suka ini.” Itu semua merupakan contoh kalimat percakapan yang membuat seseorang mengalami trance ringan sehingga ide negatif (pengaruh yang diharapkan) bisa langsung masuk ke pikiran bawah sadar dan kemudian diikuti. Bagaimana menghindari Conversational Trance yang manipulatif? Pertama, Sadari Pola Bahasa yang Berulang. Jika seseorang terus-menerus mengulang suatu ide, tanyakan pada diri sendiri apakah itu benar-benar pilihan kita atau hanya pengaruh sugesti; Kedua, Jangan Terburu-Buru Mengambil Keputusan. Jika merasa terbawa suasana dan ingin melakukan sesuatu, beri jeda untuk berpikir kritis; Ketiga, Gunakan Logika dan Intuisi. Jika sesuatu terdengar terlalu diarahkan, tanyakan: “Apakah ini benar-benar yang aku inginkan atau hanya karena aku terus mendengarnya?” Teknik Conversational Trance adalah teknik yang bisa sangat kuat dalam hipnosis dan komunikasi. Jika digunakan dengan niat baik, teknik ini bisa membantu seseorang merasa lebih rileks dan menerima sugesti positif (seperti dalam terapi atau motivasi). Namun, jika digunakan dengan niat buruk, ini bisa menjadi alat manipulasi yang membuat seseorang melakukan sesuatu tanpa benar-benar menyadarinya. #thesecretofattractorfactor #changelimitingbeliefs #pakarpemberdayaandiri #SelfAwarenessTransformation

Opini

YSherly-Sarbin, Wajah Baru Pembangunan Moloku Kie Raha

ruminews.id- Moloku Kie Raha, sebagai representasi budaya dan sejarah Maluku Utara, tengah menghadapi babak baru dalam pembangunan. Pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih Provinsi Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos dan Sarbin Sehe (Sherly-Sarbin) yang secara resmi akan dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto Kamis 20 Februari 2025, tentu hadir dengan visi yang diklaim mampu membawa perubahan signifikan bagi daerah ini. Namun, pembangunan yang dicanangkan bukan hanya sekadar infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek kebudayaan yang menjadi identitas utama masyarakat Moloku Kie Raha. Dalam konteks yang lebih spesifik, terutama terkait pembangunan pada aspek kebudayaan, maka hematsaya, yang penting untuk diproyeksikan ialah membuka ruang komunikasi yang terbuka dan intensif dengan para pemangku kebijakan atau otoritas adat, yakni keempat wilayah kesultanan di Maluku Utara. Di samping simpul-simpul komunitas masyarakat adat (indegenous people) yang tersebar di hampir di semua wilayah Halmahera. Hal tersebut patut dipertimbangkan sebagai disain pembangunan dalam lanskap kebudayaan oleh Sherly-Sarbin, mengingat kurang-lebih pada tiga periode pemerintahan provinsi Maluku Utara sebelumnya, upaya ke arah pembangunan kebudayaan dengan mempertimbangkan kebijakan adat masih sangat minim. Kondisi demikian justru berdampak serius pada melebarnya kesenjangan (gap) di antara pemerintah negara dengan simpul atau otoritas adat yang tak jarang memunculkan konflik sosial yang tak berkesudahan disebabkan oleh pencaplokan ruang hidup (hutan, laut, tanah ulayat, dlsb). Lagipula, kebudayaan tidak mesti dimaknai secara artifisial pada batasnya yang seremonial semata. Lebih dari itu, kebudayaan menyangkut dengan mengenal lalu kemudian mengalami kebudayaan itu sendiri sabagai semacam ‘piranti’ atau ‘pintu masuk’ menuju kemanusiaan. Sebuah bangunan kemanusiaan yang berkeadilan dan berkeadaban. Sebagai sebuah laboraturium kebudayaan, Moloku Kie Raha mestinya lebih fleksibel dibangun dengan ciri khas seperti ini. Pembangunan yang bertumpu pada akar-akar kearifan lokal (local wisdom) orang-orang Moloku Kie Raha sendiri. Pembangunan yang menempatkan adat se atoran sebagai prisma demi terwujudnya masyarakat adil makmur. Tentu sebagai catatan pembuka, selaku seorang ngofase dano dari leluhur negeri kepulauan rempah ini, saya menaruh rasa optimis pada kepemimpinan yang baru di Provinsi Maluku Utara dengan dua nahkoda barunya bernama Sherly-Sarbin. Tanpa menunggu waktu dilantik secara resmi pada 20 Februari 2025 besok, catatan ini merupakan rentetan catatan yang akan meneropong terus ke mana kedua nahkoda tersebut berlayar. Pembangunan Politik-Kebudayaan : Sebuah Titik temu Perspektif Pembangunan tanpa kebudayaan adalah proyek kosong yang kehilangan ruhnya. Sejarah telah membuktikan bahwa Moloku Kie Raha adalah wilayah dengan akar budaya yang kuat, dari Kesultanan Ternate dan Tidore hingga nilai-nilai lokal (local values) seperti Fagogoru di “Tiga Negeri” Gamrange di Halmahera, dan lain-lain. Oleh karena itu, dalam konteks pemerintahan Sherly-Sarbin, menurut hemat saya, kebijakan pembangunan harus berorientasi pada kearifan lokal (local wisdom), bukan hanya mengikuti pola modernisasi yang seragam dan cenderung mengabaikan identitas budaya. Kebudayaan di Maluku Utara tidak hanya soal adat dan tradisi, tetapi juga cara masyarakat memahami dan menjalankan kehidupan sosial, politik, serta ekonomi mereka. Jika pembangunan hanya menitik beratkan kepada investasi besar dan proyek-proyek industri tanpa mempertimbangkan dampak sosial-budaya, maka masyarakat adat dan komunitas lokal berisiko tersingkir dari proses pembangunan itu sendiri. Konteks pembangunan seperti ini yang telah lama dirindukan oleh masyarakat Maluku Utara di tengah arus pembangunan modern yang semakin menguat. Atau dengan lain kalimat, pembangunan yang ditopang dengan pemanfaatan sebesar-besarnya teknologi dan industri. Tentu ruang ini lebih bisa dimaknai sebagai titik temu perspektif. Sebab, tidak harus ada pertentangan yang membabi buta terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan modern itu. Akan tetapi di sisi yang lain, tidak mesti lantas terlepas atau meninggalkan nilai atau identitas lokal yang telah eksis bahkan melampaui usia kemerdekaan negara ini dan telah menjadi karakter atau ciri khas kita sebagai manusia Moloku Kie Raha. Jika titik temu perspektif ini bisa diterapkan dengan harmonis dalam proyeksi pembangunan pemerintahan propinsi Maluku Utara, setidaknya selama 5 (lima) tahun ke depan, saya yakin dan semakin optimis bahwa wajah pemerintahan Maluku Utara di bawah arahan dua nahkoda Sherly-Sarbin ini akan terus berlayar seimbang dan fokus ke tujuan pembangunan itu sendiri. Meskipun kerap tak bisa dipungkiri akan selalu ada terpaan badai dan gelombang yang datang sewaktu-waktu. Politik-Kebudayaan sebagai PendekatanPembangunan Nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan yang dijadikan acuan dalam interaksi sosial perlu dikaji dalam merencanakan sebuah pembangunan. lebih-lebih bila pembangunan tersebut langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Dove (1988) mengemukakan bahwa aspek pranata kebudayaan tersebut harus pula diperhitungkan karena sesungguhnya pranata-pranata kebudayaan terkait erat dan secara langsung menunjang proses sosial, ekonomi dan ekologis masyarakat secara mendasar dalam kehidupannya dan yang secara operasional telah mereka praktekkan sejak dahulu. Pembangunan politik-kebudayaan merupakan langkah strategis dalam pengembangan politik bangsa. Karena budaya dapat menjadi kontrol terhadap politik ketika pada praktiknya menanggalkan martabat dan integritas manusia. Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana memastikan bahwa kebijakan pembangunan tidak menjadi alat marginalisasi, melainkan menjadi sarana pemberdayaan masyarakat lokal. Pendekatan top-down (atas ke bawah) yang terlalu dominan sering kali membuat masyarakat hanya menjadi penonton dalam pembangunan daerahnya sendiri. Sebaliknya, pendekatan berbasis budaya dan partisipasi masyarakat atau bottom-up (bawah ke atas) akan memastikan bahwa pembangunan yang dilakukan benar-benar berakar pada kebutuhan dan aspirasi lokal. Sherly-Sarbin, sebagai wajah baru pembangunan di Moloku Kie Raha, memiliki peluang untuk menciptakan keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian budaya. Keberpihakan terhadap kebudayaan bisa diwujudkan melalui kebijakan pendidikan berbasis lokal, penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya, serta perlindungan terhadap situs-situs sejarah yang menjadi warisan leluhur. Pembangunan di Moloku Kie Raha tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak infrastruktur yang berdiri atau seberapa besar investasi yang masuk, tetapi juga dari seberapa jauh budaya dan identitas lokal tetap hidup dan berkembang. Politik kebudayaan dalam pemerintahan Sherly-Sarbin harus mampu menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan, bukan objek dari kebijakan yang ditentukan dari luar. Dengan demikian, wajah baru pembangunan Moloku Kie Raha bukan hanya tentang modernisasi, tetapi juga tentang keberlanjutan warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi kegenerasi. Sukur dofu-dofu!(*).

