Ruminews.id, Yogyakarta – Para sahabat, santri, aktivis, dan masyarakat lintas komunitas memperingati Haul ke-1 KH Imam Aziz di Kompleks Pondok Pesantren Bumi Cendekia, Yogyakarta, Minggu (19/7). Peringatan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) kultural yang akrab disapa Mas Imam itu diisi dengan doa bersama, peluncuran buku, diskusi publik, tadarus budaya, hingga Pasar Rakyat yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Rangkaian kegiatan diawali dengan Pasar Rakyat yang menghadirkan berbagai stan kuliner, kerajinan tangan, serta produk UMKM milik warga, komunitas, dan santri. Kegiatan tersebut menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus merefleksikan komitmen Mas Imam yang selama hidup dikenal dekat dengan masyarakat kecil.
Panitia menyebut Pasar Rakyat bukan sekadar pelengkap acara, melainkan wujud nyata semangat perjuangan Mas Imam dalam membangun ekonomi yang inklusif dan memperkuat hubungan antara masyarakat, komunitas, serta para peziarah yang hadir.
Salah satu agenda utama haul adalah peluncuran dua buku yang merekam perjalanan hidup dan gagasan Mas Imam. Buku pertama berjudul Bergantung Pada Ranting karya Hairus Salim HS, yang berisi catatan personal mengenai perjalanan kebersamaannya dengan Mas Imam sejak masa kuliah di IAIN Sunan Kalijaga, pendirian Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), hingga berdirinya Pondok Pesantren Bumi Cendekia.
Buku kedua berjudul Kiai Pejuang Sunyi, sebuah bunga rampai yang memuat 35 tulisan dari tokoh, sahabat, dan santri Mas Imam. Editor buku, Heru Prasetia, menjelaskan penerbitan buku tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk terus merawat warisan pemikiran Mas Imam melalui karya tulis pada setiap peringatan wafatnya.
Sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang turut menyumbangkan kesaksian dalam buku tersebut, di antaranya antropolog Martin van Bruinessen, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, aktivis difabel Bahrul Fuad, promotor musik Anas Syahrul Alimi, aktivis perempuan Masruchah, hingga pejuang lingkungan Gunretno dari Sedulur Kendeng.
Dalam salah satu tulisannya, Martin van Bruinessen menyebut julukan “Kiai Rakyat” merupakan sebutan yang tepat bagi Imam Aziz karena kiprahnya yang konsisten mendampingi masyarakat.
Semasa hidupnya, Mas Imam dikenal aktif mendampingi berbagai kelompok masyarakat yang terdampak konflik agraria dan pembangunan. Kiprahnya membentang sejak menjadi jurnalis, aktivis PMII, pendiri LKiS, penggerak NU kultural, hingga menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia terlibat dalam berbagai advokasi, mulai dari kasus Kedung Ombo, perjuangan warga Kendeng, Kulon Progo, hingga Wadas.
Usai peluncuran buku, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik bertajuk “Imam Aziz: Advokasi, Rekonsiliasi, dan Kemandirian NU” yang dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai daerah. Diskusi menghadirkan sejarawan Budiawan, akademisi Sri Wiyanti Eddyono, budayawan NU Achmad Munjid, serta Wakil Dekan FISIPOL UGM Fina Itriyati yang juga mewakili keluarga.
Para pembicara menekankan pentingnya menjaga warisan pemikiran Mas Imam, terutama mengenai kemandirian organisasi Nahdlatul Ulama dan keberpihakan terhadap kelompok masyarakat yang termarjinalkan.
Peringatan haul ditutup dengan agenda Tadarus Budaya yang menampilkan kelompok musik Ki Ageng Ganjur, grup musik dakwah yang dirintis Mas Imam bersama budayawan Ngatawi Al-Zastrouw.
Ngatawi mengatakan Ki Ageng Ganjur menjadi contoh bagaimana dakwah dapat disampaikan melalui pendekatan seni dan budaya hingga dikenal di berbagai negara.
Selain Ki Ageng Ganjur, panggung budaya juga dimeriahkan oleh penampilan Budi Cilok, Alissa Wahid, Inaya Wahid, dan Cak Coy. Melalui rangkaian doa, diskusi, peluncuran buku, serta pertunjukan budaya tersebut, para sahabat dan santri menyatakan komitmennya untuk terus merawat dan melanjutkan warisan perjuangan KH M. Imam Aziz dalam bidang advokasi, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat.