Milad ke-80 HPMM, Aliansi HPMM Sejajaran Soroti Krisis Ekologi Enrekang dan Desak Mitigasi, Siapkan Aksi Demonstrasi

ruminews.id – MAKASSAR, 23 OKTOBER 2026 Aliansi HPMM Sejajaran menggelar diskusi bertajuk “Krisis Ekologi: Bencana Alam atau Kegagalan Tata Kelola?” di Warkop Tetes Kopi, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini diikuti beberapan jajaran yang tergabung di Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu (HPMM) dan menghadirkan Kurniawan Sabar, Direktur Institut E for National Democracy Studies (INDIES), sebagai pemateri.

Diskusi ini menjadi ruang konsolidasi intelektual sekaligus refleksi kritis terhadap persoalan krisis ekologi, mitigasi bencana, dan tanggung jawab tata kelola lingkungan. Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan momentum Milad ke-80 HPMM, yang menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang organisasi harus terus terhubung dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Pertanyaan utama yang mengemuka dalam forum ini adalah apakah bencana ekologis semata-mata merupakan konsekuensi dari fenomena alam, atau terdapat persoalan tata kelola, lemahnya mitigasi, pengawasan yang belum optimal, serta kebijakan yang belum sepenuhnya menjamin keselamatan masyarakat.

Krisis ekologi tidak cukup dipahami sebagai persoalan alam semata. Ketika risiko dapat dipetakan, kerentanan masyarakat diketahui, dan dampak bencana terus menjadi ancaman, maka kualitas kebijakan pencegahan, kesiapsiagaan, dan perlindungan lingkungan harus menjadi objek evaluasi publik.

Bencana mungkin tidak seluruhnya dapat dicegah, tetapi risiko dan besarnya dampak yang ditanggung masyarakat berkaitan erat dengan kualitas mitigasi serta tata kelola yang dijalankan. Karena itu, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu menunjukkan langkah konkret, transparansi kebijakan, serta evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Keterlibatan beberapa jajaran jajaran yang tergabung di HPMM dalam diskusi ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif dan menyatukan perspektif antarkomponen organisasi.Melihat PP HPMM Yang tak mampu dan tak sanggup dalam mengawal polemik yang kemudian hadir di kabupaten Enrekang, Konsolidasi tersebut penting agar respons mahasiswa terhadap krisis ekologi tidak berhenti pada kritik individual, tetapi berkembang menjadi sikap bersama yang memiliki dasar argumentasi, data, dan tuntutan yang jelas.

Momentum Milad ke-80 HPMM turut memberikan makna tersendiri bagi aliansi jajaran, Delapan dekade perjalanan HPMM bukan semata-mata alasan untuk merayakan usia organisasi, melainkan kesempatan untuk mengevaluasi sejauh mana nilai perjuangan, kaderisasi, dan pengabdian kepada masyarakat diwujudkan dalam tindakan nyata.

Bagi Aliansi HPMM Sejajaran, organisasi mahasiswa harus tetap menjadi ruang pembentukan kesadaran kritis dan keberanian berpihak kepada kepentingan masyarakat. Sejarah panjang organisasi tidak boleh berhenti sebagai romantisme masa lalu ketika berbagai persoalan sosial dan ekologis masih membutuhkan jawaban.

Cita-cita HPMM untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridai Allah SWT menuntut perjuangan yang konkret. Keadilan tidak akan bermakna apabila masyarakat terus menanggung dampak kerusakan lingkungan, sementara upaya pencegahan dan pertanggungjawaban kebijakan tidak berjalan secara transparan.

Diskusi ini sekaligus menjadi langkah awal bagi Aliansi HPMM Sejajaran untuk memperkuat konsolidasi dan mendorong tindak lanjut dalam bentuk advokasi maupun aksi demonstrasi. Aksi massa dipandang sebagai salah satu instrumen demokratis untuk menyampaikan aspirasi, menekan pemangku kebijakan agar lebih bertanggung jawab, serta menuntut evaluasi terhadap upaya mitigasi dan pengelolaan lingkungan.

Dorongan aksi tersebut menegaskan bahwa forum intelektual tidak boleh berakhir sebagai pertukaran gagasan tanpa konsekuensi. Hasil diskusi perlu diterjemahkan menjadi rumusan masalah, tuntutan berbasis data, sasaran kebijakan yang jelas, serta langkah perjuangan yang terorganisasi.

Bagi aliansi, demonstrasi bukan sekadar mobilisasi massa, melainkan bentuk kontrol publik terhadap kekuasaan. Namun, kekuatan gerakan harus dibangun melalui argumentasi yang dapat diuji, tuntutan yang terukur, dan komitmen untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat secara bertanggung jawab.

Delapan dekade HPMM seharusnya menjadi pengingat bahwa usia organisasi tidak otomatis membuktikan keberhasilan perjuangan. Ukurannya terletak pada kemampuan kader membaca persoalan zaman, membangun keberpihakan, dan mengorganisasi kekuatan kolektif untuk mendorong perubahan.

Diskusi ini menjadi penegasan bahwa Milad ke-80 HPMM bukan garis akhir untuk merayakan sejarah, melainkan momentum untuk memperbarui arah perjuangan. Ketika krisis ekologi mengancam ruang hidup masyarakat, HPMM tidak boleh hanya menjadi penonton. Diskusi harus melahirkan sikap, sikap harus dirumuskan menjadi tuntutan, dan tuntutan harus diperjuangkan melalui gerakan yang terukur.

Melalui kegiatan ini, Aliansi HPMM Sejajaran diharapkan dapat memperkuat persatuan antar jajaran, memperluas kesadaran ekologis, dan membangun langkah advokasi yang lebih konkret. Tujuannya bukan hanya mengkritik kebijakan, melainkan mendorong tata kelola lingkungan yang transparan, bertanggung jawab, dan berpihak kepada keselamatan masyarakat.

Sebab, cita-cita masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah SWT tidak cukup diucapkan dalam konstitusi atau pidato perayaan. Cita-cita itu harus diperjuangkan melalui pengabdian, keberanian mengoreksi kekuasaan, dan tindakan nyata untuk melindungi kehidupan serta masa depan masyarakat Massenrempulu.

Share

Scroll to Top