ruminews.id – Indonesia menghadapi paradoks yang menarik sekaligus mengkhawatirkan dalam adopsi AI: tingkat penggunaan AI tertinggi di dunia, namun kesiapan organisasi dan individu masih sangat rendah.
Kompilasi data dari berbagai riset kredibel mengungkap:
- 92-94% knowledge workers Indonesia sudah menggunakan AI generatif — tertinggi di dunia
- Namun hanya 19% perusahaan yang benar-benar siap mengadopsi AI secara strategis
- 81% organisasi belum memiliki fondasi memadai untuk memanfaatkan AI secara efektif
- 57-78% pekerja khawatir pekerjaan mereka akan tergantikan AI
- Hanya 23% tenaga kerja memiliki kemampuan digital menengah ke atas
Laporan ini menyajikan analisis komprehensif dari 10+ riset nasional dan global untuk memberikan gambaran utuh tentang kesiapan tenaga kerja Indonesia menghadapi transformasi AI.
Metodologi Kompilasi
Laporan ini mengkompilasi data dari riset-riset berikut:
| Sumber Riset | Tahun | Jumlah Responden | Cakupan |
| Microsoft & LinkedIn Work Trend Index | 2024 | 31.000 (31 negara) | Global + Indonesia |
| Cisco AI Readiness Index | 2024-2025 | 3.660 pemimpin senior | Asia Pasifik |
| Indonesia AI Report (Kumparan x Populix) | 2025 | 1.000 | Indonesia |
| HP Work Relationship Index | 2025 | 18.000+ (14 negara) | Global + Indonesia |
| Populix Economic Challenges Survey | 2024-2025 | 1.190 | Indonesia |
| AWS & Strand Partners | 2025 | 2.000 | Indonesia |
| Jakpat Survey | 2025 | 1.334 | Indonesia |
| SEEK/Jobstreet Survey | 2026 | – | Indonesia |
| Kementerian Kominfo | 2025 | – | Indonesia |
| UNESCO AI Readiness Assessment | 2024-2025 | – | Indonesia |
Total basis data: 50.000+ responden dari berbagai riset independen.
Temuan 1: Adopsi AI Indonesia Tertinggi di Dunia
Indonesia menunjukkan antusiasme luar biasa terhadap AI, melampaui rata-rata global dan regional.
Data Penggunaan AI di Tempat Kerja
| Metrik | Indonesia | Asia Pasifik | Global |
| Knowledge workers menggunakan AI | 92-94% | 83% | 75% |
| Menggunakan AI setiap hari | 50% | – | – |
| Percaya AI meningkatkan kualitas kerja | 89% | – | – |
Sumber: Microsoft/LinkedIn Work Trend Index 2024; HP Work Relationship Index 2025
Fenomena “Bring Your Own AI” (BYOAI)
Sebanyak 76% karyawan Indonesia membawa perangkat atau solusi AI mereka sendiri ke tempat kerja, tidak menunggu perusahaan menyediakan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa adopsi AI di Indonesia bersifat bottom-up — didorong oleh inisiatif individu, bukan strategi organisasi.
Sumber Pembelajaran AI Karyawan
| Sumber Belajar | Persentase |
| Media Sosial dan YouTube | 84% |
| Artikel Online dan Blog | 51% |
| Kolega dan Eksperimen Mandiri | 49% |
| Kursus Formal (Online/Offline) | 21% |
Sumber: Indonesia AI Report 2025 (Kumparan x Populix)
Insight Kritis: Tingginya ketergantungan pada pembelajaran informal (84% dari media sosial) berpotensi menciptakan fenomena “paham di permukaan” — karyawan bisa mengoperasikan AI, tapi kurang memahami etika, keamanan data, dan mekanisme kerja yang mendasarinya.
Temuan 2: Kesenjangan Kesiapan Organisasi yang Mengkhawatirkan
Di balik tingginya adopsi individu, kesiapan organisasi sangat tertinggal.
