Ruminews.id, Klaten — Peristiwa dugaan keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terus berkembang dan menunjukkan skala yang jauh lebih besar dari laporan awal. Jika sebelumnya jumlah korban dilaporkan sekitar dua ratusan orang, pendataan terbaru dari Dinas Kesehatan Klaten per Kamis, 30 April 2026 menyebut angka tersebut kini melonjak hingga sekitar 500 siswa dan guru yang mengalami gejala serupa setelah menyantap makanan dari program tersebut.
Kejadian ini bermula pada Selasa, 28 April 2026, ketika para siswa menerima dan mengonsumsi MBG, dengan salah satu menunya berupa sop galantin. Pada awalnya, situasi tampak normal, tetapi menjelang malam hingga keesokan paginya, keluhan mulai bermunculan. Banyak siswa mengeluhkan mual, pusing, diare, hingga tubuh lemas. Sejak pagi hari, mereka mulai berdatangan ke puskesmas, klinik, dan rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Pada tahap awal, petugas mencatat ada 17 titik sekolah penerima MBG yang terdampak, dengan total 219 orang bergejala, termasuk 22 guru.
“Ada 17 titik penerima. Ada 219 orang, 22 diantaranya guru yang bergejala (data sementara), pembagian MBG itu kemarin, yakni Selasa, 28 April 2026,” ujar Wahyu Handoyo, Tenaga epidemiologi Puskesmas Majegan.
Pemerintah daerah pun langsung turun tangan. Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, bersama jajaran dinas terkait mendatangi lokasi, baik fasilitas kesehatan maupun dapur penyedia MBG, untuk memastikan kondisi korban sekaligus menelusuri penyebab kejadian. Ia menegaskan bahwa penyebab pasti masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan.
“Hasilnya karena keracunan atau apa itu nanti menunggu hasil lab, sampel sudah kita kirim ke lab,” katanya.
Di tengah meningkatnya jumlah korban, langkah darurat mulai diambil. Dapur penyedia MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk sementara ditutup selama tiga hari. Penutupan ini dilakukan untuk evaluasi menyeluruh, mulai dari kebersihan dapur, cara penyimpanan bahan makanan, hingga proses distribusinya ke sekolah-sekolah.
Temuan awal di lapangan mengarah pada kemungkinan adanya masalah dalam pengelolaan makanan. Beberapa aspek seperti fasilitas pendingin dan penyimpanan bahan disebut tidak optimal, yang berpotensi menyebabkan makanan terkontaminasi. Meski begitu, semua dugaan ini masih menunggu kepastian dari hasil pemeriksaan laboratorium.
Di sisi lain, cerita dari orang tua dan siswa memberi gambaran nyata tentang apa yang terjadi. Salah satu orang tua, Bekti, menceritakan kondisi anaknya setelah makan MBG,
“Anak saya kelas VII C SMPN 1 Tulung, sampai rumah itu malah tidak mau makan. Habis Maghrib kemarin mulai mual dan pusing.”
Sementara seorang siswa juga mengungkapkan pengalaman soal makanan yang ia terima,
“Ada sop galantin, tempe dan ada telur puyuh. Yang tidak enak sop sama telur puyuh tidak enak, rasanya gimana gitu, aneh.”
Hingga kini, penanganan masih terus berjalan. Sebagian besar korban menjalani rawat jalan, meskipun ada juga yang harus dirawat inap karena kondisinya cukup lemah. Di saat yang sama, pihak berwenang terus menelusuri sumber masalah agar kejadian serupa tidak terulang. Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa program sebesar MBG tidak hanya soal distribusi makanan, tetapi juga soal standar keamanan dan pengawasan yang harus benar-benar dijaga.







