Ruminews.id, PAREPARE – Kelurahan Kampung Pisang, Kecamatan Soreang, meluncurkan inovasi pelayanan publik bernama “SISTA” (Solusi Sampah Kita). Program ini mulai diterapkan tahun 2026 untuk menjangkau rumah warga di lorong dan gang sempit yang selama ini tak terlayani truk sampah DLH.
Inovasi ini lahir dari keluhan warga. Sejak retribusi sampah diberlakukan, banyak warga di lorong sempit merasa keberatan membayar karena tak pernah dilalui truk pengangkut. Lurah Kampung Pisang Darlan N, memerintahkan untuk berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup sebagai Eksekutor Penanganan Sampah guna mencari solusi.

“Kami tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Warga membayar retribusi, tapi sampahnya tidak pernah terangkut karena gangnya terlalu sempit untuk truk besar. Itu yang mendorong kami mencari solusi bersama DLH,” ujar Nur Muhlisa, Sekretaris Lurah Kampung Pisang sekaligus inovator program ini.
Kepala Bidang Kebersihan dan Persampahan DLH, Syah Rizal menyarankan pemanfaatan kendaraan roda tiga yang belum terpakai. Kendaraan ini dinilai mampu menjangkau gang-gang sempit di Kampung Pisang.
Persoalan sampah di Parepare memang mendesak. Timbunan sampah kota mencapai 98,92 ton per hari, sementara TPA hampir penuh. Sekitar 26 ton sampah per hari bahkan belum terangkut akibat keterbatasan armada.
SISTA berjalan lewat lima tahap: sampah dipilah di rumah, diangkut armada roda tiga, diolah di TPS 3R mini kelurahan, dijual ke bank sampah, lalu dilaporkan secara digital dan transparan.
“Konsep kami sederhana, kami sebut 3H: hemat biaya, hasil ekonomi, dan hulu selesai di sumber. Sampah yang dulu jadi beban, sekarang bisa jadi penghasilan tambahan bagi warga,” jelas Nur Muhlisa.
Kelurahan menargetkan pengurangan sampah ke TPA sebesar 60–70 persen. Manfaat lain yang diharapkan meliputi turunnya emisi metana, berkurangnya risiko banjir, tumbuhnya UMKM baru, dan meningkatnya kesadaran warga memilah sampah. Sejak diterapkan, perubahan perilaku masyarakat tercatat naik ± 83 persen.
“Kami berharap SISTA bisa jadi contoh bagi kelurahan lain, bahwa sampah bukan masalah, tapi solusi, asal dikelola dari sumbernya,” tutup Nur Muhlisa.


