Meneguhkan Konfercab Ke-XVII HMI Cabang Selong sebagai Inkubator Gagasan Inklusif

ruminews.idKonferensi Cabang (Konfercab) XVII Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Selong merupakan momentum strategis yang tidak semata dipahami sebagai mekanisme pergantian kepemimpinan struktural, melainkan sebagai ruang dialektika intelektual yang menentukan arah gerak organisasi ke depan. Dalam konteks ini, Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Selong memandang perlu adanya penegasan sikap kolektif bahwa Konfercab harus dikembalikan pada esensi dasarnya sebagai inkubator gagasan yang inklusif, bukan sekadar arena pertarungan kepentingan yang sempit dan pragmatis.

Secara konseptual, organisasi kader seperti HMI bertumpu pada prinsip collective leadership dan intellectual movement. Oleh karena itu, Konfercab seyogianya menjadi medium artikulasi ide, kritik konstruktif, serta perumusan agenda strategis yang berangkat dari kebutuhan objektif kader dan tantangan sosial umat serta bangsa. Ketika forum strategis ini direduksi menjadi ajang kompetisi personal yang kering dari adu gagasan, maka yang terjadi adalah degradasi kualitas pengambilan keputusan organisasi.

BPL HMI Cabang Selong menilai bahwa kecenderungan pertarungan sempit dalam forum Konfercab berpotensi menyimpan mens rea—niat tersembunyi yang tidak sepenuhnya berorientasi pada kemaslahatan organisasi. Mens rea semacam ini, apabila dibiarkan, akan bermuara pada tata kelola organisasi yang elitis, eksklusif, dan kehilangan fleksibilitas gerak. Dalam jangka menengah hingga panjang, kondisi tersebut dapat melahirkan stagnasi struktural, menurunnya etos kerja kolektif, serta terhambatnya proses kaderisasi yang seharusnya menjadi jantung pergerakan HMI.

Lebih jauh, tata kelola organisasi yang dibangun di atas fondasi konflik kepentingan personal cenderung menghasilkan pola kerja yang kaku dan tidak adaptif terhadap dinamika sosial. Padahal, HMI sebagai organisasi kader dituntut untuk senantiasa responsif, progresif, dan transformatif. Ketika ruang-ruang deliberatif diinternalisasi dengan logika menang-kalah, maka dialektika intelektual akan tergantikan oleh polarisasi yang kontra-produktif.

Oleh sebab itu, BPL HMI Cabang Selong menegaskan pentingnya mengedepankan paradigma inklusivitas dalam Konfercab XVII. Inklusivitas di sini dimaknai sebagai keterbukaan terhadap perbedaan pandangan, pengakuan atas pluralitas gagasan, serta kesediaan untuk menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan individual maupun kelompok. Dengan demikian, Konfercab tidak hanya melahirkan kepemimpinan struktural, tetapi juga menghasilkan kerangka ideologis dan strategis yang mampu menggerakkan organisasi secara berkelanjutan.

Sebagai penutup, BPL HMI Cabang Selong mengajak seluruh kader untuk menjadikan Konfercab XVII sebagai titik tolak revitalisasi nilai-nilai ke-HMI-an: keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan. Hanya dengan menjadikan forum ini sebagai ruang inkubasi gagasan yang sehat dan inklusif, HMI Cabang Selong dapat memastikan bahwa kerja-kerja organisasi ke depan berjalan dinamis, adaptif, dan tetap berpijak pada cita-cita perjuangan yang luhur.

Scroll to Top