Opini

Kabur Aja Dulu : Fenomena Brain Drain dan Dilema Talenta Indonesia

ruminews.id – Dalam beberapa minggu terakhir, tagar #KaburAjaDulu ramai diperbincangkan di media sosial. Ungkapan ini bukan sekadar kelakar anak muda, tetapi cerminan dari kenyataan pahit: semakin banyak orang berbakat yang memilih meninggalkan Indonesia demi peluang yang lebih baik di luar negeri. Fenomena ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan para pengambil kebijakan. Namun, alih-alih mencari solusi, sebagian elite justru menganggapnya sebagai hal Wajar atau bahkan menyalahkan mereka yang pergi. Ketika Negeri Tak Lagi Ramah bagi Talenta Fenomena migrasi tenaga kerja berkualitas tinggi atau brain drain bukanlah hal baru, tetapi akhir-akhir ini semakin nyata dirasakan. Banyak anak muda berprestasi, mulai dari profesional di bidang teknologi, akademisi, hingga tenaga medis, memilih untuk mencari penghidupan di luar negeri. Alasannya? Mereka merasa bahwa di Indonesia, keahlian dan integritas mereka tidak dihargai sebagaimana mestinya. Salah satu faktor utama adalah rendahnya kesejahteraan tenaga kerja profesional. Dibandingkan dengan negara lain, gaji tenaga ahli di Indonesia sering kali tidak sebanding dengan beban kerja dan tanggung jawab yang diemban. Belum lagi minimnya perlindungan tenaga kerja, ketidakpastian kontrak, dan fasilitas kerja yang jauh dari ideal. Namun, lebih dari sekadar ekonomi, faktor politik juga memainkan peran besar. Banyak individu berbakat merasa tidak memiliki tempat dalam sistem yang lebih mengutamakan koneksi dan loyalitas politik daripada kompetensi. Jabatan strategis, baik di pemerintahan maupun sektor industri, sering kali diberikan kepada mereka yang memiliki hubungan dengan elite, bukan kepada mereka yang benar-benar mampu menjalankan tugasnya. Mereka yang menolak bermain dalam budaya sogokan dan “cari muka” akhirnya tersisih.Di sisi lain, anak-anak muda dari kelompok marginal menghadapi tantangan ganda. Mereka tidak hanya harus berjuang melawan ketimpangan ekonomi, tetapi juga menghadapi sistem yang tidak memberikan kesempatan yang adil bagi mereka untuk berkembang. Ketika kesempatan terbuka lebih luas di luar negeri, pilihan untuk pergi menjadi semakin masuk akal. Siapa yang Dirugikan? Jika fenomena ini terus berlanjut, dampaknya tidak bisa dianggap remeh. Indonesia akan kehilangan generasi terbaik yang seharusnya menjadi motor penggerak pembangunan. Beberapa konsekuensi yang akan muncul antara lain: • Stagnasi inovasi : Tanpa tenaga ahli, sektor teknologi dan ekonomi kreatif akan sulit berkembang. • Ketimpangan SDM : Kekurangan tenaga profesional di dalam negeri bisa berdampak pada kualitas layanan publik, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan. • Daya saing melemah : Sementara negara lain semakin maju dengan memanfaatkan talenta global, Indonesia justru kehilangan sumber daya manusianya yang paling potensial. Apa yang Harus Dilakukan? Mengutuk mereka yang pergi bukanlah solusi. Sebaliknya, pemerintah dan pengambil kebijakan harus berhenti berpura-pura bahwa masalah ini tidak ada. Ada beberapa langkah yang perlu segera dilakukan: 1. Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja profesional Standar gaji dan tunjangan harus diperbaiki agar lebih kompetitif, terutama di sektor-sektor strategis seperti teknologi, kesehatan, dan ekonomi kreatif. 2. Menegakkan meritokrasi secara nyata Rekrutmen dan promosi jabatan harus berbasis kompetensi, bukan kedekatan politik atau hubungan pribadi. 3. Menindak tegas praktik nepotisme dan korupsi Jika orang berbakat terus tersingkir hanya karena mereka tidak mau menyogok atau menjilat, maka tidak heran jika mereka memilih pergi. 4. Memberikan insentif bagi diaspora untuk kembali Program khusus seperti fasilitas riset, insentif pajak, atau kebijakan yang mendukung kepulangan tenaga ahli bisa menjadi langkah untuk menarik kembali talenta yang telah pergi. Kesimpulan : Harus Berani Berubah Fenomena #KaburAjaDulu bukan hanya soal anak muda yang ingin mencari pengalaman di luar negeri. Ini adalah refleksi dari sistem yang gagal memberikan tempat bagi orang-orang berbakat untuk berkembang. Jika Indonesia ingin maju, maka para pengambil kebijakan harus berhenti mencari kambing hitam dan mulai membangun alasan agar mereka yang pergi mau kembali. Jika tidak? Mungkin hanya tinggal menunggu waktu sebelum kita menyadari bahwa negeri ini telah kehilangan generasi terbaiknya dan itu bukan salah mereka, tapi salah kita yang membiarkan mereka pergi. Andi Januar Jaury Dharwis Pengamat Kebijakan Publik Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan 2009-2014 2014-2019 2019-2024

Opini

Mengapa Stres Bisa Membuat Tubuh Ikut Sakit? Ini Penjelasannya!

