Konser Ye di Jakarta Ditonton 25 Ribu Wisatawan Mancanegara, Perputaran Ekonomi Capai Rp600 Miliar

Konser Ye

Ruminews.id, Jakarta — Konser Kanye West atau Ye di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, menarik sekitar 70.000 penonton, termasuk 25.000 wisatawan mancanegara dari 80 negara. Kementerian Pariwisata menilai tingginya jumlah penonton internasional tersebut memperlihatkan potensi pariwisata berbasis musik atau music tourism dalam menggerakkan perekonomian.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengapresiasi penyelenggaraan konser Ye Live in Jakarta yang berlangsung pada Oktober 2026. Menurutnya, kehadiran penonton dari berbagai negara menunjukkan daya tarik Indonesia sebagai destinasi pertunjukan musik internasional.

“Konser Ye Live in Jakarta merupakan momentum penting bagi pariwisata Indonesia. Kehadiran sekitar 25 ribu penonton mancanegara dari 80 negara menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya tarik yang sangat kuat sebagai destinasi pertunjukan musik internasional,” ujar Widiyanti, dikutip dari keterangan tertulis pada Selasa (27/10/2026).

Berdasarkan data penyelenggara Raw Vision Collective per 26 Oktober 2026, sekitar 25.000 dari total 70.000 penonton konser berasal dari luar negeri. Tujuh negara dengan jumlah penonton terbanyak adalah Australia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan China.

Widiyanti mengatakan konser internasional berpotensi meningkatkan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan selama berada di Indonesia. Pengunjung tidak hanya membeli tiket, tetapi juga menggunakan transportasi, menginap di hotel, menikmati kuliner, berbelanja, serta mengunjungi destinasi wisata lainnya.

Perputaran Ekonomi Diperkirakan Rp600 Miliar

Dampak ekonomi konser Ye Live in Jakarta diperkirakan mencapai Rp600 miliar. Berdasarkan data Raw Vision Collective dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta, nilai tersebut mencakup aktivitas penjualan tiket, kuliner, pembelian merchandise, hingga transaksi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sektor akomodasi turut merasakan dampak penyelenggaraan konser. Tingkat okupansi hotel di sekitar lokasi acara dilaporkan meningkat hingga mendekati 100 persen seiring kedatangan penonton dari berbagai daerah dan negara.

Selain menggerakkan sektor pariwisata, konser tersebut melibatkan sekitar 5.000 pekerja. Mereka mencakup tenaga produksi, kru operasional belakang panggung, serta pekerja pendukung lainnya.

Keterlibatan ribuan pekerja tersebut menunjukkan luasnya rantai ekonomi industri pertunjukan, mulai dari penyelenggara acara dan tenaga profesional hingga penyedia jasa, pelaku usaha lokal, serta masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pendukung pariwisata.

“Inilah kekuatan sesungguhnya dari pariwisata berbasis event. Satu konser internasional dapat menghidupkan banyak sektor ekonomi sekaligus, dari hotel, restoran, transportasi, UMKM, hingga membuka kesempatan kerja bagi ribuan orang,” kata Widiyanti.

Meski demikian, besarnya perputaran ekonomi tersebut merupakan estimasi yang mencakup berbagai aktivitas transaksi selama penyelenggaraan konser, bukan semata-mata pendapatan dari penjualan tiket.

Kemenpar Dukung Lebih dari 25 Event Internasional

Konser Ye menjadi bagian dari upaya Kementerian Pariwisata mengembangkan pariwisata berbasis acara melalui program prioritas Event by Indonesia.

Sepanjang 2026, Kementerian Pariwisata telah memberikan dukungan kepada lebih dari 25 acara internasional. Program tersebut ditujukan untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam menarik penyelenggaraan kegiatan berskala global.

Widiyanti berharap pengembangan music tourism tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai lokasi pertunjukan musisi internasional, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang menawarkan pengalaman berkualitas dan memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan.

Menurutnya, keberhasilan konser Ye memperlihatkan peluang Indonesia untuk berkembang menjadi pusat penyelenggaraan konser dan festival musik internasional, khususnya di kawasan Asia Pasifik.

Kementerian Pariwisata juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, promotor Raw Vision Collective, pekerja yang terlibat, pelaku industri pariwisata, UMKM, serta masyarakat dan penggemar musik yang mendukung acara tersebut.

Widiyanti berharap penyelenggaraan konser internasional berikutnya dapat memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian, pertumbuhan pariwisata berbasis acara tidak hanya diukur dari jumlah penonton, tetapi juga dari keterlibatan pekerja lokal, peluang usaha, dan manfaat yang diterima sektor-sektor pendukung.

Share

Scroll to Top