Menanti Tanpa Ujung: “Berbincang Aksi Kamisan Melawan Impunitas”

Ruminews.id, Yogyakarta — Tragedi 1998 masih membekas dalam ingatan masyarakat Indonesia. Mengenang peristiwa tersebut, Jabfest (Jogja Art Books Festival) 2026 mengadakan kegiatan bincang-bincang dengan salah satu saksi sejarah dari kekerasan rezim tersebut.

Namanya Maria Sumarsih, wajahnya sayu terlihat tegar di tengah kegetiran masa lalu. Bincang kali ini membahas tentang “Aksi Kamisan” dimulai sejak tahun 2007 lalu di Jakarta. Dengan tajuk “Menanti Tanpa Ujung, Kemanakah Engkau?” menjadi gambaran keluarga korban pelanggaran HAM yang terus menanti keadilan negara yang terus memendam tanda tanya. 

Diskusi berlangsung pada Senin (5/10/2026) di The Ratan, Bantul, Yogyakarta. Acara dipandu oleh Iroy Mahyuni dari Social Movement Institute (SMI) sebagai moderator, dengan menghadirkan Maria Catarina Sumarsih, ibunda Wawan; Ugoran Prasad, vokalis band Majelis Lidah Berduri; serta Eko Prasetyo, penulis sekaligus pegiat Social Movement Institute.

Setelah Iroy memperkenalkan satu persatu narasumber kemudian dilanjutkan dengan mengawali pertanyaan kepada ibu Sumarsih.

“Selama 2 dekade berdiri setiap hari kamis, apa yang membuat ibu bertahan sampai saat ini?”

“Saya bertahan selama 2 dekade ini karena orang yang saya cintai Wawan dibunuh, dan dukacita yang bertransformasi kepada cinta terhadap sesama yang kami perjuangkan tidak hanya kasus penembakan tetapi semua kasus pelanggaran HAM berat, karena aksi Kamisan merupakan tempat orang mencucurkan air mata”.

Rektor STF (Sekolah Tinggi Filsafat) Driyarkara mengatakan aksi kamisan ini menjadi monumen ketidakadilan. Demikian Sumarsih mengawali pembicaraan.

Iroy kembali bertanya tentang situasi Indonesia saat ini, Presiden kita adalah pelaku pelanggaran HAM, bagaimana cara aksi kamisan Jakarta menyesuaikan strategi perjuangan menghadapi pemerintahan saat ini? Jadi setiap kampanye Pemilu beredar isu terbentuknya Tim Mawar, bentukan Prabowo Subianto.

Di dalam aksi Kamisan Jakarta, pasca Prabowo dilantik sebagai Presiden, kami sudah tidak membuat surat yang ditunjukan kepada Presiden, melainkan kami membuat selebaran. Jadi jika ada orang datang kami membagikan selebaran sebagai pernyataan sikap saat kamisan berlangsung.

Awal Aksi Kamisan di Jakarta, kami pernah disuruh menyingkir terlebih dahulu ketika ada rombongan Presiden, pernah juga dalam satu hari aksi kamisan payung hitam kami rusak karena terlibat dorong-dorongan dengan aparat di depan istana negara.

Hal ini membuktikan masih ada sikap represif aparat dalam mengamankan berjalannya aksi kamisan. Demikian Sumarsih menambahkan.

Hal lain tentang aksi kamisan, disampaikan oleh Ugo Prasad tentang pentingnya seni untuk melakukan perlawanan, karena di beberapa kota yang mengadakan kamisan, kebanyakan dari pelaku seni (musisi-penyair) turut hadir untuk bersimpati pada gerakan kamisan ini.

Ugo bercerita kalau aktivis di periode 1998, banyak yang kemudian melakukan sebuah gerakan secara progresif bahkan berujung pada langkah-langkah “Chaos” di akhir itu berlangsung berdampak pada jatuhnya korban pada massa aksi.

“Saya merasa kagum dengan kamisan karena dalam aksi ini yang kehilangan justru menjadikan rasa kehilangan pribadi tersebut menjadi ingatan kolektif kepada seluruh masyarakat Indonesia”.

Sehingga kesenian banyak belajar dari hal tersebut sebagai media aspirasi untuk merawat ingatan kekerasan di masa lalu. Karena bagi saya kesenian itu sarana menyampaikan perasaan, kasih, solidaritas dan kesedihan agar publik selalu menjaga ingatan tersebut.

