Ruminews.id, Makassar — Persoalan kelangkaan BBM dan LPG di Kota Makassar kembali memantik kemarahan kelompok mahasiswa.
Cipayung Plus Kota Makassar yang terdiri dari PMKRI, GMKI, GMNI, PMII, dan HMI Makassar Timur, KAMMI, dan LMND turun ke jalan mendesak Pertamina segera membenahi persoalan distribusi migas yang dinilai meresahkan masyarakat.
Aksi tersebut dipimpin langsung oleh Jenderal Lapangan Febri Tiring. Massa membawa grand isu “Makassar Gelap: Migas Sulit dan Rakyat Menjerit”, sebagai bentuk kritik terhadap kondisi distribusi energi yang dianggap belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Aksi berlangsung alot. Massa mendesak agar pihak Pertamina tidak sekadar memberikan penjelasan normatif, tetapi berani mengambil langkah konkret terhadap persoalan kelangkaan BBM dan LPG serta berbagai persoalan distribusi yang dipersoalkan.
Setelah melalui dinamika aksi, massa akhirnya diterima oleh sejumlah pihak dari Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi. Dalam pertemuan tersebut, enam tuntutan Cipayung Plus Kota Makassar akhirnya ditandatangani oleh pihak yang menemui massa.
Namun, bagi Cipayung Plus, tanda tangan bukanlah akhir perjuangan.
Enam tuntutan tersebut justru menjadi awal pengawalan terhadap komitmen Pertamina. Cipayung Plus Kota Makassar menuntut:
- Usut tuntas mafia migas.
- Buka transparansi pendistribusian migas.
- Berikan sanksi tegas terhadap oknum yang memainkan harga untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.
- Hentikan pengisian BBM bagi kendaraan perusahaan yang tidak memiliki SPBP.
- Buka transparansi data pemilik setiap SPBU di Kota Makassar, sebagai bahan tindak lanjut dialog dengan pimpinan EGM Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi.
- Copot EGM Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi apabila dalam waktu 3×24 jam persoalan belum teratasi.
Febri Tiring: Kami Akan Kawal, Bukan Sekadar Menonton
Jenderal Lapangan Cipayung Plus Kota Makassar, Febri Tiring, menegaskan pihaknya tidak akan berhenti setelah pertemuan dengan Pertamina.
Menurutnya, enam tuntutan yang telah ditandatangani harus diterjemahkan menjadi langkah nyata. Ia menegaskan mahasiswa akan mengawal setiap perkembangan penyelesaian persoalan BBM dan LPG di Kota Makassar.
“Kami akan mengawal langkah pihak Pertamina untuk menuntaskan masalah kelangkaan BBM dan LPG di Kota Makassar. Penandatanganan tuntutan ini harus dibuktikan dengan tindakan nyata,” tegas Febri Tiring.
Cipayung Plus mempertanyakan bagaimana distribusi migas dapat berjalan apabila masyarakat masih harus menghadapi persoalan kelangkaan dan antrean panjang. Bagi mereka, persoalan ini tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan teknis distribusi, tetapi harus dibuka secara transparan agar publik mengetahui titik persoalannya.
Mahasiswa juga mendesak adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap rantai distribusi BBM dan LPG. Jika ditemukan pelanggaran atau permainan harga oleh oknum, Cipayung Plus meminta sanksi tegas diberikan tanpa pandang bulu.
Ultimatum 3×24 Jam Jadi Sorotan
Paling keras, Cipayung Plus memberikan tekanan waktu 3×24 jam kepada Pertamina untuk menunjukkan perkembangan penyelesaian persoalan yang mereka tuntut.
Apabila tuntutan tersebut tidak ditindaklanjuti sebagaimana yang diharapkan, Cipayung Plus menyatakan akan mempertanyakan kembali posisi pimpinan Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, termasuk tuntutan pencopotan EGM.
Ultimatum tersebut menjadi sinyal bahwa gerakan mahasiswa belum selesai.
Bagi Cipayung Plus, tanda tangan di atas kertas tidak cukup. Yang ditunggu masyarakat adalah BBM tersedia, LPG tidak langka, distribusi transparan, dan tidak ada ruang bagi praktik yang merugikan masyarakat.
Dengan membawa slogan “Makassar Gelap, Migas Sulit dan Rakyat Menjerit”, Cipayung Plus menegaskan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga terdapat langkah konkret dari pihak Pertamina.
Kini, sorotan berada di tangan Pertamina: apakah enam tuntutan itu akan berhenti sebagai hasil pertemuan, atau benar-benar menjadi awal pembenahan tata kelola migas di