ruminews.id- Proses stres dimulai ketika kita menghadapi situasi yang kita anggap mengancam atau menantang. Ini bisa berupa masalah pekerjaan, hubungan, atau bahkan situasi yang lebih sederhana, seperti terlambat untuk suatu janji. Otak kita (khususnya bagian amigdala, yang bertanggung jawab atas pengenalan ancaman) mendeteksi ancaman tersebut. Ketika amigdala merasa terancam, ia memberi sinyal ke bagian lain dari otak, terutama hipotalamus, untuk memulai respons stres. Jika kita melihat tenggat waktu yang semakin dekat dan kita merasa cemas, maka otak mulai menilai situasi ini sebagai ancaman, karena kita khawatir tidak akan selesai tepat waktu. Setelah otak mengidentifikasi ancaman, tubuh memulai respons “fight or flight” (bertarung atau lari), yang merupakan reaksi fisik untuk menghadapi ancaman tersebut. Respons ini dipicu oleh sistem saraf otonom dan kelenjar adrenal. Karena ketika kita menghadapi tantangan atau tekanan, tubuh kita dipersiapkan untuk bertindak – baik itu untuk menyelesaikan masalah atau menghindari bahaya. Adrenalin adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dalam situasi stres. Ketika tubuh merespons stres, adrenalin dilepaskan ke aliran darah, yang menyebabkan beberapa perubahan dalam tubuh untuk mempersiapkan kita menghadapi tantangan. Adrenalin meningkatkan energi dan memberi kita kekuatan ekstra. Jika kita sedang presentasi di depan umum dan merasa sedikit stres, adrenalin yang dilepaskan dalam tubuh akan memberi kita energi ekstra, sehingga kita lebih bersemangat, lebih fokus, dan mampu berbicara dengan lebih percaya diri. Begitu juga ketika kita menghadapi ujian atau deadline kerja, maka kortisol akan membantu meningkatkan fokus sehingga kita bisa memusatkan perhatian pada apa yang perlu dilakukan dan menyelesaikan tugas dengan efisien. Jadi, kondisi stres memberikan hikmah bagi kita dalam mempersiapkan tubuh dan mental kita untuk menghadapi tantangan kehidupan. Inilah yang disebut stres positif (eustress). Stres positif memberikan kita dorongan untuk bertindak dan menyelesaikan tugas dengan lebih baik. Adrenalin memberi kita energi untuk bergerak dan mengambil tindakan, sedangkan kortisol membantu kita untuk tetap fokus dan membuat keputusan yang tepat. Keduanya bekerja sama untuk meningkatkan kinerja dan memungkinkan kita mengatasi tantangan kehidupan. Stres positif bisa memacu kreativitas, menimbulkan inspirasi, meningkatkan kebahagiaan, dan bahkan meningkatkan kesehatan tubuh. Stres positif berubah menjadi stres kronis (stres negatif yang berkelanjutan), ketika seseorang mulai memikirkan masalah itu secara berlebihan, sehingga otaknya tetap terjaga dalam mode fight or flight (bertarung atau lari), meskipun tantangan tersebut sudah selesai atau tidak lagi mendesak. Overthinking (berpikir berlebihan) memang bisa membuat stres positif berubah menjadi stres kronis. Pada dasarnya, overthinking membuat seseorang terus-menerus memikirkan situasi atau masalah, bahkan setelah ia sudah menyelesaikannya atau seharusnya bisa melepaskannya. Misalnya, seseorang merasa stres karena ada tugas besar yang harus diselesaikan. Stres ini memberi dorongan untuk fokus dan menyelesaikan tugas tersebut. Namun, setelah tugas selesai, ia mulai overthinking – memikirkan apakah hasilnya cukup baik, apakah ia sudah melakukan yang terbaik, atau bahkan khawatir tentang kemungkinan masa depan yang belum terjadi. Overthinking ini membuat ia terus-menerus merasa cemas, meskipun tantangan itu sudah selesai. Akibatnya, stres yang awalnya positif untuk menyelesaikan tugas berubah menjadi stres kronis karena ia tidak dapat berhenti memikirkan hal itu, dan tubuhnya tetap dalam keadaan tertekan, meskipun situasi sebenarnya sudah selesai. Ketika seseorang mulai memikirkan hal-hal yang belum terjadi atau mengkhawatirkan kemungkinan terburuk, maka ia membuat dirinya terjebak dalam perasaan cemas yang tidak perlu. Ini membuat tubuh tetap terjaga dan meningkatkan produksi hormon stres. Alih-alih fokus pada apa yang bisa dilakukan saat ini, overthinking membuat seseorang memikirkan masa lalu atau masa depan. Pikirannya terbagi antara kekhawatiran tentang hal yang belum terjadi atau penyesalan tentang yang sudah lewat, alih-alih menyelesaikan tugas yang ada. Overthinking seringkali membuat seseorang merasa tidak memiliki kontrol atas situasi. Ketika seseorang terlalu memikirkan berbagai hal yang terlepas dari kendalinya, maka ia cenderung merasa tertekan, dan stres menjadi semakin intens. Overthinking membuat seseorang terjebak dalam siklus berpikir yang tidak produktif dan terus-menerus memperburuk stres yang sudah ada. Hal ini bisa menyebabkan ketegangan otot, gangguan tidur, kelelahan, kecemasan, dan bahkan depresi. Stres positif menjadi negatif karena tidak memberi tubuh dan pikiran kesempatan untuk pulih atau melepaskan ketegangan yang ada. Stres yang awalnya bisa memberikan dorongan positif untuk berkembang bisa berubah menjadi stres kronis jika kita tidak hidup di “saat ini”. Ketika seseorang terus-menerus memikirkan masalah yang belum selesai atau khawatir tentang masa depan, maka stres tersebut bertumpuk dan bisa menjadi beban yang berbahaya bagi tubuh dan pikiran. Kunci untuk menghindari stres kronis adalah dengan mengelola pikiran kita, mengatur prioritas, dan kembali ke “saat ini”. @pakarpemberdayaandiri

