Telaah Kritis HMI Cabang Gowa Raya: Kemenpora Harus Kembali Menjadi Rumah Besar Pemuda

HMI Cabang Gowa Raya

Ruminews.id, Gowa — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gowa Raya menyoroti arah kebijakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang dinilai perlu memperluas orientasi pembangunan kepemudaan. Pemerintah tidak boleh memaknai pembangunan pemuda sebatas prestasi olahraga, sementara aspek kepemimpinan, intelektualitas, literasi, kaderisasi, organisasi, dan pemberdayaan sosial belum mendapatkan ruang yang proporsional.

Muh. Nur Ahlaq Al-Fadri, Wabendum Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP) HMI Cabang Gowa Raya, mengatakan kritik tersebut bukan bentuk pertentangan terhadap olahraga. Prestasi atlet tetap penting sebagai bagian dari kebanggaan nasional. Namun, mandat kepemudaan jauh lebih luas daripada podium dan medali.

“Kami bangga ketika pemuda Indonesia mengibarkan Merah Putih di podium. Tetapi pembangunan pemuda tidak boleh berhenti pada pertanyaan berapa medali yang diperoleh. Negara juga harus bertanya berapa banyak pemimpin, intelektual, inovator, dan penggerak perubahan yang berhasil dilahirkan,” tegas Ahlaq.

Menurutnya, kritik tersebut memiliki basis yang jelas dalam kerangka hukum nasional. UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan menempatkan penyadaran, pemberdayaan, pengembangan, kepemimpinan, organisasi kepemudaan, dan partisipasi pemuda sebagai bagian dari pembangunan kepemudaan. Sementara Perpres Nomor 43 Tahun 2022 menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam pelayanan kepemudaan, termasuk pengembangan kepemimpinan, kewirausahaan, kepeloporan, serta pemberdayaan pemuda.

Dengan demikian, pembangunan pemuda memang tidak dirancang sebagai urusan olahraga semata. Bahkan Perpres Nomor 187 Tahun 2024 tentang Kementerian Pemuda dan Olahraga menegaskan Kemenpora memiliki mandat di bidang pemuda sekaligus olahraga. Karena itu, menurut HMI Gowa Raya, keseimbangan antara kedua mandat tersebut harus tercermin dalam kebijakan dan program yang konkret.

“Jangan sampai kata ‘pemuda’ hanya menjadi nomenklatur, sementara orientasi kebijakannya lebih mudah terlihat ketika berbicara tentang olahraga. Kemenpora harus hadir sebagai rumah besar seluruh potensi pemuda Indonesia,” ujar Ahlaq.

Ia menilai organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan semestinya ditempatkan sebagai bagian penting dalam ekosistem pembangunan nasional. Organisasi merupakan ruang kaderisasi yang melatih pemuda berpikir kritis, mengelola perbedaan, membangun kepemimpinan, melakukan advokasi, menyusun gagasan, dan mengabdi kepada masyarakat.

Karena itu, pemerintah tidak seharusnya hanya hadir melalui program seremonial atau menjadikan organisasi pemuda sebagai peserta kegiatan.

“Pemuda jangan hanya dicari ketika pemerintah membutuhkan massa. Pemuda harus dicari ketika negara membutuhkan gagasan. Organisasi kepemudaan harus diposisikan sebagai mitra strategis pembangunan, bukan sekadar pelengkap agenda pemerintah,” tegasnya.

HMI Cabang Gowa Raya juga mengingatkan bahwa tantangan pemuda saat ini semakin kompleks, mulai dari krisis literasi, disinformasi digital, ketimpangan pendidikan, pengangguran, perkembangan teknologi, persoalan lingkungan, hingga tantangan demokrasi. Semua itu membutuhkan pemuda yang memiliki kapasitas berpikir dan kepemimpinan, bukan sekadar kemampuan berkompetisi.

Dalam konteks tersebut, Ahlaq menilai nasionalisme harus dimaknai lebih substantif. Nasionalisme tidak cukup hanya ditunjukkan ketika Merah Putih berkibar di podium, tetapi juga melalui keberanian generasi muda menjaga demokrasi, mengkritik kebijakan yang keliru, menawarkan solusi, merawat lingkungan, dan mengabdikan diri kepada masyarakat.

“Nasionalisme bukan hanya soal bangga menjadi Indonesia. Nasionalisme juga tentang memastikan Indonesia memiliki generasi yang cukup cerdas untuk membaca zamannya, cukup berani untuk mengkritik kekeliruan, dan cukup berintegritas untuk mengabdi kepada bangsa,” katanya.

HMI Cabang Gowa Raya mendorong Kemenpora memperkuat pendidikan kepemimpinan, literasi dan intelektualitas, pemberdayaan organisasi kepemudaan, partisipasi pemuda dalam perumusan kebijakan, serta program kepeloporan dan pengabdian sosial yang berkelanjutan.

Kemenpora, menurut HMI Gowa Raya, harus bergerak dari paradigma “mencetak juara” menuju paradigma “mencetak manusia dan pemimpin”. Sebab prestasi olahraga dapat mengharumkan nama Indonesia hari ini, tetapi kualitas generasi muda akan menentukan wajah Indonesia pada masa yang akan datang.

“Medali adalah kebanggaan. Tetapi pemimpin adalah masa depan. Karena itu, jangan hanya bangun podium untuk pemuda. Bangun ruang untuk mereka berpikir, berorganisasi, memimpin, berkarya, dan mengabdi,” pungkas Ahlaq.

HMI Cabang Gowa Raya menegaskan kritik tersebut merupakan bagian dari kontrol sosial sekaligus bentuk kecintaan terhadap bangsa. Membangun pemuda berarti membangun masa depan republik. Pemuda bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang akan menentukan arah Indonesia.

Share

Scroll to Top