OPINI

Tips Dunia Kerja Bagi Gen Z.

ruminews.id – Corey Seemiller, Ph.D dikenal sebagai “The Gen Z Speaker” karena reputasinya yang luas sebagai pembicara dan ahli dalam memahami karakteristik dan perilaku Generasi Z. Dr. Corey Seemiller melakukan penelitian berbasis data survei dan analisis tren, bekerjasama dengan mahasiswa dan akademisi untuk memahami bagaimana Generasi Z berpikir, belajar, dan berinteraksi dengan dunia. Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh dalam dunia yang sangat terdigitalisasi, dengan internet dan media sosial sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka, sehingga sering disebut iGen atau Zoomers. Meskipun ada sedikit perbedaan dalam rentang tahunnya, sebagian besar penelitian sepakat bahwa Gen Z adalah generasi yang lahir setelah Millennial (1981 – 1996) dan sebelum Generasi Alpha (2010 ke atas). Dan yang paling sering disebut adalah mereka lahir pada rentang tahun 1997 – 2012.

Menurut Dr. Seemiller, berbeda dengan generasi sebelumnya, yang mengalami transisi antara dunia analog dan digital, Generasi Z adalah “digital natives” sejati yang sejak lahir sudah terbiasa dengan internet, media sosial, dan perangkat teknologi lainnya. Mereka memiliki akses yang sangat cepat dan mudah terhadap informasi, serta mengandalkan teknologi untuk mencari solusi dari berbagai masalah yang mereka hadapi. Salah satu karakteristik utama Generasi Z adalah kemandirian mereka dalam mencari informasi dan solusi. Mereka lebih suka mengandalkan perangkat teknologi untuk memecahkan masalah, baik itu melalui pencarian di Google, mengikuti tutorial di YouTube, atau bergabung dalam forum-forum diskusi online. Selain itu, Generasi Z juga dikenal lebih realistis dan praktis dalam hal keuangan. Mereka sangat berhati-hati dalam mengelola uang, mengingat pengaruh dari krisis ekonomi yang mereka saksikan sejak kecil. Banyak dari mereka yang lebih memilih untuk berwirausaha atau mencari cara alternatif untuk menghasilkan uang tanpa mengandalkan utang.

Selain itu, Generasi Z memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan diri. Mereka lebih terbuka untuk membicarakan masalah kesehatan mental dan cenderung menganggap terapi atau konseling sebagai hal yang positif dan dibutuhkan. Isu seperti stres, kecemasan, dan depresi yang dipicu oleh tekanan sosial atau media sosial menjadi perhatian besar bagi mereka. Generasi Z dikenal sebagai purpose-driven generation, yang berarti mereka mencari pekerjaan atau kegiatan yang tidak hanya memberikan penghasilan tetapi juga memiliki makna dan dampak sosial. Mereka lebih tertarik untuk bekerja di tempat yang mendukung nilai-nilai yang mereka percayai, seperti keberlanjutan lingkungan atau keadilan sosial. Mereka juga menginginkan fleksibilitas dalam bekerja, seperti pekerjaan jarak jauh atau jam kerja yang fleksibel, yang memungkinkan mereka untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan dengan lebih baik.

Generasi Milenial, yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996, memiliki pandangan yang unik terhadap pekerjaan. Mereka cenderung melihat pekerjaan sebagai bagian dari identitas diri mereka. Bagi mereka, pekerjaan bukan sekadar untuk mencari penghasilan, tetapi juga untuk menemukan makna dan tujuan. Milenial termotivasi oleh peluang untuk mencapai tujuan yang lebih besar, mendapatkan pengakuan atas pencapaian mereka, serta bekerja dalam tim dan berkolaborasi. Mereka juga sangat menghargai teknologi dan inovasi, dan cenderung ingin mendapatkan umpan balik secara teratur untuk mengetahui apakah mereka berada di jalur yang benar dalam pekerjaan mereka. Sementara itu, Generasi Z memiliki pandangan yang sedikit berbeda terhadap pekerjaan. Bagi mereka, pekerjaan adalah tempat untuk mengekspresikan diri dan membuat dampak sosial. Mereka sangat menghargai kesempatan untuk berkembang secara profesional, tetapi juga sangat memperhatikan stabilitas finansial dan keamanan dalam pekerjaan mereka. Sebagai generasi yang tumbuh dengan teknologi, mereka sangat terbiasa dengan dunia digital dan memanfaatkannya dalam segala hal, termasuk dalam pekerjaan mereka. Generasi Z juga sangat menghargai keragaman dan inklusi, serta cenderung lebih pragmatis dan realistis dalam pendekatan mereka terhadap dunia kerja.

Syahril Syam – Pakar Pemberdayaan Diri.

