Ruminews.id, Hong Kong — Persatuan Buruh Migran Indonesia Tolak Overcharging (PILAR) Hong Kong, merayakan hari jadinya yang ke-19 pada Minggu (24/5/2026) di kawasan Causeway Bay, Hong Kong. Mengusung tema “Mari Kita Perkuat Diri dan Perjuangan Buruh Migran dengan Terus Belajar, Berorganisasi, dan Berkarya untuk Menegakkan Keadilan dan Kesejahteraan Migran serta Keluarganya,” perayaan tersebut menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan solidaritas di tengah berbagai tantangan yang dihadapi pekerja migran.
Sekitar 100 anggota dan simpatisan menghadiri kegiatan yang berlangsung meriah meski di tengah cuaca panas. Acara diisi dengan berbagai penampilan seni, pertunjukan kreativitas anggota, sesi diskusi, hingga lokakarya yang membahas arah dan program organisasi ke depan.
Perayaan ulang tahun ke-19 ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan Milad PILAR yang telah dimulai sejak April 2026. Sejumlah agenda sebelumnya difokuskan pada diskusi mengenai identitas dan posisi buruh migran di tengah situasi global saat ini, sekaligus menjadi bagian dari persiapan menyambut Hari Buruh Internasional.
Koordinator PILAR, Jepy, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perayaan tahun ini berlangsung dalam situasi yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, berbagai krisis yang terjadi saat ini turut berdampak pada kehidupan pekerja migran, termasuk anggota organisasi.
Ia menuturkan bahwa sejumlah anggota dan organisasi masyarakat yang tergabung dalam PILAR harus kembali ke negara asal setelah kehilangan pekerjaan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan gerakan buruh migran di Hong Kong.
“Banyak anggota organisasi masyarakat yang tergabung dalam PILAR harus kembali ke negara asal dan kehilangan pekerjaannya. Jika kita tidak mampu bertahan, maka hal ini akan berdampak pada kita semua,” ujar Jepy.
Di tengah situasi tersebut, Jepy menekankan pentingnya regenerasi organisasi. Ia mengingatkan bahwa para pekerja migran tidak akan selamanya tinggal dan bekerja di Hong Kong, sehingga diperlukan kader-kader baru yang siap melanjutkan perjuangan di masa mendatang.
“Kita menyadari bahwa kita tidak akan selamanya tinggal di Hong Kong. Oleh karena itu, sangat penting bagi PILAR untuk melahirkan tenaga-tenaga baru yang siap meneruskan perjuangan di masa depan,” tegasnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Jepy menilai keberlangsungan PILAR hingga memasuki usia ke-19 tahun merupakan pencapaian yang patut disyukuri. Menurutnya, eksistensi organisasi tidak lepas dari keyakinan bahwa perubahan kondisi pekerja migran hanya dapat diwujudkan melalui kesadaran kolektif dan persatuan.
“Yang patut kita banggakan adalah bahwa PILAR masih eksis hingga kini. Hal ini disebabkan karena PILAR percaya bahwa hanya migran yang sadar dan bersatu yang mampu mengubah kondisi migran itu sendiri,” tegasnya.
Selain menjadi ajang perayaan, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk menjaring masukan dari anggota terkait program-program organisasi pada masa mendatang. Para peserta terlibat dalam workshop yang membahas kebutuhan, tantangan, serta strategi perjuangan buruh migran di tengah perubahan situasi ekonomi dan ketenagakerjaan global.
Suasana kebersamaan semakin terasa melalui makan bersama dengan konsep potluck, di mana para anggota membawa dan berbagi makanan masing-masing. Tradisi tersebut menjadi simbol solidaritas dan semangat saling mendukung yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan organisasi.
Menutup kegiatan, pengurus PILAR menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota, panitia, dan pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan perayaan tersebut. Mereka berharap PILAR dapat terus menjadi ruang belajar, berorganisasi, dan berkarya bagi para buruh migran Indonesia, sekaligus memperkuat perjuangan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi pekerja migran serta keluarganya.
Memasuki usia ke-19 tahun, Persatuan Buruh Migran Indonesia Tolak Overcharging (PILAR) Hong Kong menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan hak-hak buruh migran melalui advokasi, pendidikan, penguatan organisasi, dan pembangunan solidaritas. Berawal dari gerakan melawan praktik *overcharging* atau biaya penempatan yang berlebihan, PILAR kini berkembang menjadi wadah bagi pekerja migran Indonesia di Hong Kong untuk belajar, berorganisasi, serta menyiapkan generasi baru yang akan melanjutkan perjuangan demi perlindungan dan kesejahteraan buruh migran beserta keluarganya.







