ruminews.id, TEHERAN – Tentara Pertahanan Israel (IDF) melancarkan serangan mendadak ke wilayah Iran pada Sabtu pagi waktu setempat. Media pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan terdengar di ibu kota, Teheran, yang memicu kepanikan dan peningkatan status siaga nasional.
Mengutip laporan dari The Jerusalem Post, IDF mengirimkan peringatan nasional kepada seluruh warga Israel untuk tetap berada di dekat area perlindungan. Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut langkah tersebut sebagai “peringatan proaktif untuk mempersiapkan masyarakat terhadap kemungkinan peluncuran rudal ke arah Negara Israel.”
Sumber keamanan Israel juga mengonfirmasi kepada media setempat bahwa Amerika Serikat turut terlibat dalam operasi militer tersebut. Keterlibatan Washington memperlihatkan koordinasi strategis antara Israel dan sekutu utamanya di tengah meningkatnya eskalasi kawasan.
Sementara itu, kantor berita Reuters melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak berada di Teheran saat serangan berlangsung dan telah dipindahkan ke lokasi yang disebut sebagai “tempat aman.” Informasi ini dikonfirmasi oleh seorang pejabat Iran di tengah situasi yang terus berkembang.
Media Iran menyebutkan bahwa serangan tersebut menargetkan Direktorat Intelijen IRGC (Korps Garda Revolusi Islam) serta sejumlah titik di pusat kota Teheran. Sebagai respons cepat, otoritas Iran menutup wilayah udaranya untuk seluruh penerbangan guna mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan.
Seorang pejabat keamanan Israel mengungkapkan bahwa operasi yang diberi nama “Perisai Yehuda” itu telah direncanakan selama berbulan-bulan, dengan waktu pelaksanaan yang ditetapkan beberapa pekan lalu. Operasi tersebut disebut bertujuan untuk “menghilangkan ancaman terhadap garis depan Israel,” dengan fokus utama pada peluncur rudal dan pangkalan pesawat tanpa awak milik Iran. Hingga laporan ini disusun, belum ada konfirmasi mengenai peluncuran rudal balasan dari Iran ke wilayah Israel.
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran ini diperkirakan akan semakin memperuncing ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut berpotensi memicu eskalasi konflik regional yang lebih luas, mengingat peran strategis Iran dalam poros perlawanan kawasan serta keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam operasi militer kali ini.
Pengamat menilai, dinamika terbaru ini dapat berdampak pada stabilitas keamanan regional, termasuk jalur energi global dan hubungan diplomatik antarnegara di Timur Tengah yang selama ini berada dalam situasi rapuh.