Ruminews.id, Yogyakarta – Jakal Book Club mengadakan kegiatan membaca buku dan ngobrol-ngobrol tentang buku di Multitude Book, Rabu (8/7). Jakal Book Club sendiri terbentuk dari inisiasi Multitude Book dengan penerbit Semut Api untuk menjadi wadah kegiatan literasi buku kepada semua penikmat buku yang ada di kota Yogyakarta.
Sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan budaya literasi kepada generasi muda. Kegiatan membaca buku ini dibuka oleh Aldino perwakilan dari Multitude Book pukul 17.00 WIB. Ada 6 peserta yang datang, Aldino kemudian mengarahkan untuk membaca buku yang sudah dibawa selama 45 menit. Dengan konsep yang santai duduk disamping angkringn dengan segelas kopi yang ada di meja membuat suasana membaca buku menjadi lebih kondusif untuk dilakukan.
Setelah membaca buku Aldino kemudian membuka sesi sharing dan diskusi dari buku yang masing-masing dibaca. Dari 6 peserta yang membaca buku, mulai menceritakan isi dari buku yang mereka baca. Buku yang pertama berjudul “Punk Kok Muslim” buku ini mencoba melihat perspektif Punk sebagai budaya anti kemapanan dalam budaya muslim.
Buku ini juga merupakan bagian tinjauan antropologis terhadap budaya Punk pada masyarakat Indonesia melalui pendekatan agama. Konteks yang berhubungan dengan Punk sendiri seperti “Anarkisme” dan paham lain juga dijelaskan secara eksplisit di dalam buku, sehingga para pembacanya diarahkan untuk menilai anak Punk dari perspektif budaya yang berbeda.
Buku kedua berjudul “Tirani Demokrasi” karya dari Sapardi Djoko Damono yang menceritakan tentang pengalaman Sapardi dalam melihat konteks Demokrasi di Indonesia, sebuah cerita dari sudut pandang lain tentang sastrawan Sapardi ketika melihat kondisi perpolitikan di Indonesia melalui kacamata Demokrasi.
Istilah-istilah seperti “Dagang Sapi”, “Bagi-bagi Kue”, “Kucing Dalam Karung” ternyata relevan dengan kondisi perpolitikan di Indonesia saat ini yang menerapkan “Demokrasi Semu” untuk melanggengkan kekuasaan oligarki bagi kelompok tertentu. Buku ini juga membandingkan konteks Demokrasi Indonesia dengan Demokrasi di negara-negara lain seperti Ukraina, Amerika Serikat dan India sehingga dapat menjadi gambaran tentang makna Demokrasi yang mestinya perlu banyak pembenahan di negara ini.
Buku ketiga berjudul “Gerwani Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan”, pembaca sebenarnya belum selesai membaca buku ini, masih membaca dibagian depan, namun yang ingin di sharingkan dari pengalaman lain tentang buku ini dan peristiwa ’65 yaitu kisah perjalanan Katri, salah satu eks. Tahanan politik yang pernah dipenjara Kamp Plantungan sebagai bentuk pembinaan rezim Orde Baru terhadap kelompok yang dinamakan Komunisme ini.
Katri sendiri sebagai tahanan politik dalam proses perjalanannya sampai di Kamp ini banyak mengalami penyiksaan oleh militer, dari mulutnya yang ditembak, uangnya untuk persalinan diambil sampai kemudian dimasukan ke rumah sakit jiwa menjadi pengalaman terberat bagi Katri sebagai penyintas ’65. Sehingga seperti yang dikisahkan dalam buku ini tentang Gerwani juga memiliki pengalaman yang tidak jauh berbeda seperti yang dialami Katri. Plantungan sendiri adalah sebuah tempat dimana dulu ditempatkan berbagai pasien yang menderita penyakit Lepra (Kusta), penjara ini dikhususkan untuk menempatkan para wanita sedangkan para pria ditempatkan di Pulau Buru, Maluku.
Buku keempat berjudul “Komunisme Primitif Hingga Komunisme Libertarian” menjelaskan tentang paham Komunisme dari sudut pandang yang berbeda. Merupakan bagian perjalanan dari ideologi Komunisme di kondisi masyarakat awal yang primitif untuk mencapai masyarakat yang ideal yaitu Libertarian.
Konsep pemikiran ini tentu membawa perspektif yang berbeda terhadap pemahaman Komunisme, terutama di negara-negara anti-Komunis untuk memandang ideologi ini lebih mendalam.
Buku kelima berjudul “Skripshit”- Alit Susanto merupakan buku bacaan komedi yang melihat perspektif para mahasiswa yang sedang menyusun skripsi dengan berbagai dinamikanya yang dapat dikomedikan di dalam buku ini. Para peserta akhirnya juga banyak bercerita tentang pengalaman pribadinya serta teman-temannya saat menyusun skripsi yang ternyata banyak kelucuan di dalamnya.
Buku keenam berjudul “Things Left Behind” merupakan novel terjemahan dari Korea Selatan yang menceritakan tentang pengalaman satu keluarga yang memiliki pekerjaan membersihkan tempat kematian. Buku ini merupakan novel adaptasi dari series Korea berjudul “Man to Heaven”. Pembaca menceritakan bahwa dalam kematian tidak selalu dimaknai dengan kesedihan melainkan banyak perasaan kompleks yang diwakilkan dalam buku ini untuk mengambarkan kondisi tersebut, sehingga terkadang ada yang memanfaatkan peristiwa kematian tersebut untuk mencari keuntungan walaupun itu adalah keluarga yang ditinggal mati anggota keluarganya sendiri.
Setelah masing-masing peserta bercerita tentang buku yang dibaca kegiatan ditutup pukul 19.30 WIB dengan foto bersama. Harapannya kegiatan literasi dan saling bercerita tentang buku bacaan ini dapat rutin dilaksanakan sehingga budaya literasi tetap melekat pada generasi muda untuk memperluas jejaring, pengetahuan dan dialektika bagi generasi muda.
Penulis: Angga Riyon Nugroho S.Pd.