Ruminews.id, London — Perdana Menteri Inggris sekaligus pemimpin Partai Buruh, Keir Starmer, mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin (22/6). Dalam pidato di Downing Street, Starmer menyatakan akan tetap menjalankan tugas hingga Partai Buruh memilih pemimpin baru.
Keputusan tersebut menandai berakhirnya masa kepemimpinan yang berlangsung kurang dari dua tahun sejak Partai Buruh memenangkan Pemilu 2024.
Saat itu, Starmer membawa partainya kembali berkuasa setelah lebih dari satu dekade berada di oposisi dan menjanjikan “dekade pembaruan nasional”.
Tekanan Internal Partai Akhiri Kepemimpinan Starmer
Dalam pidato pengunduran dirinya, Starmer mengakui banyak anggota parlemen Partai Buruh meragukan kemampuannya untuk memimpin partai menuju pemilu berikutnya.
“Saya telah mendengar jawaban dari anggota parlemen partai saya atas pertanyaan itu, dan saya menerima jawaban tersebut dengan lapang dada,” ujarnya.
Kebijakan Ekonomi Picu Penurunan Popularitas
Sejak awal masa pemerintahannya, Starmer menghadapi tantangan ekonomi yang berat. Bersama Menteri Keuangan Rachel Reeves, ia menempuh sejumlah langkah fiskal yang tidak populer, termasuk kenaikan pajak dan penghapusan tunjangan bahan bakar musim dingin bagi jutaan pensiunan.
Kebijakan tersebut memicu penurunan tingkat kepuasan publik. Pada saat yang sama, masyarakat juga menghadapi kenaikan biaya hidup, aksi mogok tenaga kesehatan, dan persoalan migrasi yang belum terselesaikan.
Sejumlah pengamat menilai pemerintah gagal menghadirkan optimisme setelah memenangkan pemilu.
Alih-alih menawarkan harapan baru, pemerintahan Starmer lebih sering menyoroti kondisi ekonomi yang diwarisi dari pemerintahan sebelumnya.
Kritik Menguat di Tubuh Partai Buruh
Selain menghadapi tekanan dari publik, Starmer juga berhadapan dengan kritik dari internal partainya sendiri. Banyak anggota parlemen menilai ia tidak memiliki arah politik yang jelas dan terlalu sering mengubah kebijakan ketika menghadapi penolakan.
Ketidakpuasan tersebut semakin terlihat setelah Partai Reform UK berhasil meningkatkan dukungan elektoral dan melampaui Partai Buruh dalam sejumlah jajak pendapat sejak 2025.
Hasil pemilu lokal dan regional pada Mei lalu memperburuk posisi Starmer. Partai Buruh kehilangan kekuasaan di Wales, mencatat hasil terburuk dalam sejarah di Parlemen Skotlandia, dan kehilangan hampir 1.500 kursi dewan lokal di berbagai wilayah Inggris.
Lebih dari 100 anggota parlemen Partai Buruh kemudian secara terbuka meminta Starmer mengundurkan diri.
Skandal Politik Guncang Pemerintahan
Pemerintahan Starmer juga menghadapi berbagai kontroversi. Salah satunya muncul ketika media mengungkap penerimaan hadiah dan fasilitas dari sejumlah donor kaya oleh anggota kabinet.
Kontroversi lain muncul setelah penunjukan Lord Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk Amerika Serikat.
Polemik tersebut berkembang menjadi krisis politik ketika dokumen baru terkait kasus Jeffrey Epstein memunculkan pertanyaan mengenai proses seleksi dan penilaian pemerintah terhadap Mandelson.
Kasus tersebut memicu kritik terhadap kemampuan Starmer dalam mengawasi operasional pemerintah dan mengambil keputusan politik penting.
Prestasi Diplomasi Tak Mampu Redam Kritik Domestik
Di tengah berbagai persoalan dalam negeri, Starmer memperoleh apresiasi atas aktivitas diplomatiknya.
Ia membangun hubungan kerja dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan berperan dalam berbagai upaya diplomasi terkait perang Ukraina.
Namun, banyak pengkritik menilai Starmer terlalu fokus pada urusan luar negeri. Mereka menilai pemerintah kurang sigap menangani persoalan ekonomi dan sosial yang langsung memengaruhi kehidupan masyarakat Inggris.
Andy Burnham Muncul sebagai Penantang Utama
Tekanan terhadap Starmer mencapai puncaknya ketika sejumlah tokoh penting Partai Buruh mulai mempertimbangkan pergantian kepemimpinan. Situasi semakin berubah setelah Andy Burnham kembali ke parlemen melalui kemenangan telak dalam pemilihan sela di Makerfield.
Banyak anggota Partai Buruh melihat Burnham sebagai sosok yang lebih mampu menghadapi Reform UK dan membawa partai menuju kemenangan pada pemilu mendatang.
Dalam pidato perpisahannya, Starmer tidak menyebut nama Burnham. Ia hanya menyatakan dukungan penuh kepada siapa pun yang nantinya memimpin Partai Buruh.
“Berjalan di jalan ini dua tahun lalu adalah momen paling membanggakan dalam hidup saya,” kata Starmer.
Setelah meninggalkan Downing Street, Starmer mengaku ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya dan mendukung proses transisi kepemimpinan di Partai Buruh.