Opini

KOHATI Badko Sulsel Mengajak Peduli: Hapus Kekerasan, Lindungi Perempuan dan Anak

ruminews.id, – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang tercatat sebanyak 50 kasus di awal tahun 2025 di Kota Makassar merupakan realitas yang mengkhawatirkan. Meskipun jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, tetap saja setiap kasus adalah duka yang mendalam bagi korban dan menjadi indikator bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak masih belum maksimal. Saya melihat bahwa upaya pemerintah dalam membangun Shelter Warga di beberapa kelurahan merupakan langkah positif, namun masih perlu penguatan dalam aspek edukasi preventif dan pendampingan hukum bagi korban. Fakta bahwa masih ada kasus pelecehan yang menargetkan anak-anak, seperti yang terjadi di Kelurahan Bontoala, menegaskan bahwa lingkungan kita belum sepenuhnya aman bagi perempuan dan anak. Sebagai organisasi perempuan di HMI, KOHATI memiliki tanggung jawab untuk ikut serta dalam advokasi dan edukasi terkait perlindungan perempuan dan anak. Ada beberapa hal yang perlu diperkuat untuk mengatasi masalah kekerasan ini. Pertama, masyarakat harus lebih peduli dan berani bertindak jika melihat atau mengetahui adanya kekerasan di sekitar mereka. Jangan lagi ada sikap diam atau menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang biasa. KOHATI berkomitmen untuk terus mengedukasi pelajar dan masyarakat agar lebih sadar akan pentingnya melindungi perempuan dan anak dari segala bentuk kekerasan. Kedua, shelter atau tempat perlindungan yang disediakan pemerintah harus benar-benar berfungsi dengan baik. Shelter ini harus didukung oleh tenaga pendamping yang profesional serta sistem hukum yang cepat dan berpihak kepada korban. Saat ini, masih banyak korban yang takut melapor karena khawatir akan stigma, tidak mendapat perlindungan yang cukup, atau bahkan dipaksa bungkam karena tekanan relasi kuasa atau menjaga harga diri keluarga. Terakhir, kasus kekerasan tidak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah. Organisasi perempuan seperti KOHATI harus lebih aktif bekerja sama dengan pemerintah, lembaga bantuan hukum, dan komunitas setempat agar tercipta lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi para korban. Kolaborasi ini sangat penting untuk memastikan setiap korban mendapatkan perlindungan dan keadilan yang layak. Kami di KOHATI Badko Sulsel menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab sosial kita semua. Ke depannya, kami akan memperkuat program-program yang berfokus pada edukasi, advokasi, dan pendampingan agar angka kekerasan ini terus menurun dan tidak lagi menjadi berita tahunan yang selalu berulang. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan bagi perempuan dan anak.

Opini

Dari UMKM ke Ekonomi Kreatif: Membuka Jalan Baru bagi Pertumbuhan Daerah

ruminews.id- Indonesia, dengan keberagaman budaya dan kreativitas masyarakatnya, memiliki potensi besar di sektor ekonomi kreatif. Sayangnya, sektor ini sering kali masih dianggap sebagai bagian dari UMKM secara umum. Padahal, ekonomi kreatif memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Di sisi lain, pemerintah daerah yang berperan penting dalam pengembangannya kerap menghadapi kendala seperti keterbatasan fiskal dan minimnya perhatian pengambil kebijakan. Lebih ironis lagi, ekonomi kreatif sering dijadikan bahan kampanye politik dalam pemilihan kepala daerah, terutama untuk menarik suara generasi milenial dan Gen Z. Namun, setelah terpilih, komitmen yang diusung sering hanya sebatas formalitas tanpa kualitas dan kuantitas yang memadai. Gambaran Permasalahan di Daerah Saat ini, banyak pemerintah daerah lebih fokus pada angka pertumbuhan UMKM secara umum tanpa membedakan pelaku ekonomi kreatif di dalamnya. Padahal, sektor kreatif mencakup subsektor seperti seni pertunjukan, film, musik, desain, hingga animasi—yang membutuhkan pendekatan spesifik untuk berkembang. Selain itu, keterbatasan fiskal sering kali menjadi alasan utama minimnya program atau fasilitas untuk sektor ini. Sebagian besar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) habis untuk belanja rutin, sementara dana transfer dari pusat tidak secara khusus mendukung ekonomi kreatif.

Opini

Indonesia Emas 2045: Antara Mimpi dan Realita (Dialog Imajiner)

ruminews.id- Di sebuah warung kopi pinggir jalan, lampu neon berkedip-kedip, seolah bingung apakah harus tetap menyala atau menyerah. Malam terasa lebih hangat dari biasanya, entah karena udara yang makin panas atau perbincangan yang mulai memanas. Di salah satu sudut warung, duduklah Pak Tua, seorang pensiunan yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Di depannya, tiga anak muda dengan semangat membara: Adhi, mahasiswa filsafat yang suka mengutip buku tebal tapi dompetnya tipis; Yanti, aktivis lingkungan yang tiap hari demo tapi tetap bingung kenapa perubahan iklim makin parah; dan Farid, pengusaha startup yang percaya bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan aplikasi—kecuali sinyal yang lemot. Sambil menikmati kopi hitam yang kini harganya lebih mahal dari emas, mereka memulai obrolan tentang Indonesia Emas 2045. Adhi menyeruput kopinya, lalu menatap jauh ke langit seolah sedang berdialog dengan para filsuf besar. “Wah, kita sudah di tahun 2045! Indonesia sudah 100 tahun merdeka! Pasti sekarang udah jadi negara maju, kan?” katanya penuh optimisme. Pak Tua menyandarkan punggungnya, tersenyum kecil sambil mengaduk kopinya yang mulai dingin. “Oh tentu! Kita sangat maju. Macetnya sudah berteknologi tinggi, polusinya kelas dunia, dan birokrasi masih punya jurus ninja baru!” Yanti, yang sejak tadi scrolling berita di ponselnya, menghela napas panjang. “Tapi katanya Indonesia bakal jadi negara ekonomi terkuat?” Pak Tua mengangguk dramatis. “Betul! Kita kuat… kuat menanggung utang! Sekarang bayar pajak aja sudah setara harga satu porsi nasi goreng di restoran mewah. Bedanya, kalau nasi goreng masih bisa bikin kenyang, pajak? Hmm…” Farid, yang selalu optimis dengan teknologi, mencoba melihat sisi positifnya. “Tapi kan kita udah punya IKN, ibu kota baru! Smart city! Green city!” Pak Tua menepuk pundaknya pelan. “Iya, betul! IKN itu luar biasa. Katanya mau jadi kota hijau, dan memang terbukti… pas banjir, airnya hijau juga!” Adhi kembali menyeruput kopinya, lalu mengangguk penuh keyakinan. “Sekarang semua serba AI. Katanya manusia bakal hidup lebih santai karena semua pekerjaan diambil alih robot? Pak Tua terkekeh. “Oh iya, manusia sekarang lebih santai… santai nunggu panggilan kerja yang nggak pernah datang! Dulu orang takut AI bakal menguasai dunia, sekarang mereka takut AI-nya cuma dipakai buat ngelamar kerja tapi tetap ditolak.” Yanti, yang masih berusaha mencari sisi positif dalam segalanya, bertanya dengan penuh harap. “Tapi minimal kita udah lebih ramah lingkungan, kan?” Pak Tua mengangguk cepat. “Oh tentu! Sekarang sampah kita bukan cuma ada di darat, laut, dan sungai, tapi juga di orbit luar angkasa! Kita benar-benar global!” Farid, yang selalu optimis pada inovasi, tersenyum percaya diri. “Tapi politik kita udah canggih! Demokrasi digital!” Pak Tua kembali mengaduk kopinya dengan santai. “Iya, sekarang pemilu tinggal sekali klik. Masalahnya, janji kampanye juga tinggal sekali klik… dihapus dari ingatan!” Adhi mengernyit. “Tapi pasti ada kemajuan, kan?” Pak Tua mengangkat bahu. “Jelas ada! Jalan tol makin panjang, tarifnya makin mahal, dan bahan bakar makin langka. Semua berjalan sesuai rencana!” Yanti akhirnya bertanya dengan nada serius. “Jadi menurut Pak Tua, Indonesia Emas ini mimpi atau kenyataan?” Pak Tua menatap mereka satu per satu. Lalu, dengan suara pelan tapi menusuk, ia berkata: “Indonesia Emas itu kayak cinta dalam sinetron: banyak janji, penuh drama, dan ending-nya tergantung rating. Kalau rakyatnya optimis dan mau kerja keras, bisa jadi nyata. Tapi kalau masih sibuk debat di media sosial, lupa inovasi, dan korupsi masih jadi hobi… ya kita emas-emas-an aja. Alias… kaleng-kalengan.” Farid mengangguk pelan. “Jadi solusinya apa, Pak?” Pak Tua menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara tenang: “Kurangi janji, perbanyak aksi. Jangan sibuk ribut, tapi sibuk berkarya. Dan yang paling penting… bayar pajak dengan ikhlas!” Hening sejenak. Lalu mereka semua tertawa—entah karena setuju, entah karena tak tahu harus bagaimana lagi. Dan di tengah malam yang mulai dingin, di bawah lampu warung kopi yang masih berkedip-kedip, mereka kembali menyeruput kopi masing-masing sambil menatap jauh ke arah masa depan yang masih samar-samar. Tamat. #DialogImaginer

