Ruminews.id — Perusahaan investasi asal New York, Heeney Capital, menandatangani kesepakatan dengan otoritas Venezuela untuk mengoperasikan sekaligus mengekspor emas dari tambang Choco.
Di sektor minyak, perusahaan asal Amerika Serikat, Continental Resources, juga meneken kesepakatan awal untuk mengembangkan salah satu wilayah minyak terbesar Venezuela.
Kesepakatan kedua perusahaan tersebut diteken pada Rabu (16/9/2026) di Houston, di sela-sela konferensi energi G20. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendorong masuknya investasi Amerika Serikat ke Venezuela, khususnya pada sektor energi dan pertambangan.
Heeney Capital akan bekerja sama dengan perusahaan perdagangan komoditas Mercuria Energy untuk mengoperasikan tambang emas Choco selama 30 tahun. Seorang juru bicara Heeney mengatakan investasi awal untuk proyek tersebut diperkirakan mencapai hingga US$1 miliar.
Tambang Choco berada di kompleks industri El Callao, Negara Bagian Bolivar, wilayah selatan Venezuela. Tambang tersebut disebut sebagai salah satu deposit emas penting di negara itu.
Kesepakatan Heeney Capital serupa dengan perjanjian yang sebelumnya diberikan kepada perusahaan perdagangan komoditas Trafigura untuk mengakses emas Venezuela.
Sementara itu, Continental Resources menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA. Kesepakatan tersebut membuka jalan bagi perusahaan untuk mengoperasikan dan mengembangkan wilayah Ayacucho 2 yang berada di Orinoco Belt.
Orinoco Belt merupakan kawasan penghasil minyak terbesar Venezuela. Continental menyatakan kesepakatan awal tersebut diperkirakan berkembang menjadi kontrak bagi hasil produksi dalam beberapa pekan mendatang.
Pendiri Continental Resources, Harold Hamm, mengatakan perusahaan tertarik dengan potensi sumber daya yang terdapat di wilayah tersebut.
“Tim kami menyukai tantangan. Ketika melihat apa yang terdapat di batuan sumber dan potensi yang sangat besar, peluang ini layak diperjuangkan dengan keahlian yang kami miliki,” ujar Hamm dalam konferensi pers.
CEO Continental Resources Doug Lawler mengatakan perusahaan masih mengevaluasi sejumlah calon mitra untuk proyek tersebut. Ayacucho 2 masih berada dalam tahap awal dan membutuhkan studi seismik serta kegiatan eksplorasi yang cukup besar.
Continental berencana mempertahankan 100 persen kepemilikan kerja dalam proyek tersebut. Lawler memperkirakan produksi pertama dari Ayacucho 2 dapat dimulai sekitar 18 bulan mendatang.
Blok tersebut diperkirakan memiliki sumber daya sekitar 30 miliar barel minyak di tempat.
Masuknya perusahaan-perusahaan AS ke Venezuela berlangsung ketika pemerintah negara tersebut melakukan reformasi besar-besaran terhadap sektor energi. Produsen minyak asing mulai diarahkan menuju skema usaha patungan dan kontrak bagi hasil produksi.
Sejumlah perusahaan baru, khususnya dari Amerika Serikat, juga mulai menyatakan komitmen terhadap proyek pengembangan energi di Venezuela. Perkembangan itu berlangsung seiring dukungan Washington terhadap rencana rekonstruksi industri Venezuela senilai US$100 miliar.
Continental sebelumnya termasuk perusahaan yang dilaporkan telah melakukan pembicaraan dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengenai peluang investasi di Venezuela.
Hamm sendiri diketahui menjadi salah satu pendukung finansial Trump. Ia menyumbang lebih dari US$2 juta kepada komite kampanye yang berafiliasi dengan Trump selama siklus pemilu 2024. Hamm juga tercatat sebagai salah satu penggalang dana Trump dari kalangan eksekutif industri minyak dan gas serta berperan sebagai penasihat energi informal bagi Trump.
Pada hari yang sama, perusahaan asal Florida, Denarius Holding Group, juga mengumumkan kesepakatan selama 20 tahun untuk mengoperasikan salah satu proyek minyak di Venezuela. Pemegang saham utama Denarius adalah perusahaan energi asal Turki, Can2 Termik.