Iroy kemudian melanjutkan pertanyaan kepada Ugo, mulai kapan Bang Ugo sendiri memilih jalur musik perlawanan, yang pemilihan diksi liriknya dekat dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini?

Menurut Ugo, karena saya dulu kuliah di Sospol UGM sebelum periode 1998, memperlihatkan realitas sosial saat Ugo muda untuk memandang masalah-masalah yang terjadi di masa Orde Baru tersebut. Semakin lama Ugo juga mendapatkan inspirasi-inspirasi dari lagu-lagu Iwan Fals, saat itu juga ada lagu “Darah Juang”, jadi kesenian dan politik itu selalu ada disekitar saya.

“wajar, orang dari jogja membuat band yang politis, justru malah menjadi aneh kalau ada musisi atau band dari jogja yang tidak mengkritisi politik”. Demikian ujar Ugo.

Perbincangan dilanjutkan oleh Eko Prasetyo, Eko mengawali perbincangan dengan menceritakan pengalaman awal mengadakan aksi kamisan, harus berpindah-pindah tempat, dari bundaran UGM, nol Km Jogja, hingga saat ini aksi menetap di Tugu Jogja.

Pada Agustus 2025 lalu, banyak aksi kamisan yang mengalami represi oleh aparat salah satunya aksi kamisan Jogja, lalu bentuk keberanian seperti apa yang harusnya dimiliki oleh anak muda untuk tetap memiliki komitmen dalam perjuangan aksi kamisan ini?

Kamisan Jogja, 13 tahun lalu dimulai saat SMI diajak oleh kawan-kawan Kontras,

“bukan memulainya tapi, bagaimana aksi kamisan ini tetap terus bertahan sama yang dilakukan oleh bu Sumarsih. Bahkan ada keponakan saya dari TK ikut aksi kamisan saat ini sudah menjadi mahasiswa dan menjadi kordinator aksi kamisan”. Untuk melawan rezim yang memiliki impunitas, harus melalui proses edukasi sangat panjang karena otoriterisme tidak hanya bisa dilawan dengan teriakan dan pernyataan sikap, melainkan harus dilawan dengan ketangguhan. Seperti apa yang dikatakan bu Sumarsih tadi, “Energi Cinta”, cinta dan empatik kepada ketidakadilan terutama kepada korban. Hampir seluruh instansi pendidikan tidak pernah memberikan edukasi “Kejahatan HAM”sebagai bagian dari peristiwa masa lalu, sehingga melalui aksi kamisan, edukasi panjang dapat diberikan dan generasi muda yang ada di dalamnya memiliki ketangguhan untuk melawan ketidakadilan. Demikian tutur Eko Prasetyo.

Salah satu keberhasilan kamisan melakukan edukasi politik melahirkan aktivis-aktivis yang tidak bisa dilakukan organisasi-organisasi mahasiswa karena mengalami kelumpuhan. Banyak organisasi kemahasiswaan menjadi korporatif karena dapat dibeli oleh kekuasaan.

Banyak tokoh-tokoh dalam aksi kamisan seperti bu Sumarsih dan Mbak Suciwati menjadi “tauladan” bagi generasi muda yang gerakan sosialnya sudah mengalami pergeseran karena kepentingan kekuasaan.

“peralihan gerakan mahasiswa cepat sekali terjadi saat ini, kalau dulu mahasiswa perlu diculik terlebih dahulu, ditangkap, dan disiksa kemudian baru bersatu dengan para penculiknya”.

Kalau saat ini tidak perlu diculik sikap politiknya sudah bisa berubah, jadi tidak perlu ada peristiwa “heroisme” anak muda untuk mendapatkan kekuasaan serta kenyamanan. Demikian Eko menambahkan.

Fakta yang menarik dari aksi kamisan ini, dikatakan bahwa aksi kamisan memberikan dampak signifikan bagi keberanian bersuara masyarakat sipil dengan ikut melibatkan seluruh kelompok masyarakat untuk selalu merawat ingatannya terhadap kekerasan HAM.

Ketika Eko Prasetyo bicara tentang sarana edukasi politik bagi generasi muda, ternyata kamisan di Jakarta banyak di datangi oleh para pelajar untuk mencari segala informasi berkaitan tentang kekerasan HAM, permasalahan sosial masyarakat yang tidak dapat oleh gerakan sosial lain. Beberapa mahasiswa bahkan menjadikan kamisan sebagai kajian studi, penelitian serta riset tentang transformasi kekerasan HAM negara terhadap masyarakatnya di Indonesia.