Hanya 19% Perusahaan Indonesia Siap AI
Menurut Cisco AI Readiness Index 2025, hanya 19% organisasi di Indonesia yang sepenuhnya siap memanfaatkan AI. Angka ini bahkan turun dari 20% di tahun 2023.
Artinya, 81% perusahaan Indonesia belum memiliki fondasi memadai untuk mengadopsi AI secara efektif.
Kesiapan per Pilar
| Pilar Kesiapan | Persentase Siap |
| Strategi | 48% |
| Infrastruktur | 28% |
| Tata Kelola (Governance) | 26% |
| Data | 21% |
| Talenta | 13% |
| Budaya | 9% |
Sumber: Cisco AI Readiness Index 2025
Insight: Rendahnya kesiapan di pilar Talenta (13%) dan Budaya (9%) menunjukkan bahwa banyak organisasi belum memiliki rencana matang untuk peningkatan keterampilan AI karyawan dan perubahan cara berpikir.
Mayoritas Masih di Tahap Dasar
Riset AWS dan Strand Partners (“Unlocking Indonesia’s AI Potential”) menemukan:
| Tahap Adopsi AI | Persentase Bisnis |
| Tahap Dasar (efisiensi sederhana) | 76% |
| Tahap Menengah | 11% |
| Tahap Transformatif (inovasi produk, pengambilan keputusan) | 10% |
Insight: Mayoritas perusahaan Indonesia baru menggunakan AI untuk tugas-tugas sederhana. Hanya 10% yang benar-benar memanfaatkan AI untuk transformasi bisnis.
Temuan 3: Kesenjangan Skill Digital yang Serius
Tantangan terbesar adopsi AI bukan teknologi, melainkan keterampilan manusia.
Hanya 23% Memiliki Skill Digital Memadai
Data Kementerian Kominfo (2025) menunjukkan hanya 23% tenaga kerja Indonesia yang memiliki kemampuan digital tingkat menengah ke atas.
Skill Gap Menghambat Adopsi
Riset AWS menemukan:
| Indikator | Persentase |
| Bisnis mengakui kurang skill digital | 57% |
| Bisnis merasa karyawan siap AI | 21% |
| Pekerjaan masa depan butuh kemampuan AI | 48% |
Gap sebesar 27 poin persentase antara kebutuhan skill AI (48%) dan kesiapan karyawan (21%) adalah alarm serius bagi perusahaan dan pemerintah.
Pemimpin Mulai Mensyaratkan Skill AI
Menurut Microsoft/LinkedIn Work Trend Index 2024:
| Sikap Pemimpin Bisnis Indonesia | Persentase |
| Tidak akan merekrut tanpa skill AI | 69% |
| Lebih pilih kandidat kurang berpengalaman tapi mahir AI | 76% |
Insight: Era di mana skill AI menjadi prasyarat kerja sudah dimulai. Profesional yang tidak mengembangkan kemampuan AI akan semakin sulit bersaing.
Temuan 4: Kekhawatiran Tinggi tentang Penggantian Pekerjaan
Meskipun adopsi tinggi, kekhawatiran terhadap dampak AI juga sangat besar.
Data Kekhawatiran dari Berbagai Riset
| Sumber Riset | Temuan |
| SEEK/Jobstreet (2026) | 78% khawatir peran digantikan AI |
| Populix (2024-2025) | 62% khawatir pekerjaan tergusur AI |
| Jakpat (2025) | 55% takut AI memicu pengangguran |
| Jakpat (2025) | 64% khawatir manusia terlalu bergantung AI |
Alasan Utama Kekhawatiran
Menurut survei Populix terhadap 1.190 responden:
| Alasan Kekhawatiran | Persentase |
| Takut diganti mesin yang lebih akurat dan terjangkau | 72% |
| Kesulitan bersaing dengan mesin yang bekerja 24/7 | 62% |
| AI terlalu canggih bisa jadi ancaman | 60% |
| AI meningkatkan kemiskinan dan ketidaksetaraan | 52% |
| Tidak mampu bersaing karena kurang skill | 46% |
Indonesia: Salah Satu Negara Paling Cemas
Riset University of Toronto (Schwartz Reisman Institute) yang melibatkan 21 negara menemukan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat kekhawatiran tertinggi mengenai AI menggantikan pekerjaan.