Oleh sebab itu, berikut tips bagi gen Z yang baru memasuki dunia kerja, agar dapat lebih efektif mengelola tekanan kerja dan menjaga kesejahteraan mental sekaligus memberdayakan diri:

1. Kembangkan Keterampilan Kepemimpinan
Meskipun mungkin Anda baru memulai, penting untuk mulai mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Ini tidak hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga memimpin diri sendiri dalam pekerjaan. Mulailah dengan belajar bagaimana berkomunikasi dengan jelas, bekerja dalam tim, dan mengambil inisiatif.

2. Pahami Karakteristik Generasi Z
Anda sudah memiliki kelebihan, yaitu memahami karakteristik diri sendiri sebagai Generasi Z. Ini termasuk kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap teknologi, mencari pekerjaan yang bermakna, dan mengutamakan keseimbangan hidup. Memahami ini akan membantu Anda bekerja dengan lebih efektif.

3. Terus Belajar dan Beradaptasi
Dunia kerja selalu berubah, jadi sangat penting untuk terus belajar dan menyesuaikan diri. Ambil kesempatan untuk mengembangkan keterampilan baru, baik itu melalui pelatihan di tempat kerja, kursus online, atau pengalaman sehari-hari. Dengan begitu, Anda bisa tetap relevan dan berkembang dalam karir Anda.

4. Tetapkan Harapan yang Realistis
Penting untuk menetapkan harapan yang realistis mengenai apa yang dapat Anda capai dalam waktu tertentu. Hindari menetapkan standar yang terlalu tinggi yang dapat menyebabkan stres berlebihan.

5. Manfaatkan Teknologi untuk Manajemen Tugas
Gunakan alat digital seperti aplikasi manajemen tugas atau asisten AI untuk membantu mengatur dan memprioritaskan pekerjaan Anda. Ini dapat membantu Anda tetap terorganisir dan mengurangi perasaan kewalahan.

6. Ambil Istirahat Secara Teratur
Luangkan waktu untuk istirahat singkat selama jam kerja. Berjalan-jalan sejenak atau melakukan peregangan dapat membantu meredakan ketegangan dan meningkatkan konsentrasi.

7. Berkomunikasi dengan Rekan Kerja dan Atasan
Jika Anda merasa kewalahan, bicarakan dengan rekan kerja atau atasan Anda. Mereka mungkin dapat memberikan dukungan atau membantu menyesuaikan beban kerja Anda.

8. Praktikkan Teknik Relaksasi
Luangkan waktu untuk teknik relaksasi seperti pernapasan dalam. Anda juga bisa rutin mendirikan shalat dengan khusyuk. Ini dapat membantu menenangkan pikiran dan mengurangi stres.

9. Tetap Terhubung dengan Teman dan Keluarga
Dukungan sosial sangat penting. Luangkan waktu untuk berinteraksi dengan teman dan keluarga untuk mendapatkan dukungan emosional yang Anda butuhkan.

@pakarpemberdayaandiri

Ayo Gabung Komunitas Pakar Pemberdayaan Diri Untuk Pemograman Pikiran dan Tubuh dengan klik: https://tribelio.page/syahril-syam

#thesecretofattractorfactor
#changelimitingbeliefs #pakarpemberdayaandiri #SelfAwarenessTransformation

Share Konten

Opini Lainnya

19f50e22-38ac-4602-add7-4805419fdc32
Fitrah Kemanusiaan vs Dehumanisasi Modern
bd6a9212-f2ed-42ed-b814-3e8c123239de
Menjaga Marwah Kedaulatan Rakyat dalam Sistem Demokrasi
1d2bfef5-a108-4eac-a1c2-4f2db605c6a4
Joyspan: Seberapa “Bahagia” Masa Hidup Kita, Terutama Ketika Menua?
6a9510aa-0023-44d6-87af-5ddb09eb6d2c
Pilkada Melalui Wakil Rakyat : Membaca Ulang Demokrasi dalam Konstitusi
a8618c65-a46a-401f-9da6-043c0c42b5a3
Api dari Tanalili dan Suara Perempuan Luwu Raya
017936f7-7771-4e59-95a1-0565a635766d
OMOV IKA Unhas dan Jalan Tengah Validasi Berbasis Angkatan–Fakultas
0aec4d27-cd4b-44c6-8024-cdee2e43901b
Demokrasi Beraroma Minyak: Wajah Kolonialisme Munafik Amerika di Abad Modern
31632779-0127-4a03-bcff-e352f2794bd1
Masyarakat Adat dalam Menjaga Stabilitas Alam di Kawasan Adat Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan
71cb7056-eb13-4afd-bb57-db6c53223c94
Ilusi Mobilitas Mahasiswa: Prekariat Kampus dan Imajinasi Krisis Yang Tak Pernah Dibicarakan
138edb84-6afc-437b-a2a9-31e1fdcc2da1
Membaca ulang Tujuan HMI dalam kerangka Materialisme Dialektika Historis
Scroll to Top