Pra-KUPI 3 di Ponorogo Jadi Ruang Merawat Gerakan Keulamaan Perempuan

Pra-KUPI 3

Ruminews.id, Ponorogo — Perjalanan menuju Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) III mulai dibangun dari daerah. Salah satunya melalui kegiatan Pra-KUPI 3 yang digelar di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Selasa (8/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menyosialisasikan hasil Halaqah Kubro KUPI 2025 sekaligus membicarakan kembali perjalanan gerakan keulamaan perempuan menuju kongres berikutnya. Forum ini mempertemukan ulama perempuan, akademisi, aktivis, tokoh agama, dan jaringan KUPI secara langsung maupun daring.

Kegiatan dibuka oleh Rektor UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah, dan Ketua Majelis Musyawarah KUPI (MM KUPI), Nyai Hj. Badriyah Fayumi.

Bagi Evi, perjumpaan tersebut memiliki arti tersendiri karena ia telah mengikuti perjalanan KUPI sejak kongres pertama di Pondok Pesantren Kebon Jambu, Cirebon, hingga Kongres KUPI II di Jawa Tengah.

Ketika kampus yang dipimpinnya dipercaya menjadi lokasi sosialisasi hasil Halaqah Kubro KUPI 2025, ia melihatnya sebagai kesempatan untuk mempertemukan dunia perguruan tinggi dengan gagasan dan kerja gerakan keulamaan perempuan.

Evi menilai nilai-nilai yang dibawa KUPI memiliki keterkaitan dengan kerja perguruan tinggi, terutama dalam membangun kehidupan yang menjunjung perdamaian, kesetaraan, kemanusiaan, dan keadilan.

“Semoga UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menjadi bagian dalam mendengungkan perdamaian dan kesetaraan,” kata Evi.

Ia juga mengajak peserta melihat kerja-kerja KUPI sebagai bagian dari ikhtiar yang lebih luas untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Menurutnya, perubahan tidak selalu harus dimulai melalui kerja besar. Ia dapat tumbuh dari ruang-ruang belajar, perjumpaan, dan keterlibatan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Perhatian terhadap lingkungan dan keberlanjutan generasi mendatang juga menjadi bagian dari pandangan tersebut. Apa yang dilakukan masyarakat saat ini, menurut Evi, akan berdampak pada kehidupan generasi berikutnya. Karena itu, upaya membangun kehidupan yang adil dan berkelanjutan perlu terus dirawat.

Dari Ponorogo, Evi juga menyampaikan harapan agar daerah tersebut dapat mengambil bagian lebih jauh dalam perjalanan KUPI. Setelah Kongres KUPI I berlangsung di Cirebon dan KUPI II di Jawa Tengah, ia berharap Ponorogo suatu saat dapat menjadi tempat penyelenggaraan KUPI III, termasuk dengan memanfaatkan lingkungan pesantren di sekitar kampus.

Meski demikian, harapan tersebut masih sebatas gagasan. Keputusan mengenai lokasi KUPI III tetap berada dalam mekanisme Majelis Musyawarah KUPI.

Evi mengajak masyarakat Ponorogo tidak menunggu hingga kongres digelar di daerah tersebut untuk mulai terlibat. Keterlibatan, menurutnya, dapat dimulai dari hal sederhana seperti mengikuti kajian, memahami gagasan yang dibicarakan, kemudian membawanya ke lingkungan masing-masing.

Ia mencontohkan pengalamannya mengikuti kajian Faqihuddin Abdul Kodir secara daring pada Minggu pagi, bahkan ketika sedang melakukan pekerjaan rumah tangga. Pengalaman itu menunjukkan bahwa keterlibatan dalam sebuah gerakan dapat dimulai dari ruang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, salah satu agenda utama Pra-KUPI 3 adalah sosialisasi hasil Halaqah Kubro KUPI 2025 melalui sesi bertajuk “Dari Halaqah Kubro Menuju Kongres KUPI III: Perjalanan Gerakan dan Menyiapkan Penyikapan yang Matang, Membumi, dan Utuh”.

Sesi tersebut menghadirkan Nyai Masruchah, Nyai Nana Chandrakirana, dan Nyai Iklilah Muzayyanah DF. Sosialisasi dilakukan untuk memperkenalkan kembali hasil pembahasan Halaqah Kubro kepada jaringan yang lebih luas sekaligus membuka ruang untuk mendiskusikan dan mengontekstualisasikannya dengan persoalan masyarakat di berbagai daerah.

Selain sosialisasi, Pra-KUPI 3 menghadirkan talk show “Merawat Gerakan di Tengah Zaman yang Berubah: Ulama Perempuan dan Ikhtiar Membangun Kehidupan yang Berdaya Lenting”. Diskusi menghadirkan Prof. Dr. H. Miftahul Huda, M.Ag., Prof. Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, M.Ag., dan Nyai Pera Soparianti, M.Ag., dengan Jay Akhmad sebagai moderator.

Pembahasan tersebut menempatkan perjalanan menuju KUPI III bukan sekadar persiapan menuju sebuah kongres. Ada proses evaluasi terhadap perjalanan gerakan, pembacaan atas perubahan persoalan masyarakat, sekaligus upaya menyiapkan respons yang lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Dalam konteks itu, kampus menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat dan gerakan sosial. Perjumpaan ulama perempuan, akademisi, aktivis, tokoh agama, dan jaringan KUPI di Ponorogo menunjukkan bahwa proses konsolidasi gerakan juga berlangsung melalui ruang-ruang lokal.

Bagi KUPI, hasil Halaqah Kubro 2025 tidak berhenti sebagai dokumen. Gagasan yang dihasilkan perlu terus dibawa ke ruang pendidikan, kajian, komunitas, pesantren, dan kerja sosial agar dapat dibaca kembali sesuai dengan persoalan yang berkembang.

Karena itu, perjalanan menuju KUPI III tidak hanya berlangsung di tingkat pusat. Ia juga dibangun melalui berbagai perjumpaan di daerah, termasuk di kampus dan pesantren.

Ponorogo kini menjadi salah satu ruang dalam proses tersebut. Soal apakah kota ini nantinya menjadi tuan rumah KUPI III masih menunggu keputusan. Namun, melalui Pra-KUPI 3, ruang perjumpaan antara UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dan jaringan KUPI telah terbuka dan mulai diperkuat.

Lebih dari sekadar menuju sebuah kongres, proses ini menjadi bagian dari upaya merawat keberlanjutan gerakan keulamaan perempuan agar tetap mampu membaca perubahan zaman dan menjawab persoalan masyarakat dengan nilai perdamaian, kesetaraan, kemanusiaan, dan keadilan.

Share

Scroll to Top