Ruminews.id – Aksi simbolik warga menanam pohon pisang di jalan rusak di Desa Lautang, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, menjadi sorotan publik. Aksi tersebut dinilai sebagai bentuk kritik atas kondisi infrastruktur yang belum mendapat penanganan maksimal.
Putera daerah Kabupaten Wajo sekaligus Eks Sekretaris Jenderal Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Alauddin Makassar, Muhammad Mahadir, menyayangkan respons Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman terhadap aksi simbolik tersebut.
Menurut Mahadir, kritik masyarakat seharusnya dijawab dengan solusi konkret, bukan direspons secara emosional atau digeser ke ranah personal.
“Penanaman pohon pisang adalah narasi harapan masyarakat. Yang dikritik adalah kondisi jalan, sehingga respons pemerintah seharusnya menjawab substansi persoalan, bukan menggesernya ke ranah personal.”
Ia menegaskan, masyarakat tidak membutuhkan polemik berkepanjangan. Warga lebih membutuhkan kepastian mengenai kapan jalan akan diperbaiki dan bagaimana pemerintah memastikan pembangunan tersebut benar-benar terlaksana.
Mahadir juga mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan membuka informasi secara transparan terkait pengalokasian anggaran, jadwal pengerjaan, hingga progres pembangunan ruas jalan yang menjadi keluhan masyarakat.
“Yang dibutuhkan masyarakat bukan perdebatan tentang siapa yang menanam pohon pisang, tetapi kepastian kapan jalan diperbaiki. Kritik masyarakat harus dijawab dengan kerja nyata.”
Ia juga mengingatkan agar pengalokasian anggaran dilakukan secara transparan dan akuntabel sehingga tidak terjadi pengalokasian yang tidak sesuai peruntukannya. “Yang diharapkan masyarakat bukan polemik, melainkan keterbukaan dalam pengelolaan anggaran, kepastian pelaksanaan pembangunan, serta tidak adanya pengalokasian anggaran yang tidak sesuai sehingga hak masyarakat atas infrastruktur yang layak benar-benar terpenuhi.”