Sebagai perbandingan:
- Jepang: Hanya 5% merasa “pasti” kehilangan pekerjaan karena AI
- Jerman: 34% merasa pekerjaannya berisiko
- Indonesia: Termasuk kategori kekhawatiran tertinggi
Insight: Kecemasan ini mencerminkan kurangnya perlindungan tenaga kerja dan ketidakpastian kebijakan, bukan semata ketakutan irasional.
Temuan 5: Paradoks Kesejahteraan di Tengah Adopsi Tinggi
Temuan paling mengejutkan: adopsi AI tinggi tidak berkorelasi dengan kesejahteraan kerja.
Hubungan Kerja Justru Memburuk
Menurut HP Work Relationship Index 2025:
| Metrik | Indonesia |
| Pekerja menggunakan AI | 94% (tertinggi dunia) |
| Memiliki hubungan kerja sehat | 28% |
| Penurunan dari tahun sebelumnya | -16 poin |
Indonesia mengalami penurunan hubungan kerja sehat paling tajam di antara 14 negara yang disurvei.
Â
Kesenjangan Kapasitas (Capacity Gap)
Riset Microsoft mengungkap:
| Metrik | Indonesia |
| Merasa kekurangan waktu/energi untuk beban kerja | 88% |
| Pemimpin menuntut produktivitas lebih tinggi | 63% |
Paradoks: Karyawan diharapkan belajar dan implementasi AI, namun terlalu terbebani tugas harian untuk melakukan transisi secara efektif.
Temuan 6: Kesenjangan Pemahaman Pemimpin dan Staf
Gap Pemahaman 31 Poin Persentase
| Pemahaman tentang Agen AI | Pemimpin | Staf | Gap |
| Memahami konsep Agen AI | 87% | 56% | 31% |
Sumber: Microsoft Work Trend Index 2025
Implikasi Gap Ini
Jika pemimpin menginstruksikan penggunaan sistem AI otonom sementara staf masih memahami AI sebagai alat bantu sederhana, efektivitas implementasi akan sangat terhambat.
Visi AI Perusahaan Masih Kabur
| Metrik | Indonesia | Global |
| Pemimpin khawatir perusahaan belum punya visi AI | 48% | 60% |
Meski lebih baik dari rata-rata global, hampir separuh pemimpin Indonesia mengakui organisasinya belum punya rencana jelas untuk implementasi AI.
Analisis: Mengapa Terjadi Paradoks Ini?
- Adopsi Bottom-Up vs Top-Down
Adopsi AI di Indonesia didorong oleh inisiatif individu (76% BYOAI), bukan strategi organisasi. Akibatnya:
- Penggunaan tidak terstruktur
- Risiko keamanan data meningkat
- Manfaat skala besar tidak tercapai
- Pembelajaran Informal Dominan
Dengan 84% belajar dari media sosial, karyawan mungkin:
- Bisa mengoperasikan tools, tapi tidak memahami fundamental
- Kurang awareness tentang etika dan keamanan
- Tidak siap untuk use case kompleks
- Infrastruktur Tertinggal
Akses internet Indonesia masih belum merata (62% populasi) dengan kecepatan rata-rata 20,9 Mbps — jauh di bawah rata-rata global 39,5 Mbps.
- Kurangnya Pelatihan Formal
Hanya 21% karyawan yang mendapat akses ke kursus formal, dan hanya 39% pengguna AI yang menerima pelatihan dari perusahaan (data global).
