Indonesia Jajaki Investasi Sumber Minyak Baru di Guyana dan Suriname untuk Perkuat Ketahanan Energi

Amerika Latin
Peta Suriname dan Guyana. Sumber: Wikimedia Commons

Ruminews.id, Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah menjajaki peluang investasi di sektor minyak dan gas bumi (migas) di kawasan Amerika Latin, khususnya Guyana dan Suriname, sebagai langkah diversifikasi sumber energi nasional.

Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Grata Endah Werdaningtyas mengatakan, PT Pertamina (Persero) telah melakukan penjajakan kerja sama eksplorasi serta peluang investasi di sektor hulu migas kedua negara tersebut.

“Pertamina sudah melakukan penjajakan untuk kerja sama eksplorasi di kawasan ini serta investasi di sektor hulu migas Guyana dan Suriname,” ujar Grata dalam temu media di Jakarta, Senin.

Menurutnya, kawasan lepas pantai Guyana dan Suriname memiliki potensi cadangan minyak yang cukup besar. Produksi minyak dari wilayah tersebut diproyeksikan dapat mencapai sekitar 200 ribu barel per hari pada 2028.

Upaya mencari sumber minyak alternatif tersebut menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu pemasok energi tertentu. Langkah ini dinilai semakin penting di tengah dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi, termasuk ketegangan di kawasan Selat Hormuz akibat konflik Amerika Serikat dan Iran.

Grata menegaskan, apabila kerja sama tersebut terealisasi, Indonesia tidak hanya akan menjadi pembeli minyak dari Guyana dan Suriname, tetapi juga mengambil bagian melalui investasi langsung.

“Investasi berarti ada kepemilikan kita di sumber tersebut, sehingga suplai dari sana akan semakin pasti bagi kita,” katanya.

Ia menilai langkah investasi tersebut akan membuat Indonesia memiliki posisi yang lebih strategis dalam industri migas global.

“Dengan langkah tersebut, kita jadi pemain yang lebih cerdas di bidang migas,” tambahnya.

Selain sektor energi, penjajakan kerja sama tersebut berlangsung seiring meningkatnya hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan Amerika Latin dan Karibia. Berdasarkan data Kemlu RI, nilai ekspor Indonesia ke kawasan tersebut pada 2025 mencapai 7,6 miliar dolar AS, sementara nilai impor mencapai 8,5 miliar dolar AS.

Meski demikian, kontribusi perdagangan dan investasi Indonesia dengan kawasan Amerika Latin dan Karibia masih relatif kecil, yakni sekitar 3 persen dari total perdagangan global Indonesia. Pemerintah melihat kawasan tersebut masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan.

Untuk memperluas keterlibatan pelaku bisnis Indonesia di kawasan tersebut, Kemlu RI kembali menggelar misi bisnis Indonesia–Amerika Latin dan Karibia (INA-LAC). Tahun ini, kegiatan tersebut akan dipusatkan di Chile pada 1–2 Oktober 2026.

Share

Scroll to Top