ruminews.id – Kunjungan singkat Lionel Messi dalam rangkaian turnya di India berubah menjadi malam yang getir dan gaduh. Stadion Salt Lake, Kolkata, yang semula dipenuhi harap dan doa para penggemar, mendadak menjadi saksi pecahnya kekecewaan. Kursi-kursi dirusak, benda-benda melayang ke arah lapangan, amarah massa meletup setelah mimpi melihat sang idola runtuh sebelum benar-benar terwujud.
Ribuan pasang mata telah menebus tiket berharga fantastis sekitar Rp2,2 juta—demi secuil momen bersama legenda hidup sepak bola dunia. Namun, yang tersaji hanya lintasan langkah singkat Messi mengitari lapangan, tertutup barisan pejabat dan selebriti. Bagi banyak penggemar, jarak itu terasa lebih jauh dari sekadar pagar pembatas: ia menjelma tembok kekecewaan.
Kekecewaan mencapai puncaknya ketika Messi, penyerang Argentina dan bintang Inter Miami, digiring pihak keamanan meninggalkan stadion hanya sekitar 20 menit setelah kemunculan jauh dari harapan 45 menit yang beredar. Harap yang patah pun berubah menjadi permusuhan; malam yang seharusnya dirayakan justru berakhir anarkis.
Pemerintah Benggala Barat merespons cepat. Kepala Menteri Mamata Banerjee menyatakan dirinya “sangat terganggu dan terkejut” atas peristiwa memalukan tersebut. Melalui platform X, ia mengumumkan pembentukan komite penyelidikan untuk mengurai sebab-musabab insiden, menetapkan pertanggungjawaban, serta merumuskan langkah pencegahan agar luka serupa tak terulang.
“Komite akan melakukan penyelidikan mendalam terhadap insiden tersebut, menetapkan pertanggungjawaban, dan merekomendasikan langkah-langkah untuk mencegah kejadian serupa di masa depan,” ujar Banerjee, Ahad, 14 Desember 2025.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada Lionel Messi dan “para pencinta olahraga” atas apa yang terjadi. Malam itu, Kolkata belajar pahit: ketika harap ditinggikan tanpa pengelolaan yang arif, satu langkah singkat bisa memantik badai panjang.