ruminews.id, Makassar — Aliansi Mahasiswa Anti Mafia Hukum melayangkan kritik keras terkait penanganan krisis energi di Sulawesi Selatan (Sulsel). Pernyataan ini disampaikan Dewan Komando Aliansi, Bung Cimeng, dalam sesi wawancara di kawasan Fly Over Makassar, Minggu (25/10/2026), menanggapi batalnya kehadiran Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia.
Menteri Bahlil sebelumnya dijadwalkan menghadiri agenda di Hotel Four Points by Sheraton Makassar pada hari yang sama. Namun, hingga acara berlangsung, sang Menteri tidak hadir. Pihak Aliansi mengklaim ketidakhadiran tersebut disebabkan oleh kekhawatiran pemerintah dalam menghadapi desakan mahasiswa terkait persoalan energi yang kian krusial di daerah ini.
Bung Cimeng menegaskan bahwa krisis minyak dan gas bumi (migas) serta ketenagalistrikan di Sulsel telah berdampak langsung pada perekonomian warga. Kelangkaan BBM bersubsidi (Solar dan Pertalite), pembatasan pasokan LPG 3 kg, serta pemadaman listrik bergilir dinilai menjadi pemicu utama kenaikan harga bahan-bahan pokok.
Menyikapi kondisi tersebut, Aliansi Mahasiswa Anti Mafia Hukum menyampaikan tiga tuntutan utama:
1. Penghentian Pemadaman Listrik: Mendesak PT PLN (Persero) UID Sulselrabar untuk segera menghentikan pemadaman listrik bergilir di seluruh wilayah Sulsel.
2. Pemberantasan Mafia BBM: Menuntut aparat penegak hukum dan PT Pertamina Sulawesi, mengusut tuntas indikasi mafia serta penimbun BBM, sekaligus menjamin ketersediaan Solar dan Pertalite.
3. Pemberian Kompensasi: Menuntut kompensasi atas kerugian ekonomi yang ditanggung masyarakat akibat krisis energi dan pemadaman listrik yang berlarut-larut.
Aliansi menegaskan akan terus mengawal isu ini hingga Kementerian ESDM, PT PLN dan PT. Pertamina, memberikan langkah konkret serta pemulihan layanan energi secara tuntas di Sulawesi Selatan.