Dampak lain juga dirasakan oleh pihak kepolisian yang karena keterbatasannya sebagai abdi negara tidak mampu menyampaikan aspirasinya, namun dengan adanya kamisan aspirasi keluarganya yang sama-sama sebagai masyarakat sipil dapat tersampaikan dihadapan publik.

Perbincangan yang di moderatori Iroy semakin mendalam setelah itu sesi tanya jawab dilakukan. Salah satu peserta kemudian, mengajukan pertanyaan kepada Sumarsih, bagaimana langkah yang dilakukan oleh keluarga korban untuk mengawal kasus pelanggaran HAM diluar dari aksi kamisan, lalu sejauh mana peranan organisasi internasional dan kelompok sosial gereja untuk mendukung aksi kamisan ini?

Kepada Ugo dan Eko apakah ada tips-tips untuk dapat konsisten dalam gerakan serta memelihara idealisme?

Sumarsih kemudian menanggapi pertanyaan tersebut, bahwa diluar aksi kamisan tentu para keluarga korban terus membangun jejaring solidaritas, bersama Kontras kami keluarga korban mendapatkan arahan dan pendampingan saat bertemu dengan Presiden, bersurat dengan Presiden hingga membuat publikasi berkaitan dengan aksi kamisan ini.

Peranan dunia internasional dalam melihat kasus ini, memang pernah ada dari Dewan Keamanan PBB yang sempat bersimpati pada aksi kamisan ini, namun jawabannya kembali kepada kekuasaan internal pemerintah Indonesia agar dapat menanggapi serius permasalahan kejahatan HAM di masa lalu.

Sumarsih juga merasa terbantu dengan adanya kelompok rohaniawan Katolik yang bersimpati datang saat aksi kamisan, biasanya Romo akan melakukan refleksi dan berdoa diakhir acara. Apapun perlawanannya biarkan “Roh Kudus” yang tetap bekerja.

Dalam satu kesempatan Sumarsih juga sempat berkirim surat dengan Paus Fransiskus saat berkunjung ke Jakarta. Atas bantuan Romo Benny dan Romo Feliks, Sumarsih berharap dapat menyapa Paus Fransiskus saat mereka mengadakan aksi kamisan, hal tersebut terwujud walau tidak lama simpati Paus Fransiskus dapat menjadi suluh bagi Sumarsih untuk tetap meneruskan aksi kamisan ini.

Sumarsih juga mengomentari tentang cara menjaga idealisme, kemudian dirinya teringat ucapan Wawan saat masih hidup tentang istilah “Reformis Gadungan”, menurut Wawan, bukan reformis sejati jika tidak tahan lapar, haus dan kekuasaan.

Apa yang terjadi pada Rocky Gerung kemarin menjadi bagian dari contoh bahwa idealisme mampu dibeli oleh kekuasaan. Ugo juga sependapat dengan Sumarsih, Ugo mengatakan bahwa kebenaran adalah sebuah proses, bukan sesuatu yang absolut sehingga dapat merubah kesalahan menjadi pembenaran.

Dengan selalu berada pada teman-teman yang mengingatkan jika kita bertindak salah, merupakan salah satu bentuk kita merawat idealisme tersebut. Sedangkan Eko Prasetyo memberikan tips merawat idealisme dengan selalu memperluas imajinasi,

“memang baik itu penting tetapi imajinasi itu lebih penting untuk memunculkan idealisme yang optimis”.

Menutup perbincangan Eko membacakan sebuah sajak, “Keberanian Tidak Selalu Mengaung, Terkadang Berbicara Lirih di Hari yang Berbisik, Aku Akan Coba Lawan Lagi”, mencoba melawan berkali-kali, hingga terjatuh tersungkur bahkan menanti tanpa ujung, tetapi kita harus bangkit lagi.

Sumarsih menjadi contoh simbol perlawanan yang tak berujung, meski lelah inspirasinya membangkitkan kaum muda untuk untuk berani bersuara dan melawan tanpa kekerasan.

***

Kontributor: Angga Riyon Nugroho, S.Pd.
Editor: Iman Amirullah

Share

Scroll to Top