Ruminews.id, Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali mendapat tekanan pada perdagangan Kamis (17/9/2026) setelah The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Sentimen tersebut datang ketika IHSG masih berada dalam fase koreksi secara teknikal.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan kenaikan suku bunga The Fed menjadi salah satu perhatian pasar karena dapat memengaruhi aliran dana ke aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang.
Keputusan tersebut membawa Fed Funds Rate ke kisaran 3,75-4,00 persen. Kondisi suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi mendorong penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi pemerintah AS, serta meningkatkan risiko keluarnya dana asing dari pasar saham negara berkembang.
“Menurut saya, persoalannya bukan semata-mata kenaikan suku bunga The Fed, karena sebagian keputusan tersebut kemungkinan sudah diantisipasi pasar,” kata Hendra dalam analisisnya, Kamis (17/9/2026).
Menurut dia, pasar justru akan mencermati pesan The Fed mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya. Ketika inflasi masih menjadi perhatian dan ruang pelonggaran moneter belum sepenuhnya terbuka, investor cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana pada aset berisiko.
Tekanan eksternal tersebut datang ketika kinerja IHSG sendiri masih menunjukkan pelemahan. Pada perdagangan Rabu (16/9/2026), IHSG ditutup turun 0,38 persen ke level 6.436,85 setelah sempat menguat hingga 6.535,46.
Namun, indeks kemudian berbalik melemah dan ditutup di level terendah harian. Hendra menilai kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual semakin kuat memasuki paruh kedua perdagangan.
Pelemahan itu juga memperpanjang tren negatif IHSG menjadi enam hari perdagangan berturut-turut. Dari sisi breadth, sebanyak 439 saham melemah, sementara hanya 201 saham yang menguat.
Sembilan dari 11 sektor IDX-IC juga berada di zona merah. Sektor infrastruktur mencatat penurunan 1,39 persen, teknologi melemah 1,13 persen, sedangkan sektor barang konsumen non-primer terkoreksi 1,12 persen.
Tekanan terhadap IHSG juga terjadi ketika sejumlah bursa utama Asia bergerak positif. Nikkei menguat 0,69 persen, Hang Seng naik 0,19 persen, dan Shanghai Composite bertambah 0,71 persen.
“Artinya, tekanan terhadap IHSG tidak semata-mata berasal dari kondisi eksternal, tetapi juga mencerminkan masih rapuhnya sentimen domestik. Ketika saham-saham big caps mengalami tekanan, kenaikan pada sebagian saham lapis kedua belum cukup untuk menopang indeks secara keseluruhan,” kata Hendra.
Selain kebijakan The Fed, harga minyak yang masih tinggi juga menjadi perhatian karena dapat menambah tekanan terhadap inflasi global.
Di sisi lain, perkembangan indeks MSCI juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Hendra mengatakan pengumuman MSCI pada 16 September mengenai konsultasi perubahan metodologi capped indexes tidak berarti terjadi perubahan komposisi saham Indonesia.
Konsultasi tersebut masih berlangsung hingga 30 September 2026. Hasil dan jadwal implementasinya dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Oktober 2026.
Karena itu, pengumuman tersebut tidak tepat jika langsung diartikan sebagai adanya saham Indonesia yang otomatis dikeluarkan atau dikurangi bobotnya.
Meski demikian, sensitivitas investor terhadap perkembangan MSCI dinilai masih tinggi. Perubahan metodologi, mekanisme indeks, maupun potensi dampaknya terhadap rebalancing dan arus dana pasif dapat memengaruhi sentimen pasar.
“Jadi, yang perlu diwaspadai bukan pengumuman MSCI tersebut sebagai pemicu aksi jual langsung, melainkan bagaimana investor merespons setiap perkembangan MSCI ketika kepercayaan terhadap pasar domestik belum sepenuhnya pulih,” ujar Hendra.
Untuk perdagangan Kamis, Hendra memperhatikan level 6.371 sebagai salah satu area support penting IHSG. Level tersebut sebelumnya sempat disentuh pada 14 September sebelum indeks rebound dan ditutup di 6.534,69.
Jika level 6.371 mampu dipertahankan ketika IHSG kembali mendapat tekanan, peluang technical rebound masih terbuka. Sebaliknya, jika level tersebut ditembus dengan tekanan jual besar dan diikuti pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar, risiko koreksi lanjutan dapat meningkat.
“Dalam kondisi tersebut, investor perlu mewaspadai terbentuknya level terendah baru karena support yang selama ini menjadi pijakan buyer sudah kehilangan kekuatannya,” kata Hendra.
Sementara itu, level 6.552 disebut sebagai resistance sekaligus area konfirmasi penting. IHSG sebelumnya sempat menyentuh 6.552,79 pada 11 September sebelum kembali melemah.
Menurut Hendra, selama indeks belum mampu menembus dan bertahan di atas 6.552, penguatan IHSG masih lebih tepat dibaca sebagai technical rebound, bukan perubahan tren.
“Perdagangan hari ini berpotensi menjadi ujian baru bagi IHSG. Sentimen The Fed, pergerakan yield obligasi AS, dolar, rupiah, harga minyak dan foreign flow akan menjadi faktor eksternal yang harus diperhatikan,” katanya.
Ia menambahkan, kemampuan IHSG mempertahankan 6.371 menjadi salah satu faktor yang akan menentukan ruang pemulihan jangka pendek, sementara 6.552 menjadi level yang perlu diperhatikan untuk melihat apakah momentum pemulihan mulai terbentuk.