Rekomendasi Strategis
Untuk Perusahaan
- Tutup Celah Kapasitas
Berikan waktu khusus bagi karyawan untuk belajar dan bereksperimen dengan AI dalam jam kerja. Menuntut produktivitas tanpa memberikan ruang adaptasi adalah resep kegagalan.
- Investasi Pelatihan Terstruktur
Jangan andalkan pembelajaran informal. Program pelatihan AI terstruktur dengan kurikulum yang disesuaikan industri memberikan hasil jauh lebih baik.
- Lakukan Audit Kesiapan
Sebelum investasi besar, lakukan audit kesiapan AI untuk memahami kondisi baseline di enam pilar: strategi, infrastruktur, data, tata kelola, talenta, dan budaya.
- Bangun Kebijakan AI yang Jelas
48% pemimpin mengakui belum punya visi AI. Susun roadmap yang mencakup:
- Use case prioritas
- Kebijakan keamanan data
- Rencana peningkatan skill
- Metrik keberhasilan
Untuk Tenaga Kerja Individual
- Diversifikasi Sumber Belajar
Jangan hanya andalkan media sosial. Ikuti kursus bersertifikasi untuk pemahaman yang lebih mendalam dan kredibel.
- Fokus pada Skill Komplementer
Asah kemampuan yang sulit diotomasi:
- Critical thinking dan analisis
- Kreativitas dan inovasi
- Emotional intelligence
- Complex problem solving
- Jadilah AI Implementer, Bukan Hanya User
Tingkatkan dari sekadar bisa menggunakan AI menjadi mampu mengintegrasikan AI ke dalam proses kerja secara strategis.
Untuk Pemerintah
- Percepat Pemerataan Infrastruktur Digital
Kesenjangan akses internet menghambat adopsi AI di luar Pulau Jawa.
- Terbitkan Panduan Sektoral
Tiap industri membutuhkan panduan spesifik tentang implementasi AI yang bertanggung jawab.
- Perkuat Perlindungan Tenaga Kerja
Kebijakan seperti Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) perlu diperkuat dan diintegrasikan dengan program reskilling yang masif.
Kesimpulan
Indonesia berada di posisi unik: antusiasme individu yang luar biasa tinggi, namun terhambat oleh kesiapan struktural organisasi yang sangat rendah.
Data dari 50.000+ responden menunjukkan:
| Aspek | Status |
| Adopsi individu | ✅ Tertinggi di dunia (92-94%) |
| Kesiapan organisasi | ❌ Sangat rendah (19%) |
| Skill digital memadai | ❌ Hanya 23% |
| Kekhawatiran penggantian | ⚠️ Tinggi (62-78%) |
| Hubungan kerja sehat | ❌ Turun tajam (28%) |
Paradoks ini hanya bisa dipecahkan dengan pendekatan terpadu: investasi pada pelatihan terstruktur, pembangunan infrastruktur, penyusunan kebijakan yang jelas, dan perlindungan tenaga kerja yang memadai.
Bagi perusahaan yang serius ingin menavigasi transformasi AI, langkah pertama adalah memahami kondisi baseline melalui audit kesiapan AI, dilanjutkan dengan program pelatihan yang dirancang sesuai kebutuhan spesifik organisasi.
Tentang Laporan Ini
Laporan ini disusun oleh tim riset Pakai.AI dengan mengkompilasi data dari berbagai riset nasional dan global. Tujuannya adalah memberikan gambaran komprehensif tentang kesiapan AI Indonesia yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pemimpin bisnis, HR, dan pembuat kebijakan.
Untuk pertanyaan tentang data atau analisis lebih lanjut, hubungi tim Pakai.AI melalui website resmi.
Artikel Terkait:
- Dampak AI terhadap Lapangan Kerja Indonesia
- Pelatihan AI Karyawan: 7 Kesalahan Fatal
- Audit Kesiapan AI untuk Perusahaan
- Jasa Pelatihan AI Generatif
- Jasa Otomasi Bisnis