Gramedia Yogyakarta Adakan Diskusi Buku Tirani Demokrasi

Ruminews.id Yogyakarta – Toko buku Gramedia mengadakan kegiatan diskusi buku “Tirani Demokrasi” pada Jum’at (26/6). Buku ini adalah karya dari Sapardi Djoko Damono salah seorang sastrawan, penulis buku dan budayawan Indonesia yang terkenal karena puisi-puisinya.

Diskusi yang mengambil judul “Abadi Bersama Sapardi: Diskursus Demokrasi Melalui Kacamata Sapardi” merupakan kegiatan yang diadakan toko buku Gramedia Yogyakarta dalam rangka mengingat kembali karya-karya Sapardi yang ternyata memiliki hubungan yang kuat dalam kondisi perpolitikan yang terjadi di bangsa ini.

Kegiatan ini dimulai pukul 19.00 WIB, di lantai 3 toko buku Gramedia.

​Ada dua orang pemantik diskusi yang hadir dalam kegiatan tersebut, yaitu: Prof. Dr. Faruk Tripoli S.U.(guru besar ilmu sastra UGM), Selvi Agnesia (penulis seni budaya) dan di moderatori oleh Polanco S. Achri (periset seni dan sastra).

Pemantik diskusi akan mengupas buku Tirani Demokrasi dari sudut pandang diskursus kacamata Sapardi sebagai sastrawan, budayawan yang mulai memiliki catatan kritis terhadap kondisi politik Indonesia di masa Orde Baru. Buku Tirani Demokrasi ini sebenarnya adalah cetakan kedua, sebelumnya cetakan pertama buku ini diterbitkan di tahun 2014.

​Prof. Faruk mengatakan bahwa buku ini bukan hanya selebaran kegelisahan Sapardi tentang kondisi negara saat itu, melainkan pengambaran krisis kebudayaan yang bukan hanya terjadi di Indonesia, sehingga Sapardi mengambarkannya dalam kerangka Holistik yang menyeluruh.

Sedangkan Selvi menyebutkan bahwa buku ini adalah kegelisahan Sapardi ketika melihat perpolitikan Orde Baru saat itu yang selalu menang pemilu dan melanggengkan tirani. Dalam konteks demokrasi sendiri Selvi menambahkan bahwa konteks “Demos” dan “Kratos” dibuat oleh para tiran untuk kepentingannya sendiri.

Demokrasi juga merupakan sistem geopolitik untuk saling menghancurkan satu dengan lainnya. Pada kenyataannya konteks sastra dalam kacamata Sapardi untuk melihat demokrasi tak pernah bersifat demokratis. Seluruhnya hanya demi kepentingan kelompok tiran itu sendiri.

​Kegiatan diskusi ini dilanjutkan dengan tanya jawab kepada para pemantik. Salah satu penanya bernama Rian, menanyakan tentang minat baca buku yang menurun, pendidikan sudah tidak memiliki fokus, apa yang salah dengan pendidikan?

Prof. Faruk kemudian menanggapi bahwa generasi muda saat ini terbiasa dengan media sosial, terbiaca membaca literasi pendek dalam media tersebut, pergeseran buku sebagai bahan bacaan memang menjadi berkurang tapi tidak mengurangi kualitas bagi generasi saat ini untuk dapat kritis terhadap pengalaman politik yang semakin berbahaya kita rasakan saat ini.

Sedangkan Selvi menegaskan bahwa saat ini memang terjadi krisis kebudayaan, daya kritis untuk membaca dan munculnya budaya instan, mulai matinya kepakaran dan mulai diminatinya selebgram daripada para ahli. Sehingga perlu melihat konteks demokrasi secara holistik untuk membela suara rakyat.

Kemudian salah seorang peserta diskusi bertanya tentang konteks “Demokrasi Semu”, saat ini mahasiswa banyak yang kritis dan bersuara melalui aksi-aksi demonstrasi, namun ternyata idealisme dan aspirasi mereka bisa dinilai sebatas uang dengan sebutan “Mahasewa”.

Selvi kemudian menjelaskan dalam konteks ini pemerintah sedang menjalankan siasat politiknya, menjadikan rakyat sebagai alat dan berujung pada bagi-bagi kekuasaan di pemerintahan. Hal tersebut juga disebutkan dibuku Sapardi ini dengan istilah “Bagi-Bagi Kue” yang merupakan kritik terhadap pemerintah yang sedang bagi-bagi keuntungan kepada kelompok tiran di dalamnya.

Diskusi ini kemudian dilanjutkan dengan kegiatan open mic untuk membacakan puisi karya Sapardi di antologi puisi “Ayat-Ayat Api”, dan memberikan buku antologi tersebut kepada para peserta yang membacakan puisi. Kegiatan ini ditutup dengan foto bersama dan diakhiri pukul 21.00 WIB. (Angga Riyon Nugroho S.Pd)

Share

PENCARIAN
BERITA LAINNYA
KATEGORI
Scroll to Top