Dari Tepian Majalengka, Kolaborasi Inklusif Tumbuh Melalui Ruang Belajar Bersama

Ruminews.id, Majalengka — Di tengah lokasi yang cukup jauh dari pusat Kota Majalengka, semangat kolaborasi dan inklusivitas justru tumbuh dari sebuah sekretariat sederhana di Desa Ligung, Kecamatan Ligung. Pada Kamis (28/5), Pelita Inklusi Nusantara (PINUS) Majalengka menggelar kegiatan bersama Dompet Dhuafa Volunteer (DDV) Cirebon, komunitas tuli dari GERKATIN dan Rumah Tuli, serta para orang tua penyandang disabilitas.

Kegiatan tersebut diawali dengan penyaluran 100 paket daging kurban dari DDV Cirebon kepada masyarakat dan keluarga penyandang disabilitas. Namun, lebih dari sekadar distribusi bantuan, kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman antarkomunitas.

Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah sesi belajar bahasa isyarat dasar yang diikuti para relawan DDV. Mayoritas relawan yang masih berstatus mahasiswa itu belajar langsung dari Fuad, seorang Juru Bahasa Isyarat (JBI), mengenai dasar-dasar komunikasi dengan teman-teman tuli.

Melalui sesi tersebut, para relawan tidak hanya mengenal bahasa isyarat, tetapi juga memahami cara berinteraksi yang lebih inklusif dengan penyandang disabilitas. Mereka diajak melihat bahwa komunikasi bukan hanya soal bahasa, melainkan juga soal menghargai pengalaman dan kebutuhan orang lain.

Kegiatan ini turut dihadiri para orang tua anak penyandang disabilitas yang sebelumnya terlibat dalam diskusi kelompok terarah (FGD) pendidikan inklusif yang diselenggarakan PINUS di SD Randegan Kulon, Kecamatan Jatitujuh. Pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus mempererat hubungan antara keluarga penyandang disabilitas dengan berbagai organisasi penyandang disabilitas yang ada di Majalengka.

Pengelola PINUS Majalengka, Ulya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun kolaborasi yang lebih luas dalam isu inklusi sosial. Selama beberapa bulan terakhir, PINUS mulai mendorong berbagai inisiatif peningkatan kapasitas komunitas dengan melibatkan organisasi penyandang disabilitas sebagai mitra yang setara.

Menurutnya, pendekatan tersebut lahir dari keinginan untuk mengubah paradigma lama yang sering kali menempatkan penyandang disabilitas hanya sebagai penerima bantuan. PINUS berupaya menghadirkan ruang di mana setiap pihak dapat saling berbagi pengetahuan, pengalaman, dan peran sesuai kapasitas masing-masing.

“Yang ingin dibangun bukan sekadar kegiatan amal atau charity. Kami ingin menghadirkan ruang tumbuh bersama, ruang kolaborasi yang setara, di mana semua pihak bisa terlibat secara utuh,” ujarnya.

Ia menilai isu inklusi sosial di Majalengka masih menghadapi berbagai tantangan. Dibandingkan sejumlah daerah lain yang telah memiliki jaringan gerakan disabilitas yang kuat, ekosistem inklusi sosial di Majalengka dinilai masih perlu banyak diperkuat.

Selama ini, organisasi penyandang disabilitas yang dikenal luas umumnya adalah kelompok yang mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah. Sementara itu, banyak organisasi dan komunitas disabilitas lain yang keberadaannya belum banyak diketahui masyarakat.

Karena itu, PINUS berupaya mempertemukan berbagai komunitas, mulai dari organisasi tuli hingga kelompok orang tua penyandang disabilitas, agar tercipta hubungan yang lebih erat dan saling mendukung. Harapannya, isu disabilitas tidak lagi dipandang sebagai urusan segelintir pihak, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Melalui kegiatan di Ligung ini, para peserta menunjukkan bahwa inklusivitas tidak dibangun melalui simbolisme atau keterlibatan yang bersifat seremonial. Inklusivitas tumbuh ketika setiap orang diberi ruang untuk hadir, didengar, dan berkontribusi.

Di tengah suasana yang hangat dan sederhana, kolaborasi tersebut menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak hanya hadir dalam bentuk bantuan yang diberikan, tetapi juga dalam kesediaan untuk belajar bersama dan bertumbuh bersama tanpa meninggalkan siapa pun.

Share

PENCARIAN
BERITA LAINNYA
  • All Posts
  • Bantaeng
  • Berau
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Hulu Sungai Selatan
  • Infotainment
  • Internasional
  • Jakarta
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Kualanamu
  • Luwu Timur
  • Mandalika
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Pali
  • Palu
  • Papua
  • Pemerintahan
  • Pemuda
  • Pendidikan
  • Pertanian
  • Peternakan
  • Politik
  • Soppeng
  • Tekhnologi
    •   Back
    • Makassar
    • Gowa
    • Maros
    • Takalar
    • Palopo
    • Jeneponto
    • Pangkep
    • Pare-pare
    • IKN
    • Bone
    • Bulukumba
    • Towuti
    • Sidrap
    • Purwakarta
    • Pekanbaru
    • Berau
    • Kolaka Timur
    • Enrekang
    • Serang
    • Tangerang Selatan
    • Bima
    • Nusa Tenggara Timur
    • Kolaka Utara
    • Barru
    • Cibubur
    • Jakarta
    • Luwu Timur
    • Luwu Utara
    • Padang
    • Pinrang
    • Polewali Mandar
    • Toraja
    • Selayar
    • Mamuju
    • Donggala
    • Soppeng
    • Parigi Moutong
    • Yogyakarta
    • Jawa Timur
    • Labuan Bajo
    • Mamasa
    • Kualanamu
    • Bantaeng
    • Ambon
    • Sinjai
    • Bombana
    • Jambi
    • Samarinda
    • Sorong
    • Tegal
    • Kendal
    • Kulon Progo
    • Morowali
    • Blora
    • Tual
    • Gunungkidul
    • Banten
    • Cilacap
    • Jayapura
    • Batam
    • Bantul
    • Sleman
    • Halmahera
    • Banjarnegara
    • Toraja Utara
    • Nabire
    • Bangkalan
    • Solo
    • Lamongan
    • Tangerang
    • Papua
    • Luwu
    • Malili
    • Tanah Bumbu
    •   Back
    • Badan Gizi Nasional
    •   Back
    • Dinas Koperasi Makassar
    •   Back
    • DPRD Kota Makassar
    • Prov Sulawesi Selatan
    • Pemerintah Kota Makassar
    • Pemerintah kabupaten Gowa
    • Dinas Koperasi Makassar
Scroll to Top