OPINI

“Bitcoin adalah mainan”?

ruminews.id – Pada 2 Desember 2021, Purbaya Yudhi Sadewa yg saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan bahwa “Bitcoin hanya mainan dan tidak akan pernah menjadi mata uang dunia.” Ucapannya sontak memicu pro-kontra. Ada yang mengangguk setuju, ada pula yang mencibir keras. Pertanyaannya, benarkah Bitcoin sekadar mainan?

Dari kacamata makroekonomi, Purbaya jelas punya alasan kuat. Harga Bitcoin bisa naik-turun lebih cepat daripada mood orang pas lihat saldo rekening di akhir bulan. Dalam sehari bisa melonjak ribuan dolar, besoknya ambruk tanpa ampun. Bayangkan kalau gaji dibayar dengan Bitcoin… Hari ini bisa beli motor, besok mungkin cuma cukup buat helm. Selain itu, negara butuh mengatur inflasi, suku bunga, dan suplai uang. Kalau semua pakai Bitcoin, instrumen moneter itu hilang. Jadi, klaim bahwa Bitcoin akan menggantikan dolar sebagai mata uang dunia memang sulit dipercaya.

Tapi menyebutnya sekadar “mainan” juga terlalu gegabah. Faktanya, Bitcoin sudah mengubah arah sejarah finansial. Bitcoin melahirkan dunia baru bernama decentralized finance, memicu lahirnya ribuan koin, hingga memaksa bank sentral dunia sibuk merancang mata uang digital (CBDC) agar tak ketinggalan zaman. Bahkan banyak orang memperlakukan Bitcoin bukan sebagai uang belanja, melainkan “emas digital”, tempat menyimpan nilai di luar sistem perbankan tradisional.

Mungkin kebenarannya ada di tengah. Bitcoin bukanlah penyelamat yang akan menggantikan semua mata uang, tapi jelas bukan mainan biasa. Bitcoin adalah eksperimen finansial terbesar di era digital, dengan risiko setinggi tebing, tapi juga dengan potensi yang sudah terbukti mengubah lanskap ekonomi global.

Pada akhirnya, Bitcoin lebih mirip sebuah cermin yg memperlihatkan pada kita betapa rapuh dan sekaligus betapa fleksibelnya konsep “uang” itu sendiri. Seperti kata filsuf, uang hanyalah kesepakatan sosial. Dulu kerang bisa jadi alat tukar, lalu emas, lalu kertas, kini angka digital di layar. Maka pertanyaannya bukan apakah Bitcoin akan jadi mata uang dunia, tapi apakah dunia siap menerima bahwa “uang” tidak pernah sakral, tapi hanyalah simbol kepercayaan.

Dan itulah Bitcoin, entah mainan atau bukan, yg pasti Bitcoin telah memaksa kita berpikir ulang tentang apa arti uang, dan siapa sebenarnya yang berhak mendefinisikannya.

[Erwin]

Share Konten

Opini Lainnya

IMG-20260530-WA0065
Rifqih: Mengabaikan Tuntutan Infrastruktur Adalah Preseden Buruk bagi Bantaeng
WhatsApp Image 2026-05-30 at 18.23
Demokrasi yang Kehilangan Ruang Dialog: Membaca Aksi Demonstrasi Mahasiswa Bantaeng melalui Perspektif  Public Sphere Jurgen Habermas
WhatsApp Image 2026-05-29 at 18.19
Idul Adha di Tengah Banjir: Sampai Kapan Malangke Terus Tenggelam?
7124b243-75b1-459d-9641-728082c655fd
Di Tengah Ambisi Biodisel, Petani Sawit di Mamuju Tengah Kia Tersudut
IMG-20260529-WA0023
Bagaimana Film Pesta Babi dapat Berpengaruh Terhadap Political Engagement Masyarakat
WhatsApp Image 2026-05-29 at 2.00
Kesbangpol Bantul dan Taruhan Hukum di Atas Meja Kompromi
Muzakkir
Deforestasi di Indonesia: Tragedi Lingkungan yang Lahir dari Krisis Moral
WhatsApp Image 2026-05-27 at 11.51
Negara, Massa, dan Doa yang Tertahan di Sewon
IMG-20260528-WA0028
Fomo atau Hanya Menjatuhkan Pihak Lain?
IMG-20260528-WA0003
Kepastian Hukum di Ujung Tanduk: Polemik Eksekusi Cafe Sisi Lain Kian Memanas
Scroll to Top