ruminews.id, Takalar – Rencana pelaksanaan Kemah Inspirasi Tingkat Kecamatan Galesong Selatan yang dijadwalkan berlangsung pada 17–19 Juli 2026 menuai sorotan tajam dari Ketua I PB SEPMI, Muhammad Asmin Rahman.
Menurutnya, agenda yang mengusung semangat inspirasi justru berpotensi menjadi contoh pemborosan anggaran di tengah gencarnya kebijakan efisiensi yang didorong pemerintah.
Asmin mempertanyakan besaran anggaran yang dibebankan kepada setiap desa. Dengan skema Rp3.000.000 per desa untuk 13 desa, total anggaran kegiatan mencapai Rp39.000.000. Di atas kertas, setiap desa mengirimkan 15 peserta, sehingga total peserta diproyeksikan sebanyak 195 orang.
“Angka ini memang terlihat meyakinkan di atas kertas. Namun pertanyaannya, apakah lokasi kegiatan benar-benar mampu menampung hampir dua ratus peserta beserta seluruh fasilitas pendukungnya? Jangan sampai jumlah peserta hanya menjadi legitimasi untuk membenarkan besarnya anggaran,” ujar Asmin.
Ia kemudian mengurai simulasi kebutuhan biaya berdasarkan Standar Biaya Masukan (SBM) yang lazim digunakan pemerintah. Menurutnya, apabila setiap peserta memperoleh konsumsi sebanyak 5 kali makan dengan asumsi Rp15.000 per porsi, maka kebutuhan makan hanya mencapai Rp75.000 per orang. Ditambah 5 kali snack dengan harga Rp7.000 per paket, total biaya snack sebesar Rp35.000 per orang.
Dengan demikian, total konsumsi setiap peserta hanya berada pada kisaran Rp110.000. Bahkan apabila ditambah kebutuhan operasional lain yang masih dalam batas kewajaran, menurut Asmin, keseluruhan kegiatan masih dapat diselenggarakan dengan anggaran sekitar Rp15.000.000.
“Kalau anggaran mencapai Rp39 juta, sementara kebutuhan riil dapat ditekan di kisaran Rp15 juta, berarti terdapat selisih sekitar Rp24 juta yang patut dipertanyakan. Di tengah pemerintah berbicara mengenai efisiensi, mengapa justru muncul pola penganggaran yang terkesan boros?” tegasnya.
Lebih lanjut, Asmin menilai setiap desa pada akhirnya mengeluarkan sekitar Rp200.000 per peserta, angka yang menurutnya tidak sebanding apabila komponen utama kegiatan hanya berupa konsumsi dan kebutuhan dasar perkemahan.
Ia mengingatkan bahwa semangat efisiensi bukan sekadar slogan administratif, melainkan harus tercermin dalam setiap kegiatan yang menggunakan uang publik. Setiap rupiah yang berasal dari masyarakat wajib dipertanggungjawabkan secara terbuka, rasional, dan berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar mengikuti kebiasaan penganggaran yang tidak lagi relevan.
Menurutnya, kegiatan kepemudaan tetap perlu mendapat dukungan. Namun yang dibutuhkan adalah kualitas program, bukan besarnya biaya. Inspirasi tidak lahir dari angka-angka dalam Rencana Anggaran Biaya, melainkan dari substansi kegiatan yang benar-benar memberi manfaat kepada peserta.
Atas dasar itu, Asmin meminta Bupati Takalar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut, termasuk proses penyusunan anggarannya. Apabila ditemukan adanya pengelolaan anggaran yang tidak mencerminkan prinsip efisiensi, akuntabilitas, dan kepentingan publik, ia mendesak agar dilakukan tindakan tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab.
“Jika semangat efisiensi hanya berlaku untuk masyarakat sementara pejabat masih leluasa menyusun anggaran yang terkesan berlebihan, maka publik berhak mempertanyakan komitmen pemerintah. Karena itu, saya meminta Bupati Takalar mengevaluasi secara serius penyelenggaraan Kemah Inspirasi ini. Bila terbukti terjadi pemborosan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, saya meminta Bupati mencopot Camat Galesong Selatan sebagai bentuk tanggung jawab atas tata kelola pemerintahan yang baik,” tutup Asmin.