Opini

Belanja Pemda Tak Boleh Tertahan: Jika Lambat, Ekonomi Bisa Macet

ruminews.id- Pemangkasan anggaran oleh pemerintah pusat pada awal 2025 menambah tantangan bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi. Dengan keterbatasan daya fiskal, daerah harus tetap memastikan peredaran uang di masyarakat berjalan lancar agar konsumsi rumah tangga tidak melemah. Jika belanja pemerintah daerah tertahan, bukan hanya sektor barang dan jasa yang terdampak, tetapi juga lapangan kerja dan daya beli masyarakat. Di sisi lain, kewajiban mengalokasikan anggaran untuk program makan bergizi gratis semakin mempersempit ruang gerak fiskal daerah. Situasi ini menuntut kepala daerah untuk lebih adaptif dalam mengelola kas dan mempercepat distribusi belanja di triwulan pertama tahun ini. Pemerintah pusat telah mengumumkan kebijakan pemangkasan anggaran belanja negara sebagai bagian dari langkah pengendalian defisit fiskal pada awal tahun 2025. Kebijakan ini berimbas langsung pada pemerintah daerah, termasuk di Provinsi Sulsel. Dengan berkurangnya transfer dana pusat, pemerintah daerah dituntut untuk menemukan strategi agar perputaran ekonomi di wilayahnya tetap berjalan dan tidak memicu stagnasi di sektor barang dan jasa. Meskipun mengalami pemotongan anggaran, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk menjaga stabilitas ekonomi di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Hal ini penting untuk memastikan konsumsi rumah tangga tetap terjaga, menghindari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), serta mempertahankan daya beli masyarakat. Tulisan ini dihadirkan sebagai tanggapan atas keluhan masyarakat, khususnya para penyedia barang dan jasa yang selama ini sangat bergantung pada serapan belanja pemerintah. Mereka khawatir, kebijakan pemangkasan anggaran ini akan mengurangi kemampuan perusahaan untuk membayar gaji karyawan, yang berpotensi memicu gelombang PHK massal. Kami sangat khawatir jika belanja pemerintah tertahan, kami terancam tidak bisa mempertahankan tenaga kerja. Dampaknya akan sangat besar pada daya beli masyarakat,” ungkap salah satu penyedia jasa akomodasi di Makassar. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah arus kas pemerintah daerah di awal tahun 2025. Setelah kewajiban pembayaran gaji pegawai negeri sipil (PNS) direalisasikan, arus kas harus tetap terdistribusi ke masyarakat melalui berbagai program belanja daerah. Belanja pemerintah tidak boleh ditahan menunggu momentum di bulan tertentu, sebab triwulan awal tahun ini menjadi fase krusial bagi peredaran uang di masyarakat. Selain itu, pemerintah daerah juga dihadapkan pada tantangan baru dalam pengelolaan anggaran, yakni kewajiban untuk mengalokasikan anggaran program makan bergizi gratis. Program ini sebelumnya tidak termuat dalam APBN 2025 dan Peraturan Daerah (Perda) APBD 2025, sehingga seluruh pemerintah daerah harus melakukan perubahan Peraturan Kepala Daerah (Perkada) Penjabaran APBD agar program tersebut dapat diimplementasikan. Pemangkasan anggaran dan tambahan beban pengeluaran ini mempersempit ruang fiskal daerah. Di tengah pemotongan anggaran dari pusat, pemerintah daerah masih harus mengalokasikan anggaran untuk makan bergizi gratis. Ini menjadi tantangan besar, terutama bagi daerah dengan pendapatan asli daerah (PAD) yang terbatas. Karena itu, strategi pengelolaan kas daerah harus lebih adaptif agar belanja tetap efektif dan ekonomi tetap bergerak Sebagai contoh Pemerintah Sulawesi Selatan segera mengkaji langkah-langkah strategis untuk menghadapi kondisi ini. Beberapa upaya yang dipertimbangkan di antaranya adalah optimalisasi sektor pariwisata, percepatan realisasi proyek infrastruktur berbasis kemitraan dengan swasta, serta pemberian insentif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar tetap berproduksi dan menjaga daya serap tenaga kerja. Pemangkasan anggaran tidak akan menghambat pembangunan daerah. Pemda harus memastikan agar distribusi belanja tetap tepat sasaran dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal ini merupakan salah satu opsi mempertahankan daya beli masyarakat serta mendukung UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Karena itu, arus kas pemerintah harus segera beredar ke masyarakat sejak awal tahun. Di sisi lain, pemda juga harus melakukan penyesuaian anggaran agar program makan bergizi gratis bisa terlaksana sesuai arahan pemerintah pusat. Sejumlah Pj kepala daerah di kabupaten/kota didorong mulai mencari solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi di wilayahnya. Salah satu langkah yang diusulkan adalah penguatan program padat karya untuk memastikan perputaran uang di masyarakat tetap berjalan. Mengoptimalkan potensi unggulan semisal di provinsi Sulawesi Selatan terhadap sektor pertanian dan perikanan melalui bantuan teknologi dan akses pasar yang lebih luas. Kebijakan pemangkasan anggaran ini menjadi tantangan bagi daerah, namun bukan berarti pembangunan dan pertumbuhan ekonomi harus terhenti. Dengan strategi yang tepat, pemerintah daerah masih bisa menjaga keseimbangan fiskal tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat. Arus kas yang sehat dan tepat sasaran sejak awal tahun menjadi kunci agar ekonomi tetap bergerak dan tidak terjebak dalam perlambatan, sementara alokasi anggaran untuk program baru seperti makan bergizi gratis harus dikelola dengan cermat agar tidak mengorbankan sektor lain yang juga penting bagi perekonomian daerah.

