Ruminews.id, Jakarta — Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pesan duka sekaligus belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Pesan duka tersebut tidak hanya disampaikan kepada Pemerintah Republik Islam Iran melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta, tetapi juga disiarkan oleh televisi nasional Iran, Channel One, dengan subtitle berbahasa Persia.
Informasi tersebut disampaikan Kedutaan Besar Iran di Indonesia melalui akun resminya di platform X pada Selasa (7/7). Dalam tayangan berdurasi sekitar lima menit itu, Megawati menyebut wafatnya Khamenei sebagai kehilangan besar, tidak hanya bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi mereka yang memperjuangkan keadilan, kedaulatan bangsa, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Megawati menggambarkan Khamenei sebagai sosok patriotik yang teguh memegang prinsip serta tidak pernah menyerah dalam memperjuangkan bangsanya.
“Bagi saya pribadi, sosok Ayatollah Ali Khamenei bukan sekadar pemimpin politik atau tokoh agama dari bangsa Iran yang dikenal sangat patriotik dan tidak pernah mengenal kata menyerah,” ujar Megawati dalam pesan tersebut.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya melihat semangat perjuangan Presiden pertama RI, Soekarno, dalam diri Khamenei. Menurut Megawati, sejak usia muda Khamenei telah mengenal dan mengagumi pidato maupun pemikiran Bung Karno.
Megawati menilai pemikiran tersebut turut memengaruhi cara Khamenei membangun visi Iran yang memadukan nilai agama, nasionalisme, dan keadilan sosial, sekaligus mengusung cita-cita dunia yang bebas dari imperialisme dan kolonialisme.
Selain menyampaikan penghormatan terhadap pemikiran Khamenei, Megawati mengenang pertemuannya dengan pemimpin Iran tersebut saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Teheran pada 2004 ketika masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Menurut Megawati, dalam pertemuan itu Khamenei pernah menyampaikan bahwa Pancasila serta semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung menjadi salah satu referensi penting dalam membangun visi Iran sebagai negara yang merdeka dan bermartabat.
Ia menilai hal tersebut menunjukkan adanya kedekatan historis antara Indonesia dan Iran sebagai bangsa yang sama-sama memiliki pengalaman melawan kolonialisme dan intervensi asing.
Pada bagian akhir pesannya, Megawati kembali menyerukan penyelesaian berbagai konflik melalui jalur damai, dialog yang adil, penghormatan terhadap hukum internasional, serta nilai-nilai kemanusiaan.
Ia juga mendoakan agar Tuhan menerima seluruh amal perjuangan Khamenei, mengampuni segala kekhilafannya, serta memberikan kekuatan dan persatuan kepada rakyat Iran dalam menghadapi masa berkabung.
“Selamat jalan saudaraku yang mulia Ayatollah Ali Khamenei. Kami melepas kepergianmu dengan doa, rasa hormat, dan persaudaraan yang tak akan lekang oleh waktu,” ucap Megawati sebelum menutup pesannya dengan salam dan pekikan “Merdeka”.
Ucapan duka tersebut disampaikan di tengah rangkaian prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei yang berlangsung sejak 4 Juli 2026. Jenazah Khamenei dibawa melewati sejumlah kota di Iran dan Irak sebelum dijadwalkan dimakamkan di kompleks suci Imam Reza di Kota Mashhad pada 9 Juli.
Prosesi tersebut dihadiri jutaan pelayat serta delegasi dari berbagai negara. Pemerintah Indonesia juga dijadwalkan mengirim Menteri Luar Negeri Sugiono dan Ketua MPR Ahmad Muzani untuk menghadiri pemakaman Khamenei di Iran.