Ruminews.id, Jakarta — Kepemimpinan generasi muda tidak boleh berhenti pada kecerdasan intelektual, kemampuan berbicara, atau sekadar menduduki jabatan.
Pemimpin muda harus memiliki integritas, fondasi spiritual, kemampuan mengendalikan diri, serta keberanian untuk hadir dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Nyoman Suriadarma, S.Pd., M.Pd.B. dalam pemaparan bertema “Kepemimpinan Pemuda Berlandaskan Nilai Keagamaan.”
Nyoman menegaskan bahwa kepemimpinan sejatinya bukan tentang seberapa besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, melainkan seberapa besar tanggung jawab dan manfaat yang mampu diberikan.
“Pemimpin adalah pelayan. Semakin tinggi jabatan, semakin besar tanggung jawab.”
Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan. Integritas menjadi fondasi utama karena seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk mampu memimpin orang lain, tetapi terlebih dahulu harus mampu memimpin dirinya sendiri.
Empat Pilar yang Menjadi Fondasi Pemimpin Muda
Dalam perspektif Buddhis, Nyoman menekankan empat pilar penting dalam membangun karakter kepemimpinan, yaitu Sila, Sati, Mudita, dan Upekkha.
Sila menekankan kejujuran, konsistensi, dan keteladanan. Sati mengajarkan kesadaran serta kemampuan mengendalikan emosi ketika menghadapi tekanan dan kritik.
Sementara Mudita mendorong pemimpin untuk mampu mengapresiasi keberhasilan orang lain tanpa merasa terancam oleh kemampuan anggota yang lebih unggul.
Adapun Upekkha mengajarkan keseimbangan batin agar pemimpin tidak mudah reaktif dalam menghadapi perbedaan dan dinamika organisasi.
Bagi Nyoman, pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang selalu ingin didengar, melainkan pemimpin yang mampu mendengar. Keterbukaan terhadap kritik dan perbedaan pandangan menjadi bagian penting dalam membangun organisasi yang sehat.
Pemimpin yang Hanya Mengandalkan Jabatan Akan Kehilangan Kepercayaan
Nyoman juga menyoroti pentingnya trust dalam kepemimpinan organisasi sosial. Menurutnya, kepemimpinan dalam organisasi sosial tidak hanya berdiri di atas legalitas formal, tetapi terutama dibangun melalui kepercayaan.
Kepercayaan tersebut, kata dia, dapat dibangun melalui keteladanan, integritas, keterbukaan, dan kepedulian terhadap anggota.
Sebaliknya, kepercayaan dapat hilang ketika kepemimpinan dijalankan dengan ego, tekanan, kemarahan, atau kepentingan pribadi.
Tantangan Pemuda: Ego Kepemimpinan hingga Distraksi Digital
Di tengah dinamika generasi muda, Nyoman mengingatkan sejumlah tantangan yang dapat menghambat perkembangan organisasi dan kepemimpinan.
Mulai dari silo mentality, yaitu kecenderungan bergerak dalam kelompok atau sekat masing-masing; ego kepemimpinan, ketika seseorang hanya ingin berkontribusi jika menduduki posisi tertentu; hingga distraksi digital yang membuat fokus generasi muda mudah terpecah.
Ia juga mengingatkan bahaya apatisme sosial. Menurutnya, pemuda tidak boleh bersikap masa bodoh terhadap persoalan masyarakat, ketimpangan, maupun penderitaan sesama.
Pemimpin muda harus memiliki kepekaan sosial dan keberanian untuk menghadirkan aksi nyata.
Dari Menguasai Diri hingga Memberi Dampak bagi Bangsa
Nyoman menekankan bahwa perjalanan kepemimpinan harus dimulai dari penguasaan diri, kemudian berkembang melalui sinergi, empati sosial, dan kontribusi nyata.
Kepemimpinan yang ideal, menurutnya, tidak hanya menghasilkan organisasi yang aktif, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi umat, masyarakat, dan bangsa.
Pada akhirnya, setiap pemimpin akan meninggalkan jejak melalui keputusan dan tindakan yang diambilnya. Karena itu, kepemimpinan harus dijalankan dengan kebijaksanaan, nilai moral, dan kesadaran bahwa setiap jabatan membawa tanggung jawab.
Pemimpin muda bukan mereka yang paling ingin berada di depan, melainkan mereka yang siap bertanggung jawab, melayani, dan memastikan kehadirannya membawa perubahan.