Opini

Resonansi Positif : Rahasia Meningkatkan Hubungan Emosional dengan Pasangan dan Keluarga.

ruminews.id- Positivity Resonance atau Resonansi Positivitas atau Kesesuaian Positif adalah istilah yang diperkenalkan oleh Barbara Fredrickson dalam penelitian tentang emosi positif dan koneksi sosial. Konsep ini mengacu pada pengalaman emosi positif yang muncul dan saling berbagi antara dua atau lebih individu, menciptakan hubungan yang harmonis, saling menghargai, dan mendalam. Dalam konteks ini, resonansi positif tidak hanya memperkuat hubungan emosional tetapi juga memengaruhi kesejahteraan fisik dan psikologis. Kesesuaian positif menggambarkan interaksi singkat namun bermakna yang bisa memperkuat hubungan sosial dan membawa manfaat besar bagi kesehatan fisik, emosional, dan psikologis. Kesesuaian positif terjadi ketika dua orang merasakan kebahagiaan atau perasaan baik yang sama pada saat yang bersamaan. Misalnya, saat tertawa bersama karena lelucon lucu, merasakan kehangatan saat berbagi pelukan, atau sama-sama merasa bahagia melihat sesuatu yang indah. Ini adalah momen ketika perasaan positif saling terhubung dan mempererat hubungan. Saat sesuai secara positif, maka tubuh dan respons kita selaras dengan orang lain dan kita merasa terhubung. Misalnya, ketika berbicara dengan seseorang dan tanpa sadar saling meniru gerakan atau ekspresi wajah, tertawa bersama pada waktu yang sama, atau bahkan bernapas dengan ritme yang mirip. Ini adalah tanda bahwa kita dan orang tersebut benar-benar “nyambung” secara fisik dan emosional, dimana tubuh juga ikut berkomunikasi satu sama lain. Yang terjadi kemudian adalah hubungan timbal balik. Ada rasa saling peduli antara dua orang. Keduanya merasa dihargai dan penting satu sama lain. Misalnya, saat kita mendengarkan cerita pasangan dengan penuh perhatian, dan dia juga mendengarkan kita dengan tulus ketika giliran kita berbicara. Hubungan ini terasa hangat karena kita dan pasangan sama-sama terhubung dan saling memberi perhatian yang tulus. Momen ketika kita berbagi emosi positif dengan orang lain ternyata berdampak langsung pada tubuh kita. Ketika kita merasa senang atau terhubung dengan seseorang, maka tubuh menjadi lebih rileks, dan tekanan darah kita cenderung menurun. Ini baik untuk kesehatan jantung kita. Sistem imun kita menjadi lebih kuat karena merasakan emosi positif, membuat tubuh kita secara alami menjadi lebih tangguh dalam melawan penyakit. Hal ini terjadi karena emosi seperti kebahagiaan, cinta, atau rasa terhubung memicu pelepasan hormon-hormon “baik” seperti oksitosin dan endorfin. Hormon-hormon ini membantu mengurangi stres dan meningkatkan aktivitas sel-sel imun yang bertugas melindungi tubuh dari virus, bakteri, atau ancaman lainnya. Momen-momen interaksi positif dengan orang lain, seperti berbicara, berbagi cerita, atau tertawa bersama, membantu tubuh untuk lebih rileks dan mengelola stres. Ketika kita merasa bahagia atau tenang, maka tubuh memproduksi lebih sedikit hormon stres, sehingga risiko penyakit seperti diabetes atau gangguan jantung bisa menurun. Fredrickson menekankan pentingnya hadir dalam momen interaksi untuk menciptakan koneksi yang otentik. Ini sesuai dengan penelitian yang menunjukkan bahwa ketika kita sepenuhnya hadir dalam percakapan, kita lebih mungkin merasakan momen positivity resonance. Saat berbicara dengan seseorang, fokuslah sepenuhnya pada mereka. Jangan terganggu oleh ponsel atau pikiran lain. Tunjukkan bahwa kita mendengarkan dengan kontak mata, anggukan kepala, atau senyuman. Dalam penelitiannya, Fredrickson menyatakan bahwa mendengarkan dengan penuh perhatian dan empati meningkatkan kualitas hubungan sosial, yang penting dalam menciptakan resonansi positif. Saat seseorang sedang menghadapi masalah, dengarkan dengan empati tanpa langsung memberikan saran kecuali diminta. Jadilah pendengar aktif – dengarkan tanpa menghakimi dan tunjukkan bahwa kita peduli. Menerapkan prinsip positivity resonance dalam hubungan dengan pasangan dan anak dapat mempererat ikatan emosional dan memperdalam koneksi. Pasangan maupun anak akan merasa lebih dihargai dan terhubung. Ini tidak hanya meningkatkan kebahagiaan keluarga, tetapi juga dapat menurunkan tingkat stres, menciptakan rumah yang lebih harmonis, dan memberikan manfaat kesehatan mental serta fisik bagi semua anggota keluarga. Secara keseluruhan, dengan lebih sering mengalami positivity resonance dalam interaksi sehari-hari, hubungan dengan pasangan dan anak akan semakin erat, penuh kasih sayang, dan harmonis. @pakarpemberdayaandiri

Scroll to Top