Seminggu Menyapa TNGC: Belajar dari Kohe, Kembangkan Promosi, hingga Terlibat Penanganan Karhutla

Gunung Ciremai

Ruminews.id, Kuningan — Lima mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memulai Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Pada pekan pertama, 7–12 September 2026, mereka tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga belajar langsung dari masyarakat, pengelola wisata, serta aktivitas konservasi di lapangan.

Selama sepekan, mahasiswa berkesempatan mengenal lebih dekat lingkungan kerja TNGC dan melihat bagaimana pengelolaan kawasan konservasi berjalan berdampingan dengan kehidupan serta potensi masyarakat di sekitarnya.

Salah satu kegiatan yang menjadi fokus adalah digitalisasi promosi pengelolaan kotoran hewan (kohe) serta sosialisasi Kelompok Ternak Palutungan Lembah Ciremai (Palenci) di Lamping Kidang. Kegiatan tersebut berangkat dari potensi yang telah berkembang di kawasan wisata sekaligus kebutuhan untuk memperkenalkan produk dan aktivitas masyarakat melalui media digital.

Lamping Kidang merupakan salah satu destinasi wisata alam di kawasan TNGC. Selain menawarkan suasana pegunungan dan pemandangan alam, kawasan ini menyimpan cerita tentang upaya masyarakat mengatasi persoalan kohe sapi yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan.

Kohe sempat menjadi persoalan bagi masyarakat di tiga kecamatan di wilayah Kuningan. Limbah yang mengalir dan tidak terkelola dengan baik menimbulkan keresahan. Dari persoalan tersebut, masyarakat kemudian mulai mencari cara agar limbah tidak terus menjadi masalah.

Dengan pendampingan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), kohe mulai diolah menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman. Limbah yang sebelumnya dianggap sebagai persoalan kemudian memiliki nilai guna dan menjadi bagian dari pengembangan potensi masyarakat.

Gunung Ciremai
Mahasiswa mengikuti praktik pengolahan kohe. Dok. Pribadi

Proses tersebut kemudian berkembang seiring dengan potensi wisata Lamping Kidang. Keindahan alam kawasan menjadi nilai tambah, sementara pengalaman masyarakat dalam mengelola kohe menjadi bagian dari cerita yang dapat dikembangkan sebagai edukasi lingkungan.

Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa pengembangan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Persoalan yang dihadapi masyarakat dapat menjadi titik awal untuk menemukan potensi baru ketika dikelola secara bersama.

Memasuki pekan pertama PPL, mahasiswa mulai memetakan kebutuhan promosi, khususnya bagaimana pengelolaan kohe dan aktivitas di Lamping Kidang dapat diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas melalui media sosial.

Promosi tidak hanya diarahkan pada produk hasil pengolahan kohe, tetapi juga pada cerita di balik proses tersebut, masyarakat yang terlibat, serta potensi wisata yang dimiliki Lamping Kidang.

Mahasiswa juga mendapat kesempatan mengenal Palenci dan melakukan sosialisasi di kawasan tersebut. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses awal untuk memahami kondisi lapangan dan melihat bagaimana program serta potensi yang ada dapat dikembangkan.

Bagi kelompok PPL, digitalisasi promosi bukan sekadar persoalan membuat konten media sosial. Mereka belajar bahwa promosi perlu berangkat dari pemahaman terhadap kondisi masyarakat dan lingkungan. Cerita, proses pengelolaan, serta potensi lokal perlu dikemas secara tepat agar tidak terlepas dari konteks yang melatarbelakanginya.

Selama berada di TNGC, kegiatan mahasiswa juga tidak terbatas pada program kohe dan Palenci. Mereka mengenal berbagai aktivitas dalam pengelolaan kawasan konservasi, mulai dari perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati hingga wisata alam, edukasi lingkungan, penelitian, serta pemberdayaan masyarakat.

Pengalaman tersebut memperlihatkan kepada mahasiswa bahwa konservasi dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga dapat terlibat dalam menjaga sekaligus mengembangkan potensi di sekitar kawasan.

Pengalaman lain yang menjadi bagian penting dari pekan pertama terjadi pada Jumat, 11 September 2026. Kelompok mahasiswa berkesempatan mengikuti kegiatan lapangan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Pasawahan.

Keterlibatan tersebut memberi mahasiswa gambaran langsung mengenai pentingnya kesiapan, koordinasi, dan kepedulian dalam menghadapi persoalan lingkungan. Bagi mereka, pengalaman lapangan seperti ini menjadi pembelajaran yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh di ruang kelas.

Satu pekan pertama akhirnya menjadi awal perjalanan PPL yang masih panjang. Selain menjalankan program kerja, mahasiswa juga mulai memahami dinamika masyarakat dan pengelolaan kawasan konservasi secara langsung.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Turasih, M.Si., serta dosen pamong lapangan Yoesry Hilmi, S.Hut. Pendampingan juga diberikan oleh Pak Ono selama kegiatan lapangan.

Bagi kelompok mahasiswa, pengalaman selama sepekan menjadi bekal untuk melanjutkan kegiatan PPL sekaligus memperdalam pemahaman mengenai TNGC dan masyarakat di sekitarnya.

Dari persoalan kohe di Lamping Kidang, pengembangan promosi digital, hingga keterlibatan dalam penanganan karhutla, pekan pertama PPL menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bahwa pengembangan masyarakat, konservasi, dan persoalan lingkungan saling berkaitan.

Perjalanan tersebut masih akan terus berlanjut. Masih ada hal yang perlu dipelajari, potensi yang perlu dikembangkan, dan pengalaman lapangan yang akan menjadi bagian dari proses belajar mahasiswa selama menjalani PPL di TNGC.

Share

Scroll to Top