PJS Jatim Gelar Workshop Media Digital Inklusif, Dorong Ruang Digital yang Berkeadaban

Ruminews.id, Kota Blitar — Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) Jawa Timur menyelenggarakan workshopEtika dan Kampanye Media Digital Inklusif” di Aula Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Blitar, Rabu (17/6). Kegiatan ini diikuti oleh pengurus PJS Jawa Timur/Blitar, penyintas kesehatan mental, relawan, aktivis sosial, mahasiswa, OPD, lembaga penyelenggara pemilu, pengelola media sosial organisasi, serta masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental dan inklusi sosial.

Workshop ini diselenggarakan sebagai respons atas berbagai tantangan yang muncul di ruang digital, seperti penyebaran stigma, ujaran kebencian, diskriminasi, dan disinformasi yang berdampak pada kesehatan mental individu ataupun kelompok. Melalui kegiatan ini, PJS Jawa Timur mengajak peserta untuk membangun praktik komunikasi digital yang lebih etis, reflektif, dan menghormati martabat setiap manusia.

Dalam sambutannya, Ketua PJS Jawa Timur, Jesus Anam menegaskan bahwa media digital tidak hanya menjadi ruang berbagi informasi, tetapi juga ruang pembentukan makna dan identitas sosial. Oleh karena itu, setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan narasi yang menghargai keberagaman serta tidak memperkuat stigma terhadap kelompok rentan, khususnya penyandang disabilitas psikososial dan penyintas gangguan kesehatan mental.

Workshop menghadirkan dua pokok bahasan utama, yaitu “Konsep Pengakuan (Recognition) dan Inklusi Sosial” serta “Strategi Penyusunan Media Digital yang Inklusif”. Materi pertama mengajak peserta memahami pentingnya pengakuan terhadap keberagaman sebagai fondasi masyarakat yang inklusif. Sementara itu, materi kedua membekali peserta dengan strategi praktis dalam menyusun konten dan kampanye media digital yang etis, ramah kesehatan mental, serta bebas dari stigma dan diskriminasi.

Kegiatan berlangsung secara partisipatif melalui pemaparan materi interaktif, diskusi, studi kasus, dan refleksi bersama. Peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual mengenai hubungan antara media digital, identitas sosial, dan kesehatan mental, tetapi juga berlatih mengidentifikasi berbagai bentuk bias dan stigma yang masih sering muncul dalam narasi media sosial.

Melalui diskusi dan studi kasus, peserta diajak menyusun contoh-contoh pesan kampanye yang lebih inklusif dan memanusiakan. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas peserta dalam memproduksi konten digital yang menghormati keberagaman, mendorong pemulihan sosial, serta memperkuat budaya komunikasi yang berempati.

Workshop ini juga menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai elemen masyarakat untuk memperkuat jejaring advokasi kesehatan mental dan inklusi sosial. Dengan mengintegrasikan perspektif kesehatan mental, filsafat, dan refleksi kritis terhadap praktik komunikasi digital, PJS Jatim berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan ruang digital yang lebih aman, adil, dan berkeadaban.

Melalui penyelenggaraan workshop ini, PJS Jatim kembali menegaskan komitmennya untuk mendorong literasi digital yang tidak hanya berorientasi pada efektivitas komunikasi, tetapi juga pada tanggung jawab etis, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan terciptanya ruang digital yang mendukung kesehatan mental bagi semua.

Share

PENCARIAN
BERITA LAINNYA
KATEGORI
Scroll to Top