Ruminews.id, Bone — Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menjadi perhatian Ketua DPK KEPMI Bone Lapawawoi UNM, Andi Fitra Makkuaseng.
Perhatian tersebut berawal saat Andi Fitra melihat langsung antrean kendaraan di salah satu SPBU di Kecamatan Mare, Kabupaten Bone, yang merupakan kampung halamannya. Kondisi itu kemudian membuatnya mempertanyakan apakah antrean BBM hanya terjadi di Mare atau juga terjadi di wilayah lain.

Untuk melihat kondisi secara lebih luas, Andi Fitra mencermati situasi sejumlah SPBU sepanjang perjalanan dari Kabupaten Bone menuju Kota Makassar. Dari pengamatannya, antrean serupa juga ditemukan di sejumlah SPBU di sepanjang jalur tersebut.
“Awalnya saya melihat antrean di SPBU yang ada di kampung halaman saya, di Kecamatan Mare. Dari situ saya bertanya, apakah kondisi seperti ini hanya terjadi di Mare atau juga terjadi di tempat lain. Namun dalam perjalanan dari Bone hingga Makassar, ternyata di sejumlah SPBU yang kami lalui juga terjadi antrean,” ujar Andi kepada redaksi Ruminews.
Andi Fitra kemudian mencermati berbagai informasi yang berkembang di ruang publik, termasuk pernyataan melalui kanal dan media sosial resmi pemerintah pusat. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, disebutkan bahwa pasokan atau suplai bahan bakar minyak (BBM) secara nasional tidak mengalami pengurangan.

Kondisi tersebut, menurut Andi Fitra, menimbulkan pertanyaan mengenai faktor yang menyebabkan antrean terjadi di sejumlah SPBU. Ia menilai perlu ada penjelasan mengenai kondisi distribusi BBM di daerah agar masyarakat mengetahui penyebab sebenarnya.
“Jika suplai BBM secara nasional memang tidak mengalami pengurangan, maka tentu perlu diketahui apa yang sebenarnya menyebabkan antrean terjadi di berbagai daerah,” ujarnya.
Meski demikian, Andi Fitra menegaskan dirinya tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan maupun menuding pihak tertentu sebagai penyebab antrean. Menurutnya, diperlukan penelusuran dan evaluasi secara objektif untuk mengetahui apakah terdapat kendala dalam distribusi ke daerah, mekanisme penyaluran, peningkatan kebutuhan masyarakat, atau faktor lainnya.
“Ini bukan soal mencari siapa yang salah. Yang terpenting adalah mengetahui di mana letak persoalannya. Jika penyebabnya dapat diidentifikasi dengan jelas, maka solusi yang tepat juga dapat segera ditemukan,” tegasnya.
Sebagai kebutuhan penting yang berkaitan langsung dengan mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi, Andi Fitra berharap kondisi antrean BBM yang terjadi di sejumlah daerah mendapat perhatian dan penjelasan terbuka dari pihak terkait.
Ia juga berharap persoalan tersebut segera memperoleh titik terang agar masyarakat mendapatkan kepastian dan aktivitas sehari-hari dapat kembali berjalan dengan lancar.



