OPINI

Tangisan akar, batangnya di babat habis-habisan

ruminews.id – Platform media sosial dan pusat-pusat diskusi publik baru-baru ini digemparkan oleh laporan mengenai serangkaian peristiwa banjir yang melanda beberapa titik kota di Provinsi Sumatera, mencapai tingkat keparahan yang di luar catatan sejarah. Peristiwa ini dengan cepat melampaui kategori ‘bencana alam biasa’ dan memicu perdebatan sengit mengenai akar penyebabnya. Di tengah masyarakat, muncul dua perspektif utama yang saling berhadapan, namun sejatinya saling melengkapi: yang pertama berfokus pada kekuatan alam, dan yang kedua menyoroti kegagalan ekologis akibat ulah manusia.

Satu perspektif yang dominan di awal adalah bahwa banjir masif ini semata-mata merupakan manifestasi dari fenomena alam yang ekstrem, khususnya luapan air sungai yang disebabkan oleh curah hujan yang intensitasnya luar biasa.

Namun, perspektif lain yang lebih kritis muncul dan menyajikan argumen yang jauh lebih mendalam dan menyentuh inti permasalahan lingkungan di Sumatera: bahwa bencana ini adalah konsekuensi langsung dari kerusakan iklim dan lingkungan yang diakibatkan oleh penebangan pohon besar-besaran (deforestasi) dan alih fungsi lahan yang tak terkendali.

Kita menyaksikan genangan yang meluas, arus yang merusak, dan lumpur yang membungkam kehidupan. Ini bukan lagi sekadar air yang tumpah, bukan pula kebetulan alam yang terjadi sesekali. Ini adalah konsekuensi, sebuah gema keras dari perlakuan keji terhadap bumi.

Penderitaan di Bawah Kanopi yang Hilang
Batang-batang pohon yang tegak dan perkasa, penjaga setia lereng dan hulu sungai. Kini mereka telah tumbang, dibungkam oleh gergaji, diubah menjadi komoditas, dan digantikan oleh monokultur atau hamparan tanah gundul yang tak berdaya.

Dalam peristiwa yang terjadi Karl Marx memandang dari lensa teorinya bahwa ini adalah hasil dari kepentingan kelas Borjuis (pemilik modal/alat produksi) yang berupaya memaksimalkan keuntungan. Kepentingan ekonomi ini seringkali mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan daya dukung alam.

Bukan hanya karena bencana alam, ada sebuah elegi tersembunyi yang jarang kita dengar: tangisan di bawah akar yang batangnya dibabat habis-habisan.

#PrayForSumatera

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (5)
Sebuah Refleksi atas Fenomena Politik Lokal dan Anatomi Kekuasaan di Balik Layar
Muzakkir (4)
Dari Statistik Menuju Keadilan: Kritik atas Perencanaan Pendidikan yang Belum Responsif Gender
Muzakkir (3)
Hutan Terus Terbakar, Udara Semakin Tercemar: Sampai Kapan Kesehatan Masyarakat Harus Jadi Korban?
Muzakkir (3)
Karhutla sebagai Fakta Sosial: A. Muh. Ihsan Amu Soroti Disorientasi Kebijakan dan Desak Negara Bertindak Tegas
Muzakkir (6)
Menagih Hak atas Udara Bersih di Tengah Kepungan Asap
Muzakkir (5)
Kabut Menyebar Hingga Ke Daerah: Saatnya Negara Ambil Sikap Tidak Sekedar Menyaksikan
Muzakkir (4)
Loyalitas Tanpa Kemandirian: Ironi Regenerasi dalam Tubuh PMII
Muzakkir (3)
Karhutla dan Kegagalan Negara Menjamin Hak Atas Udara Bersih
Muzakkir (7)
Kekuasaan Menguat, Kenegarawanan Melemah: Siapa Untung, Siapa Menanggung Beban?
Muzakkir (5)
Tallasa Kamase-Masea: Nyanyian Hitam dari Tanah Kajang untuk Mengguncang Menara Gading
Scroll to Top