ruminews.id, MAKASSAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali mencatatkan capaian di tingkat internasional setelah berhasil memenangkan kompetisi riset yang diselenggarakan oleh International Centre for Antimicrobial Resistance Solutions (ICARS), lembaga internasional yang berbasis di Kopenhagen, Denmark.
Melalui kompetisi yang diikuti peneliti dari berbagai negara tersebut, Unhas menjadi salah satu institusi dari Indonesia yang berhasil memperoleh pendanaan penelitian dengan nilai kontrak mencapai US$649.642,11 atau sekitar Rp11,5 miliar.
Keberhasilan tersebut dilaporkan oleh Ketua Thematic Research Group (TRG) Birth Cohort and Quality of Life Research Group, yang juga merupakan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas, Ansariadi, Ph.D., kepada Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa.
Dalam pertemuan tersebut, Ansariadi didampingi Ketua Global Research Institute (GLORI) Unhas Prof. Adi Maulana serta Wakil Dekan FKM Unhas Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni Prof. Yahya Thamrin.
Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi salah satu bukti penguatan posisi Unhas dalam jejaring riset internasional. Menurutnya, keberhasilan memenangkan kompetisi riset global menunjukkan bahwa Unhas tidak hanya berperan sebagai perguruan tinggi unggulan di Indonesia, tetapi juga semakin aktif berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di tingkat dunia.
“Ini merupakan evidence yang sangat kuat bahwa Unhas telah berkontribusi pada pengembangan riset dan IPTEK dunia. Hal ini juga sangat relevan dengan tema Dies Natalis ke-70 Unhas, yaitu ‘Unhas 7 Dekade Berdampak-Mendunia’,” ujar Prof. Jamaluddin Jompa.
Ia menambahkan, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa posisi Unhas sebagai bagian dari upaya menuju World Class University (WCU) tidak berhenti pada slogan, tetapi mulai ditunjukkan melalui capaian konkret, termasuk keberhasilan memperoleh pendanaan riset kompetitif dari lembaga internasional.
Sementara itu, Ansariadi, Ph.D. mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan peneliti Unhas untuk bersaing dalam kompetisi riset di tingkat global. Menurutnya, penelitian yang dimenangkan merupakan riset multidisiplin yang melibatkan sejumlah bidang keilmuan.
“Keberhasilan peneliti Unhas memenangkan grant ini menunjukkan bahwa peneliti Unhas mampu bersaing di tingkat global. Riset multidisiplin ini akan meningkatkan kinerja Unhas di berbagai bidang, misalnya kerja sama internasional dan joint publication internasional,” kata Ansariadi.
Ia juga menilai kebijakan pimpinan Unhas dalam membentuk Thematic Research Group (TRG) serta memberikan dukungan awal melalui seed grant turut membuka ruang bagi peneliti untuk mengembangkan proposal dan membangun jejaring riset yang lebih kompetitif.
“TRG kami mampu memenangkan grant riset yang kompetitif. Ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap pengembangan kelompok riset dapat menghasilkan capaian di tingkat internasional,” lanjutnya.
Ketua GLORI Unhas, Prof. Adi Maulana, menambahkan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari proses persiapan penelitian yang melibatkan tim lintas disiplin. Tim peneliti dalam riset tersebut melibatkan peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas.
“Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa penelitian yang disiapkan dengan baik dan melibatkan tim lintas disiplin ilmu dapat menghasilkan riset dengan reputasi global,” ujar Prof. Adi Maulana.
Menurutnya, kolaborasi lintas fakultas menjadi salah satu kekuatan dalam menjawab persoalan kesehatan masyarakat yang kompleks, termasuk resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR) yang saat ini menjadi salah satu tantangan kesehatan global.
Prof. Yahya Thamrin selaku Wakil Dekan FKM Unhas Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni mengatakan capaian tersebut juga berpotensi memberikan kontribusi terhadap pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) fakultas maupun universitas, khususnya dalam aspek kemitraan internasional dan penguatan kinerja riset.
ICARS merupakan lembaga internasional yang berbasis di Kopenhagen, Denmark, dengan fokus pada pengembangan dan penerapan solusi berkelanjutan untuk menghadapi resistensi antimikroba (AMR).
Melalui proyek DisAMR atau “Disruption of AMR in Urban Informal Settlements: Pathways for Policy Action”, tim peneliti akan mengkaji upaya pengurangan kontaminasi AMR di lingkungan permukiman informal perkotaan.
Penelitian tersebut berfokus pada penguatan sistem pengelolaan air limbah dan sanitasi, keterlibatan masyarakat, peningkatan praktik kebersihan, serta penyediaan bukti ilmiah yang dapat digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan.
DisAMR merupakan kelanjutan dari program RISE (Revitalising Informal Settlements and their Environments) yang sebelumnya telah dilaksanakan di Makassar. Program tersebut menggunakan pendekatan One Health dan menguji berbagai upaya perbaikan sanitasi serta pengelolaan air pada 12 komunitas permukiman informal dengan cakupan sekitar 3.500 penduduk.
Melalui DisAMR, penelitian diperluas untuk melihat dampak yang lebih luas dari intervensi sanitasi terhadap AMR di lingkungan sekaligus mendorong keberlanjutan sistem sanitasi yang telah dikembangkan.
Penelitian tersebut memiliki empat tujuan utama. Pertama, memperkuat kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah dalam memelihara infrastruktur air limbah dan sanitasi terpusat.
Kedua, mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi mengenai kebersihan dan pencegahan AMR yang melibatkan masyarakat secara langsung. Ketiga, menghasilkan bukti ilmiah mengenai efektivitas, penerimaan, dan keberlanjutan intervensi WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) yang terintegrasi dengan pengendalian AMR lingkungan.
Keempat, menyediakan masukan bagi pemerintah dalam penyusunan kebijakan dan perencanaan, mulai dari tingkat lokal hingga nasional, melalui pemanfaatan data AMR lingkungan yang dapat ditindaklanjuti.
Dengan pendekatan lintas disiplin dan kolaborasi antara bidang kesehatan, lingkungan, sosial, serta kebijakan publik, riset DisAMR diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi berbasis bukti untuk memperkuat pengelolaan sanitasi sekaligus merespons ancaman resistensi antimikroba di kawasan perkotaan.


