Ruminews.id, Jakarta — Buku “Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam” kembali menjadi perbincangan publik setelah sejumlah nama tokoh yang tercantum sebagai kontributor mempertanyakan keterlibatan mereka dalam penyusunan buku tersebut.
Dalam waktu kurang dari 48 jam, setidaknya tiga nama yang tercantum di dalam buku disebut memberikan bantahan atau mempertanyakan pencantuman nama mereka. Mereka adalah mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, serta mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj.
Perhatian terhadap buku tersebut bermula dari beredarnya informasi mengenai nama sejumlah tokoh yang tercantum di dalam daftar isi. Publik kemudian menelusuri keterlibatan mereka dan menemukan respons yang mengindikasikan bahwa sebagian nama tersebut tidak pernah mengirimkan tulisan atau bahkan tidak mengetahui pencantuman namanya.
TGB menjadi salah satu tokoh yang memberikan respons secara langsung. Melalui akun media sosialnya, ia menjawab pertanyaan seorang warganet yang menanyakan apakah dirinya benar menyumbangkan tulisan untuk buku Islam Ala Prabowo.
Pertanyaan tersebut muncul di kolom komentar unggahan TGB pada Minggu (6/9/2026).
“Ijin Tuan Guru, apakah benar anda menyumbang tulisan di buku Islam ala Prabowo?” tulis akun @eh_ilman.
TGB menjawab singkat dan tegas.
“@eh_ilman saya tidak pernah kirim tulisan,” jawabnya.
Meski demikian, nama TGB tercantum dalam buku tersebut. Pada halaman 241 terdapat tulisan berjudul “Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan.”
Sorotan serupa muncul dari pihak keluarga Gus Kautsar. Istrinya, Ning Jazil melalui Instagram Story mempertanyakan bagaimana nama suaminya bisa tercantum dalam buku tersebut.
“Kok bisa2nya ada nama suami saya dibuku ini..?!! Hei Penulis,, minimal izin / pamit dulu kalau mau nyantumin nama,” tulis akun @zil_hb.
Gus Kautsar disebut tercantum sebagai penulis bab “Dukungan Pesantren untuk Presiden Prabowo Subianto” pada halaman 318.
Nama ketiga yang ikut menjadi sorotan adalah KH Said Aqil Siradj. Mantan Ketua Umum PBNU dua periode itu tercantum dalam bagian “Berislam Nusantara Ala Prabowo Subianto” pada Bagian II “Spiritualitas Prabowo Subianto”, halaman 129.
Bantahan Said Aqil beredar dalam bentuk tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diklaim berasal dari kontak terkait dirinya. Dalam percakapan tersebut, seseorang mengirimkan foto daftar isi buku yang mencantumkan nama Said Aqil dan menanyakan keterlibatannya.
Balasan yang beredar berbunyi:
“Tdk benar saya tdk tau menau sayapun kaget.”
Namun, berdasarkan materi yang beredar tersebut, belum terdapat penjelasan lebih lanjut mengenai konteks percakapan maupun mekanisme pencantuman nama Said Aqil dalam buku.
Munculnya respons dari ketiga tokoh tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai proses editorial buku, khususnya mekanisme pemberian tulisan, persetujuan, serta pencantuman nama tokoh sebagai kontributor.
Diluncurkan pada 2025
Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam sebenarnya bukan buku baru. Buku tersebut diluncurkan pada Selasa, 26 Agustus 2025, di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Peluncuran tersebut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar, Ketua Baznas Prof Dr KH Noor Achmad, Menteri Agama Nasaruddin Umar yang hadir mewakili Presiden Prabowo, serta ulama pesantren Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim.
Buku tersebut disebut digagas oleh Ketua MPR Ahmad Muzani bersama Ketua MUI Anwar Iskandar. Adapun nama Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas tercantum sebagai penulis.
Saat peluncuran, Muzani menjelaskan buku tersebut menggambarkan perjalanan religius Prabowo Subianto, mulai dari masa muda, perjalanan karier militernya, hingga kepemimpinannya sebagai presiden.
Salah satu pihak yang secara terbuka mengakui keterlibatannya dalam penulisan adalah KH Asep Saifuddin Chalim. Dalam acara peluncuran, ia mengatakan dirinya menulis bagian epilog buku.
“Sebagai salah seorang yang ikut menulis, epilognya saya yang menulis, kalau buku ini diluncurkan pada bulan Agustus itu tepat sekali karena tekad beliau, Bapak Prabowo adalah untuk mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan menjadi sebuah kenyataan,” kata Asep.
Dalam testimoninya, Asep juga mengaitkan gagasan kepemimpinan yang dibahas dalam buku dengan pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya, zakat, dan instrumen ekonomi untuk mendorong pemerataan kesejahteraan.
“Saya yakin ketika semuanya terlaksana dengan baik, pajak terlaksana dengan baik, zakat terlaksana dengan baik, maka cita-cita luhurnya Pak Prabowo untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan makmur akan segera terwujud,” ujarnya.
Setahun setelah peluncurannya, buku tersebut kembali menjadi sorotan dengan persoalan yang berbeda. Perhatian publik kini bukan hanya tertuju pada gagasan keislaman dan kepemimpinan Prabowo yang dibahas di dalamnya, tetapi juga pada proses pencantuman nama sejumlah tokoh sebagai kontributor.



