Ruminews.id, Hong Kong – Gabungan Migran Muslim Indonesia (GAMMI) Hong Kong memperingati hari lahir (milad) ke-20 pada Minggu (28/6) di Fortress Hill, Hong Kong. Peringatan tersebut mengusung tema “Mari Bersama Meneladani Nilai Perjuangan untuk Menjadi Migran Muslim Berdaya, Bersatu dan Aktif dalam Perjuangan Membebaskan Migran dari Perbudakan Modern“.
Sekitar 500 peserta yang mayoritas merupakan perempuan pekerja migran Indonesia menghadiri kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.30 hingga 16.00 waktu setempat. Acara ini menjadi ruang konsolidasi bagi para pekerja migran muslim untuk memperkuat solidaritas sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan hak-hak pekerja migran.
Ketua GAMMI Hong Kong, Romlah Rosidah, mengatakan peringatan dua dekade organisasi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat persatuan di kalangan perempuan migran Indonesia di Hong Kong. Menurutnya, solidaritas menjadi modal utama agar pekerja migran tidak mudah terpecah maupun menjadi korban eksploitasi.
“GAMMI ingin memberdayakan migran muslim perempuan agar mereka lebih berdaya, peduli dengan sesama, dan saling mendukung. Perempuan harus berdaya supaya tidak mudah dibodohi dan dimanfaatkan oleh pihak mana pun,” kata Romlah.
Puncak acara diisi ceramah oleh Inayah Wulandari Wahid, putri Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dalam paparannya, Inayah mengajak para pekerja migran untuk tidak hanya berfokus mencari nafkah, tetapi juga terlibat aktif dalam memperjuangkan kebijakan yang berpihak kepada pekerja migran.
“Sebagai bukti cinta kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kita harus memperjuangkan kaum mustadh’afin atau mereka yang tertindas. Kita tidak hanya fokus mencari rezeki dan berdoa, tetapi juga harus berada di garda terdepan untuk memperjuangkan perubahan nasib migran,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga martabat sebagai pekerja migran. Menurut Inayah, perempuan selama ini berada di garis depan dalam mendorong perubahan sosial sehingga harus terus memperkuat kapasitas diri dan memberi manfaat bagi sesama.
Rangkaian kegiatan Milad ke-20 GAMMI juga diisi dengan istighotsah, pertunjukan seni budaya yang dibawakan anggota GAMMI, serta pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan organisasi selama dua dekade.
Sejumlah organisasi pendamping pekerja migran turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI), Persatuan BMI Tolak Overcharging (PILAR), dan Mission for Migrant Workers (MFMW). Ketiga organisasi menyampaikan dukungan terhadap upaya memperkuat perlindungan dan pemberdayaan pekerja migran Indonesia di Hong Kong.
Selain menjadi ajang silaturahmi, GAMMI juga menyediakan layanan konseling gratis serta pemeriksaan kesehatan bagi peserta, meliputi pemeriksaan gula darah, tekanan darah, dan berat badan.
Didirikan pada 2006, GAMMI merupakan organisasi pekerja migran yang berfokus pada pemberdayaan, pendampingan, pendidikan, serta advokasi bagi pekerja migran muslim Indonesia, khususnya perempuan, di Hong Kong. Melalui peringatan Milad ke-20 ini, GAMMI berharap semangat persatuan dan perjuangan melawan berbagai bentuk eksploitasi, termasuk praktik perbudakan modern, terus menguat di kalangan pekerja migran Indonesia.